الله الرحمن الرحيم
Jalan Menuju Surga
Tujuan yang diharapkan dari seorang hamba adalah agar dia
beribadah kepada Allah, mengenal-Nya, mencintai-Nya, kembali kepada-Nya dan istiqamah
di atasnya serta menempuh jalan yang mengarah kepada kenikmatan (surga). Namun
jika kita melihat kebanyakan manusia, mereka dikuasai oleh hawa nafsu dan
syahwatnya, sehingga tidak lagi memiliki perhatian terhadap tujuan tersebut,
bahkan berpaling darinya, meninggalkannya dan tidak ada keinginan untuk
mengejar hal yang telah luput daripadanya. Tidak ada yang sadar dari musibah
ini, selain sedikit di antara mereka yang berakal. Mereka sadar, bahwa kerugian
yang sesungguhnya adalah ketika sibuk dalam hal yang tidak bermanfaat baik di
akhirat maupun dunianya. Mereka pun memilih arah kesempurnaan daripada
kekurangan, mereka rela menjual yang fana agar mendapatkan yang kekal. Mereka
siap memikul beban sehingga beban itu terasa nikmat, dengan begitu mereka
menjadi orang-orang yang mulia. Sifat-sifat mereka yang sadar ini tercantum dalam
sebuah manzhuumah (sya’ir) yang disusun oleh Syaikh Abdurrahman As Sa’diy
berikut, maka perhatikanlah dan mintalah kepada Allah agar anda memiliki
sifat-sifat itu:
سُبُلَ الرَّدَى -وَتَيَمَّمُوْا لِمَنَازِلِ الرِّضْوَانِ
مَشْيِهِمْ -مُتَشَرِّعِيْنَ بِشِرْعَةِ الْإِيْمَانِ
بَنَوْامَنَاِزلَ سَيْرِهِمْ-بَيْنَ الرَّجَاءِ وَالْخَوْفِ لِلدَّيَّانِ
قُلُوْبَهُمْ- بِوِدَادِهِ وَمَحَبَّةِ الرَّحْمَنِ
مِنْ ذِكْرِهِ-فِى السِّرِّ وَالْإِعْلاَنِ وَالْأَحْيَانِ
بِفِعْلِهِمْ-طَاعَاتِهُ وَالتَّرْكِ لِلْعِصْيَانِ
kebinasaan
khauf (cemas) kepada Allah Pemberi keputusan.
Rahman.
setiap keadaan.
dan menjauhi kemaksiatan.
ia adalah jalan setan. Contohnya adalah syirk (menyekutukan Allah), meninggalkan
shalat, durhaka kepada orang tua, enggan membayar zakat, meninggalkan puasa
Ramadhan, memakan harta anak yatim, memakan riba, membunuh, berzina, bersumpah
palsu, khianat dsb. Sedangkan tempat-tempat keridhaan adalah kebalikannya,
yaitu ketakwaan yang akan mengarah kepada kebahagiaan (surga).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keduanya adalah syarat diterimanya
ibadah.
khauf, maksudnya dalam beribadah mereka memiliki
rasa raja’ (berharap); yakni berharap agar ibadah mereka diterima dan merasa
khawatir jika tidak diterima. Ketika mereka melihat diri mereka kurang memenuhi
hak Allah, timbul rasa khawatir di hati mereka, dan ketika mereka melihat
nikmat dan karunia Allah, timbul rasa raja’ (berharap) di hati mereka.
menggapai ridha-Nya dengan beramal shalih. Ada beberapa sebab agar dicintai Allah, di antaranya
adalah membaca Al Qur’an dengan mentadabburi dan memahami maknanya, mendekatkan
diri kepada Allah dengan melakukan amalan sunnah setelah amalan wajib,
senantiasa berdzikr kepada Allah, mendahulukan yang Allah cintai apabila
dihadapkan dua hal yang dicintainya, mempelajari nama Allah dan sifat-Nya,
memperhatikan nikmat Allah baik yang tampak maupun tersembunyi serta
memperhatikan pemberian-Nya kepada kita agar membantu kita bersyukur, pasrah
kepada Allah dan menampakkan sikap butuh kepada-Nya, qiyamullail di sepertiga
malam terakhir dengan disudahi istighfar dan taubat, duduk bersama orang-orang
shalih yang cinta karena Allah serta mengambil nasehat dari mereka dan menjauhi
sebab yang menghalangi hati dari mengingat Allah.
setiap keadaan, yakni
dengan banyak berdzikr.
