الله الرحمن الرحيم
shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para
sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat. Amma ba’du:
kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala hukumnya fardhu kifayah kapan dan di mana saja. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang
ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang
beruntung.” (Terj. QS. Ali Imran: 104)
fardhu kifayah; apabila sudah ada yang melakukannya maka yang lain tidak
terkena kewajiban itu, dan dakwah bagi yang lain hukumnya menjadi sunnat
mu’akkadah (sangat ditekankan) serta sebagai amal saleh yang mulia.”
Lingkupnya
utama dan besar pahalanya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang
saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah
diri?” (Terj. QS. Fushshilat: 33)
“Ini merupakan pertanyaan yang mengandung penafian yang tetap, yaitu tidak
ada seorang pun yang lebih baik perkataannya; maksudnya ucapan, jalan dan
keadaannya, dibanding orang yang mengajak manusia kepada Allah, dengan
mengajarkan orang yang tidak tahu, menasehati orang yang lalai dan berpaling,
mendebat orang yang batil dengan menyuruh beribadah kepada Allah dengan
berbagai macamnya, mendorong untuk itu serta memperbaiki ibadah tersebut sesuai
kemampuan, dan melarang orang lain dari mengerjakan larangan Allah, memunjukkan
keburukan perbuatan tersebut dengan berbagai cara agar dapat ditinggalkan. Yang
lebih khusus lagi adalah mengajak manusia ke dalam agama Islam, memperbaiki
citranya dan membantah musuh-musuh Islam dengan cara yang baik, melarang
kebalikannya berupa perbuatan kufur dan syirk, beramr ma’ruf dan bernahi
munkar. Termasuk berdakwah kepada Allah adalah membuat manusia mencintai Allah
dengan menyebutkan secara rinci nikmat-nikmat-Nya, kepemurahan-Nya yang luas
dan rahmat-Nya yang lengkap serta menyebutkan sifat-sifat sempurna-Nya dan
sifat-sifat agung-Nya. Termasuk berdakwah kepada Allah adalah mendorong manusia
mengambil ilmu dan petunjuk dari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, mendorong
kepadanya dengan berbagai cara yang bisa mengantarkan kepadanya. Termasuk pula
mendorong berakhlak mulia, berbuat baik kepada manusia secara umum, membalas
keburukan dengan kebaikan, memerintahkan bersilaturrahim dan berbakti kepada
kedua orang tua. Termasuk pula memberi nasihat kepada manusia secara umum pada
waktu-waktu tertentu, pada momen-momen tertentu dan saat datang musibah sambil
menyesuaikan dengan keadaan, dan lain sebagainya yang tidak mungkin disebutkan
satu persatu, di mana hal tersebut termasuk ke dalam mengajak kepada kebaikan
di samping memperingatkan terhadap semua keburukan.” (Lihat Taisirul
Karimir Rahman pada tafsir surat Fushsilat ayat 33).
wa sallam juga bersabda menerangkan keutamaan orang yang berdakwah:
دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ
يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ
عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ
آثَامِهِمْ شَيْئًا
siapa yang menunjukkan kepada petunjuk, maka ia akan memperoleh pahala seperti
pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka,
dan barang siapa yang menunjukkan kepada kesesatan, maka ia akan menanggung
dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun dari
dosa-dosa mereka. “ (HR. Muslim)
bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
kamu itu lebih baik daripada kamu mendapatkan unta merah.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
berharga orang Arab pada waktu itu.
dakwah seseorang akan memperoleh martabat yang tinggi, Syaikh As Sa’diy
rahimahullah berkata, “Dan tingkatan ini –yakni tingkatan dakwah- sempurnanya
adalah untuk para shiddiqin (orang-orang yang benar imannya), di mana mereka
beramal untuk menyempurnakan diri mereka dan menyempurnakan orang lain, dan
mereka mendapatkan warisan yang sempurna dari para rasul.”
ilallah adalah kedudukan yang paling mulia bagi seorang hamba, paling besar
dan paling utama.”
(secara garis besar) dan ada yang mufashshalah (secara terperinci). Dakwah yang
mujmalah dapat dilakukan oleh seorang muslim yang mengerti ajaran Islam secara
garis besar, seperti dakwahnya kepada non muslim dengan diberitahukan kepadanya
ajaran Islam secara garis besar. Contoh ajaran Islam secara garis besar adalah
perintah Allah di ayat ini:
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. dan berbuat baiklah kepada dua orang
ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang
dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil (musafir yang
kehabisan bekal) dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (Terj. QS. An NIsaa’:
36)
yang dilakukan ulama yang mengerti ajaran Islam secara terperinci. Seorang
muslim yang tidak mengerti ajaran Islam secara terperinci dapat mengajak
mad’unya (orang yang didakwahi) kepada ulama yang mengerti ajaran Islam secara
terperinci.
dakwah yang dilakukan seorang muslim sesuai dengan kemampuannya.
seorang da’i (juru dakwah) dalam berdakwah adalah sebagai berikut:
1. Memiliki ilmu
dan mengamalkannya
sebelum berdakwah, seseorang harus memiliki ilmu dan mengamalkan
ilmu tersebut. Demikianlah keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; di
mana Beliau diutus Allah di atas hudaa (ilmu) dan diinul haq (amal saleh),
Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:
yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia
memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (Terj.
