الله الرحمن الرحيم
semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, sahabatnya, dan
orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Asma’ul Husna, semoga Allah menjadikannya ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma
aamiin.
فِي أَسْمَاءِ اللهِ تَعَالَى هُوَ الْمَيْلُ بِهَا عَمَّا يَجِبُ فِيْهَا: وَهُوَ
أَنْوَاعٌ :
مِنَ الصِّفَاتِ وَالْأَحْكَامِ
صِفَاتَ الْمَخْلُوْقِيْـنَ
اللهُ تَعَالَى بِمَا لَمْ يُسَمِّ بِهِ نَفْسَهُ
dalam nama-nama Allah Ta’ala maksudnya adalah menyimpang dari yang seharusnya
dilakukan, ia terbagi menjadi beberapa macam:
mengingkari salah satu nama-nama Allah atau sifat[1]
dan hukum[2]
yang ditunjukkan olehnya.
nama-nama itu menunjukkan sifat yang serupa dengan makhluk.
Allah Ta’ala dengan nama yang tidak diberikan Allah Ta’ala kepada Diri-Nya.
dari nama-nama Allah Ta’ala beberapa nama untuk berhala[3].”
dilakukan oleh ahlut ta’thil dari kalangan Jahmiyyah dan lainnya.
yang ditunjukkan dikatakan sebagai ilhad (penyimpangan), karena kita diwajibkan
beriman kepadanya dan beriman kepada hukum atau sifat yang layak bagi Allah
Ta’ala yang ditunjukkan dari nama-nama tersebut. Oleh karena itu,
mengingkarinya merupakan penyimpangan.
oleh kaum musyabbihah (yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk). Hal
itu, karena tasybih (serupa) merupakan kandungan batil yang tidak mungkin
ditunjukkan oleh nash-nash, bahkan nash-nash yang datang malah membatalkannya.
Dengan demikian menyerupakan sifat Allah Ta’ala dengan sifat makhluk-Nya
merupakan penyimpangan.
dengan nama yang Allah tidak menamai Diri-Nya dengan nama itu. Seperti yang
dilakukan oleh orang-orang Nasrani yang menamai Allah Ta’ala dengan nama
“Bapak” atau yang dilakukan oleh ahli filsafat yang menamai Allah
Ta’ala dengan nama “Illat faa’ilah” (sebab yang memiliki pengaruh). Hal
itu, karena nama-nama Allah Ta’ala tauqifiyyah (menunggu dalil). Oleh karena
itu, menamai Allah Ta’ala dengan nama yang dibuat mereka (orang-orang Nasrani
dan Ahli Filsafat) merupakan sebuah kebatilan.
dari nama-nama Allah tersebut beberapa nama untuk berhala seperti yang
dilakukan oleh orang-orang musyrik, dimana mereka memberi nama berhala mereka
Uzza dari kata Al Aziiz dan Laata dari kata Al Ilaah.
(penyimpangan) dan hukumnya haram. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Hanya
milik Allah Asmaa-ul husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul
husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam
(menyebut) nama-nama-Nya[4].
nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka
kerjakan.” (Terj. QS. Al A’raaf: 180)
Ta’ala?
yang khusus bagi Allah Ta’ala saja, di mana tidak boleh menamai makhluk dengannya.
Contohnya: Allah, Ar Rahmaan, Al Khaaliq (yang mencipta), Al Baari’ (Yang
mencipta sesuatu tanpa cacat) dan Al Qayyum (yang mengurus makhluk-Nya
sendiri). Nama-nama ini tidak menerima adanya syarikah (keikutsertaan yang
lain).
Dalam hal ini ada perincian sbb.:
seseorang menamai orang lain dengan nama-nama tersebut[5]
ada niat dalam hatinya karena sama sifat orang itu dengan sifat dari nama Allah
tersebut, maka tidak boleh, baik diawali dengan kata “Al”
(menunjukkan ma’rifat) maupun tidak.
tidak ada niat dalam hatinya sifat dari nama tersebut, maka boleh meskipun
diawali dengan “Al”.
كُلُّهَا صِفَاتُ كَمَالٍ لاَ نَقْصَ فِيْهَا بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوْهِ
Allah semuanya adalah sifat sempurna yang tidak ada kekurangan dari berbagai
sisi.”
itu misalnya sifat hayat (hidup), ilmu (mengetahui), qudrah (mampu), sam’ (mendengar),
bashar (melihat), rahmah (sayang), ‘izzah (perkasa), hikmah (bijaksana), ‘uluw
(tinggi), ‘azhamah (agung) dsb.
oleh dalil sam’i (wahyu), ‘aqli (akal) maupun fitrah.
sam’inya adalah firman Allah Ta’ala:
kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi;
dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Terj. QS. An Nahl:
60)
pasti memiliki sifat, baik sifat tersebut sempurna maupun memiliki kekurangan.
Namun tidak mungkin bagi Allah Ta’ala memiliki sifat kekurangan. Oleh karena
itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyatakan batilnya penyembahan kepada berhala
atau lainnya selain Allah Ta’ala, karena mereka semua memiliki kekurangan.
Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:
Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedangkan berhala-berhala itu
(sendiri) dibuat orang.–(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan
berhala-berhala tidak mengetahui kapankah penyembah-penyembahnya akan
dibangkitkan.” (Terj. QS. An Nahl: 20-21)
ciptaan Allah ada yang memiliki sifat sempurna, yang demikian merupakan
pemberian dari Allah Ta’ala. Jika sifat seperti itu pada makhluk, maka yang
memberikan sifat sempurna itu, yaitu Allah Ta’ala tentu lebih sempurna lagi.
di atas fitrah mencintai Allah, mengagungkan-Nya dan menyembah kepada-Nya. Oleh
karena itu, mereka merasakan bahwa yang disembah, dicintai dan diagungkan
adalah Allah yang memiliki sifat sempurna yang layak bagi-Nya.
Allah Ta’ala seperti mati, bodoh, lupa, lemah, buta, tuli dsb. Allah Ta’ala
berfirman tentang Diri-Nya:
disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus
(makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di
langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa
izin-Nya? Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka,
dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.
Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara
keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Terj. QS. Al Baqarah:
255)
orang-orang yang menyifati Allah Ta’ala dengan sifat kekurangan, firman-Nya:
Allah terbelenggu,” sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan
merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak
demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana
Dia kehendaki.”(Terj.
QS. Al Maa’idah: 64)
dari segala sifat kekurangan, firman-Nya:
Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan.” (Ash
Shaaffaat: 180)
sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan
beserta-Nya, tentu masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang
diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang
lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,” (Terj. QS. Al
Mu’minuun: 91)
sifat sempurna dan pada keadaan lain merupakan sifat kekurangan, maka tidak
boleh menetapkan untuk Allah Ta’ala secara mutlak dan tidak pula dinafikan
secara mutlak. Bahkan dalam hal ini perlu ada perincian, bisa ditetapkan untuk
Allah Ta’ala dalam keadaan yang menjadikan sifat itu sebagai sifat sempurna dan
bisa dinafikan dalam keadaan yang menjadikan sifat tersebut jika dimiliki
sebagai sifat kekurangan. Contoh dalam masalah ini adalah sifat makar, kaid
(tipu daya), khudaa’ (menipu) dsb. Sifat-sifat tersebut menjadi sifat sempurna
dalam keadaan “jika menghadapi orang-orang yang melakukan perbuatan
seperti itu”, karena yang demikian menunjukkan bahwa yang memilikinya juga
memiliki kemampuan untuk membalas musuhnya dengan melakukan tindakan yang sama
atau lebih, dan sifat tersebut tentu akan menjadi sifat kekurangan dalam
keadaan selain ini. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidak
menyebutkan sifat-sifat tersebut secara mutlak, bahkan disebutkan untuk
menghadapi orang-orang yang seperti itu, firman-Nya:
memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah
Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Terj. QS. Al Anfaal: 30)
orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan
mereka.” (Terj.
QS. An NIsaa’: 142)
bahwa Diri-Nya akan mengkhianati orang-orang yang berkhianat kepada-Nya,
firman-Nya:
tetapi jika mereka (tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, maka
sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah
menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka. Dan Allah Maha mengetahui lagi Mahabijaksana.”
(Terj.
QS. Al Anfaal: 71)
Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka.” Dan tidak berfirman
“Lalu Allah mengkhianati mereka.” Hal itu karena khianat
merupakan tipuan ketika sedang dipercaya, ia merupakan sifat tercela secara
mutlak. Dari sini kita mengetahui mungkarnya perkataan sebagian orang awam
“Allah akan mengkhianati orang-orang yang berkhianat kepada-Nya.”
Asmaa’illahi wa shifaatihil ‘Ula karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al
‘Utsaimin.
mengingkari sifat dari nama-nama itu seperti yang dilakukan oleh kaum
Mu’tazilah, di mana mereka berkata, “Allah adalah ‘aliim bilaa ‘ilm,”
(mengetahui tanpa adanya pengetahuan). Mahasuci Allah Ta’ala dari yang
demikian.
(bekas) atau konsekwensi dari nama yang muta’addiy (memiliki objek) sebagaimana
diterangkan dalam kaedah ketiga. Contoh dalam hukum (atsar dan konsekwensinya)
adalah seperti yang dilakukan oleh kaum Mu’tazilah yang menetapkan nama bagi
Allah Ta’ala, namun mengingkari sifat, mereka menetapkan atsar dari nama itu
seperti “Allah Mengetahui” namun mereka tidak menetapkan sifat ilmu
(mengetahui) bagi Allah Ta’ala.
menyembah Allah dengan nama-nama yang tidak sesuai dengan sifat-sifat dan
keagungan Allah, atau dengan memakai asmaa-ul husna, tetapi dengan maksud
menodai nama Allah atau mempergunakan Asmaa-ul husna untuk nama-nama selain
Allah.
sertaan).






