وَالنَّوَافِلُ دَأْبُهُمْ-مَعَ رُؤْيَةِ التَّقْصِيْرِ وَالنُّقْصَانِ
عَلَىالْمَكَارِهِ كُلِّهَا-شَوْقًااِلىَ مَا فِيْهِ مِنْ اِحْسَانٍ
فَهُمْ بِهَا-قَدْ اَصْبَحُوْا فِي جُنَّةٍ وَاَمَانٍ
اَوْلَىالْخَلاَئِقِ فَضْلَهُ-بِالْقَلْبِ وَاْلأَقْوَالِ وَالْأَرْكَانِ
جُهْدٍفىِرِضَى الرَّحْمَنِ
اعْتِقَادِ حُضُوْرِهِ-فَتَبَوَّؤُوْا فِي مَنْزِلِ الْإِحْسَانِ
merasakan kekurangan.
mencapai sikap ihsan
dalam perisai dan keamanan
keutamaannya (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) baik dengan hati,
kata-kata maupun tindakan
usaha untuk mencapai keridhaan Ar Rahman.
sehingga mereka mencapai derajat ihsan.
merasakan kekurangan,
kekurangan, sehingga dapat menghindarkan diri dari rasa malas dan dapat
menghindarkan sifat ‘ujub (bangga diri) yang dapat merusak dan membatalkan
amalan.
mereka sabar meninggalkan kemaksiatan dan mereka sabar terhadap taqdir buruk
yang menimpa mereka dengan tidak keluh kesah.
dalam perisai dan keamanan
dirinya dengan adanya pertentangan batin, namun jika sudah ridha, maka
pertentangan batin itu luluh dan hilang. Dengan sikap ridha hidup terasa nikmat
dan terasa sejuk dipandang mata. Oleh karena itu, ridha dinamakan juga “Perisai
dunia dan tempat beritirahat para ahli ibadah”. Hakikat ridha adalah kamu
menghadapi ketetapan-ketetapan Allah baik yang syar’i (dalam agama-Nya) maupun
yang kauni (di alam semesta) dengan dada yang lapang, jiwa yang senang, tanpa
benci dan keluh kesah.
usaha untuk mencapai keridhaan Ar Rahman
kesempurnaan. Hakikat tawakkal adalah seseorang bersandar kepada Allah dan
yakin kepada-Nya dalam mencapai suatu manfaat baik berkaitan dengan agama
maupun dunia dan berusaha menjalani sebab-sebabnya. Sehingga, ketika seseorang
berniat mengerjakan ibadah, ia berusaha menyempurnakan dan memperbaikinya, lalu
beralih kepada Allah, mengharap kepada-Nya agar dibantu menyempurnakan
kekurangannya, dengan husnuzh zhan (bersangka baik) bahwa apa yang
diharapkannya akan tercapai.
kepada Allah, namun tidak dibarengi usaha. Dan bukanlah termasuk tawwakkal,
jika seseorang berusaha menggapai manfaat, namun bersandar kepada dirinya,
tidak kepada Allah.
sehingga mereka mencapai derajat ihsan
tentang ihsan, yaitu:
تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, maka ketahuilah bahwa Dia
melihatmu.” (HR. Muslim)
seseorang butuh tahapan sedikit demi sedikit sehingga nantinya menjadi
terbiasa. Dengan ihsan seorang hamba akan merasakan kenikmatan dan rasa senang
ketika dekat dengan Tuhannya.
وَالْإِرْشَادِ وَالْإِحْسَانِ
بِالْجُسُوْمِ-وَاِنَّمَاأَرْوَاحُهُمْ فِى مَنْزِلٍ فَوْقَانِي
الْخَلاَئِقَ وَالْمَشَاهِدَكُلَّهَا–خَوْفًاعَلَىالْإِيْمَانِ
مِنْ نُقْصَانٍ
الشَّوَاغِلِ كُلِّهَا-قَدْ فَرَّغُوْا مِنْ سِوَى الرَّحْمَنِ
وَعُزُوْمُهُمْ- ِللهِ لاَلِلْخَلْقِ وَالشَّيْطَانِ
السُّبُلِ الَّتِي-تُفْضِي اِلَى الْخَيْرَاتِ وَاْلِإحْسَانِ
kecintaan Allah dengan ilmu, bimbingan dan kebijaksanaan.
