mimpi yang sama, Mek memutuskan untuk bercerita perihal mimpi tersebut pada
sang suami. Tentang lelaki berpakaian putih-putih yang mengatakan bahwa Mek
akan jadi tukang urut, kemudian menyentuh bahu kanan Mek. Pagi harinya, saat
sang suami sudah duduk di kursi reot, lelaki dengan tubuh ringkih itu hanya
manggut-manggut mendengarkan cerita Mek. Menarik napas dalam-dalam. Lalu
kembali menyeruput kopi.
tiga kali ditolak kerja di tempat orang. Garap lahan Pak Minto juga sudah tidak
bisa lagi. Kamu malah bahas mimpi.”
lahan Pak Minto. Lahan itu sebelumnya hanya lahan mati dengan rumput ilalang
setinggi orang dewasa. Setelah Mek dan suaminya datang sebagai keluarga jauh
yang merantau, Pak Minto mengizinkan keduanya untuk memanfaatkan lahan itu
untuk cocok tanam. Daripada jadi lahan tak terurus, begitu kata Pak Minto.
dan suami mengerahkan semua kemampuan. Mereka berhasil menanam beberapa
tanaman. Hasilnya, sebagian dimakan sendiri, dan sebagian lain bisa dibawa ke
pasar untuk dijual. Tentu saja tidak banyak, tapi cukup. Cukup untuk makan mereka dan anak-anak yang
kemudian lahir tiga kali beruntun. Pendek kata, cukup untuk hidup tidak mewah.
sela-sela hidup hemat mereka, Mek dan suami masih menyisihkan uang untuk
menabung. Hanya saja sering kali tabungan itu harus terpakai untuk kehidupan
sehari-hari dan keperluan lain. Bahkan, tak jarang, mereka justru harus
berutang ke Pak Minto atau yang lain untuk kebutuhan-kebutuhan mendadak,
seperti biaya melahirkan. Namun, sekuat apapun mereka menabung, tabungan itu
tak cukup untuk mempersiapkan jika suatu waktu lahan itu tak bisa lagi digarap.
Dan itulah yang terjadi.
panen akan cukup berlimpah tahun ini, Pak Minto datang mengetuk pintu rumah
kontrakan mereka yang berada sekitar tiga kilometer dari lahan garapan. Mek dan
suami sama sekali tak menyangka bahwa setelah senyum, salam, dan ramah-tamah
yang menyenangkan, Pak Minto menyampaikan, “Lahan itu sudah dijual. Ada orang
yang mau membangun mini market waralaba di sana. Kabarnya satu atau dua bulan
lagi pembangunan akan dimulai.”
dengan berbelit-belit dan sangat hati-hati agar tidak melukai siapapun. Hanya
saja, sehalus apapun penyampaiannya, memang kenyataan itu pahit dan tidak ada
manis-manisnya.
seketika harus menguap. Sebelum pulang, Pak Minto memberikan sebuah amplop yang
berisi uang. Pak Minto sudah menyampaikan soal tanaman yang akan segera panen,
dan pemilik tanah yang baru setuju untuk membayar ganti rugi. Setelah dihitung,
Mek dan suami memang benar-benar rugi.
habis di dalam keheningan yang pekat. Baik Mek maupun suami tak bersuara.
Meskipun begitu, ada kericuhan dan kegaduhan dalam benak masing-masing.
Kericuhan yang begitu rumit dan sangat sulit untuk disalurkan sampai tak ada kata
yang keluar dari mulut keduanya.
dalam kerapuhan yang memutusasakan.
Bu.”
kedua orang itu tidaklah mudah. Tangan mereka telah terbiasa mencangkul,
memupuk, dan menyiangi. Sementara lahan semakin sempit dan kebun orang lain
sudah punya penggarapnya sendiri.
perkembangan minimarket waralaba. Bisa-bisanya ia menjangkau titik di kampung
yang letaknya ratusan kilometer dari kota provinsi. Apalagi, sebulan dari sana,
dijual pula tanah di samping lahan garapan mereka yang selama ini aktif
ditanami padi untuk kepentingan pembangunan minimarket waralaba pesaing.