QS. Ash Shaff: 9)
ilmu kemudian amal adalah manhaj (jalan yang ditempuh) oleh para nabi dalam
berdakwah, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:
“Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak
termasuk orang-orang yang musyrik.” (Terj. QS. Yusuf: 108)
atau hujjah yang nyata di sini adalah ilmu yang yakin; yang tidak disusupi syubhat
dan keraguan, ilmu ini tegak di atas dalil naqli (Al Qur’an dan As Sunnah). Oleh
karena itu, hendaknya seorang da’i benar-benar paham dan yakin dengan ilmu yang
diketahuinya serta mengamalkannya.
antara ulama ada yang menafsirkan bashirah di ayat tersebut dengan memiliki
ilmu terhadap tiga perkara:
terhadap dakwah yang diserukannya.
karena itu, seorang da’i tidak berbicara kecuali jika diketahuinya bahwa hal
itu benar, atau menurut perkiraannya yang kuat bahwa seruannya benar, jika memang
yang diserukan itu masih dalam perkiraan. Adapun jika ia berdakwah di atas
kejahilan, maka kerusakan yang diakibatkan masih jauh lebih besar daripada
perbaikan yang dilakukannya.
kondisi mad’u (orang yang didakwahi).
uslub (cara) berdakwah.
kondisi mad’u dimaksudkan agar para da’i dapat memposisikan manusia pada
tempatnya. Tidak mungkin seorang da’i menyamaratakan antara berdakwah kepada
orang yang masih awam sama sekali dengan yang sudah mengetahui, namun tetap berpaling.
Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Dan janganlah
kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik,
kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka[i],
dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan
kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu;
dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” (Terj. QS. Al ‘Ankabut: 46)
orang-orang yang zalim, maka kita tidak
membantah dengan cara sama dengan yang lain, bahkan membantah mereka dengan
cara yang layak bagi mereka.
juga seorang da’i harus mengetauhui uslub (cara) berdakwah. Apakah dalam
berdakwah ia menampakkan kekerasan dan kemarahan serta mengkritik langsung
aliran yang mereka ikuti ataukah dalam berdakwah kepada manusia ia menampakkan
kelembutan serta menghias seruannya agar mereka mau menyambutnya tanpa perlu
menyudutkan langsung aliran mereka? Perhatikanlah firman Allah Subhaanahu wa
Ta’aala kepada Nabi-Nya dan sekaligus kepada hamba-hamba-Nya, “Dan
janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena
mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. ”
(Terj. QS. Al An’am: 108)
semua mengetahui, bahwa memaki sesembahan kaum musyrik adalah perkara yang
diperintahkan, karena memang penyembahan kepada mereka adalah hal yang batil,
sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Yang demikian itu adalah karena
Sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang
mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah,
Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Terj. QS. Al Haj: 62)
hal yang batil dan menerangkan kebatilannya di tengah-tengah manusia adalah
perkara yang diperintahkan. Akan tetapi, apabila yang demikian dapat
menimbulkan mafsadat yang lebih besar, padahal masih ada cara lain untuk
menyingkirkan kebatilan itu maka memaki sesembahan tersebut dilarang.
hal ini, apabila seorang da’i melihat orang lain berada di atas kebatilan,
namun orang itu menyangka dirinya benar, maka bukan termasuk cara dakwah yang
diajarkan Allah kepada Rasul-Nya mengkritik langsung apa yang dipegangnya itu,
karena yang demikian dapat membuatnya menjauh, bahkan terkadang membuatnya
mengkritik kebenaran yang ada pada da’i tersebut. Cara yang benar adalah
menerangkan kebenaran dan menjelaskannya, karena kebanyakan manusia –terutama
kaum muqallid (yang ikut-ikutan)– tertimpa kesamaran terhadap kebenaran
disebabkan hawa nafsu yang dominan dan taqlid (ikut-ikutan). Kita yakin, bahwa
kebenaran akan diterima oleh fitrah yang masih selamat, dan lambat laun
kebenaran ini akan mewarnai pikirannya dan membekas di hatinya. Kita tidak
mengatakan bahwa pengaruhnya segera, karena merubah hati manusia tidak semudah
membalikan tangan, bahkan biasanya pengaruhnya akan tampak setelah beberapa
lama.
samping hal di atas, seorang da’i harus sudah mengamalkan ilmunya. Janganlah ia
seperti lilin yang menerangi sekitarnya namun dirinya habis terbakar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْخَيْرَ وَ يَنْسَى نَفْسَهُ مَثَلُ الْفَتِيْلَةِ تُضِيء ُلِلنَّاسِ وَ
تُحَرِّقُ نَفْسَهَا
orang yang mengajar kebaikan kepada manusia, namun ia melupakan dirinya sendiri
adalah seperti sebuah sumbu, ia menerangi manusia sedangkan dirinya sendiri
terbakar.” (HR. Thabrani dari Abu Barzah dan Jundab, dishahihkan oleh Syaikh Al
Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 5837)
shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man
waalaah.
Maraaji’: Zaadu Daa’iyah (Syaikh Ibnu
‘Utsaimin), Silsilah Ta’limil Lughatil ‘Arabiyyah (mustawa 4 tentang
Uslub dakwah), Ta’aawunud du’aat (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin), Ad Da’wah
Ilallah (Syaikh Ibnu Baaz), Taisirul Karimir Rahman (Syaikh
Abdurrahman As Sa’diy), Tafsir Al ‘Usyril Akhir wayaliih ahkaam tahummul
muslim, Maktabah Syaamilah, Mausu’ah Haditsiyyah Mushaghgharah, dll.
setelah diberikan kepadanya keterangan dan penjelasan dengan cara yang sangat
baik, tetapi mereka tetap membantah dan membangkang serta tetap menyatakan
permusuhan.




