sebenarnya berada di atas tingkatan
lantaran khawatir terhadap lemahnya iman.
beribadah kepada Ar Rahman.
dan setan.
kepada kebaikan dan kebahagiaan.
kecintaan Allah dengan ilmu, bimbingan dan kebijaksanaan,
baik dan mulia. Mereka tampakkan rasa cinta dan keinginan agar orang lain
mendapatkan kebaikan seperti dirinya. Sehingga mereka berusaha semampu mungkin
menghilangkan keburukan yang menimpa mereka, serta berusaha memberikan hal yang
bermanfaat semampunya. Mereka beramr ma’ruf dan bernahy mungkar, berdakwah dan
menasehati mereka, memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang
tidak memilikinya, membantu orang yang kesusahan dan membutuhkan bantuan,
mengajarkan orang yang tidak tahu, menghentikan kezhaliman yang dilakukan
seseorang dan membela orang yang dizhalimi, siap menerima gangguan dari orang
lain dan menahan diri dari mengganggu orang lain. Mereka bersungguh-sungguh
dalam beribadah kepada Allah dibarengi berbuat baik kepada sesama.
lantaran khawatir terhadap lemahnya iman
dirinya, melihat kekurangan pada dirinya. Ia pun berusaha menutupinya dengan
beramal shalih, setelah itu menjaganya dari segala yang membatalkan amalan.
Karena menjaga amal lebih berat daripada beramal. Setiap kali perhatian dan
kesungguhannya terhadap amal semakin tinggi, maka semakin tinggi pula imannya.
Ia pun hendaknya memiliki rasa takut dan harap; takut dari sifat ‘ujub (bangga
diri), riya’ (pamer), takabbur (sombong) dsb. dan berharap kepada Allah agar
amalannya diterima.
beribadah kepada Ar Rahman, yakni mereka
berusaha menghindarkan semua yang dapat menjauhkan dari Allah dan
keridhaan-Nya. Inilah hakikat zuhud, perhatiannya kepada ibadah lebih tinggi,
sehingga ia tidak banyak-banyak dalam sesuatu selain hal yang bernilai ibadah.
Pikirannya sering melayang dalam hal-hal yang dapat mendekatkan dirinya kepada
Allah. Juga tidak lepas dari memikirkan kubur serta keadaan yang akan terjadi
di alam kubur, memikirkan kiamat dan kedahsyatannya, memikirkan neraka dan
penghuninya serta memikirkan surga dan penduduknya. Pikirannya tidak lepas dari
semua ini, inilah memikirkan hal yang bermanfaat. Sebaliknya, memikirkan hal
yang tidak bermanfaat hanya membawa penderitaan, waktunya sia-sia dan
menyibukkan pikiran dengan hal yang tidak bermanfaat baik untuk sekarang maupun
yang akan datang.
kepada kebaikan dan kebahagiaan
wangi, seperti dalam sabda Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam berikut:
إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ
الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ
وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً
وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا
خَبِيثَةً
dengan kawan yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang besi.
Penjual minyak wangi, bisa saja memberi minyak wangi kepadamu, kamu bisa membeli
darinya dan bisa juga mencium wanginya. Sedangkan tukang besi, bisa saja
membakar bajumu atau jika tidak, kamu mencium bau yang tidak sedap.” (HR.
Muslim)
berbagai sisi. Sebagaimana berkawan dengan orang buruk, akan kamu dapatkan
keburukannya, paling sedikit kamu akan merasa risih di sampingnya.
sifat-sifat-Nya yang tinggi agar Dia menunjukkan jalan yang lurus; jalan
orang-orang yang diberi-Nya nikmat, jalannya para nabi, para shiddiqin, para
syuhada dan orang-orang shalih. Merekalah teman yang sebaik-baiknya. Amin ya
Rabbal ‘Alamin.
aakhirah karya Syaikh Abdurrahman As Sa’diy dengan diberikan tambahan.






![[Penginapan] Wanaka View Motel](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2024/10/motel2520wanaka.jpg?fit=580%2C387&ssl=1)