oleh tetangganya. Karena merasa senasib, didatanginyalah tetangga itu dan
menanyakan apa yang akan mereka lakukan untuk menyambung hidup setelah tanah
itu dijual. Jawaban mereka adalah, “Merantau ke kota. Cari kerja di sana. Di
sini sudah tidak ada lagi yang bisa dikerjakan.”
dan anak-anak mereka. Berbekal uang ganti rugi dari pemilik baru lahan garapan
ditambahi dengan sedikit tabungan mereka, kelima anak-beranak itu nekat pergi
ke kota provinsi. Mencari kerja apa saja.
kumuh. Tak perlu deskripsi mendetail soal kondisi rumah kontrakan baru mereka.
Anda tentu pernah membaca di berbagai cerpen dan novel mengenai jenis-jenis
rumah di tempat seperti itu. Atau, paling tidak, pernah melihatnya di sinetron
dan acara televisi yang mengeksploitasi kemiskinan. Kurang lebih, seperti
itulah kondisi kontrakan mereka yang terbaru.
ditolak bekerja di tiga tempat yang berbeda. Mek sendiri mengalami mimpi yang
sama tiga kali berturut-turut. Di
hari-hari berikutnya, Mek juga memimpikan hal yang sama.
lebih memilih menjadi buruh cuci harian ketimbang menjadi tukang urut.
Sekarang, selagi menunggu suaminya mendapatkan pekerjaan, ia sudah menjadi
buruh cuci di tiga rumah berbeda. Baginya itu lebih berwibawa. Namun, semakin
ia menolak, ia justru merasa bahu kanannya – bagian yang disentuh oleh lelaki
dalam mimpi – terasa semakin sakit.
diterima untuk jadi buruh bangunan dalam sebuah proyek pembangunan jembatan
layang. Dua sejoli itu bisa tersenyum sedikit lega. Menjadi buruh bangunan dan
buruh cuci di kota tentu lebih baik ketimbang tidak mengerjakan apapun di desa.
yang semakin hari semakin sakit, tidak ada problem berarti di rumah tangga
mereka. Sampai akhirnya, seorang wanita muda dengan riasan yang sederhana namun
memancarkan pesona sesungguhnya, datang mengetuk pintu kontrakan mereka.
ujarnya. Mek dan suami terpana. Belum selesai keterkejutan keduanya, wanita itu
melanjutkan, “Bahuku sakit sekali. Aku perlu tukang pijit.”
mungkin salah alamat,” tukas suami Mek.
“Mek namamu, bukan? Marsini nama asli? Kau yang disebut oleh lelaki di mimpiku
sebagai satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan sakit di bahuku. Tolonglah
aku.”
Mungkin dirinya sendiri sudah lupa dengan nama asli yang tak pernah diucapkan
itu. Sementara itu sang suami teringat dengan mimpi yang pernah diceritakan
istrinya.
spa langgananku. Sembuhkanlah bahuku, Mek,” wanita itu bertutur lancar.
tidak pernah.”
mengangkat kedua bahu dan berjalan keluar rumah. Di dalam, wanita muda itu
mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah. Memberikannya pada Mek.
“Ambil uang ini, Mek. Sebagai uang muka. Kalau benar bahuku sehat setelah kau
pijit, akan kutambahi lagi. Kalau tidak, ambil saja uang ini sebagai rasa
terima kasihku karena setidaknya kau telah mencoba. Aku sungguh tak tahan.
Sungguh. Bahu ini sudah sakit lebih dari sebulan.”
untuk rebah di satu-satunya kasur tipis yang ada di rumah. Wanita itu mengerti
dan membuka baju kemeja yang ia kenakan dengan kesulitan karena bahu kanannya
tak bisa bergerak dengan leluasa.
sulit dijelaskan, ia bisa merasa bahwa ada satu urat kecil yang tidak berada
pada tempatnya. Urat itulah yang membuat wanita di depannya merasa sakit. Saat
Mek mencoba ‘meluruskan’ urat itu, ia merasa sakit di bahunya sendiri juga ikut
terobati. Mek benar-benar terpana dengan perasaan yang baru ia alami ini.
keajaiban itu. Ia berjanji akan mempromosikan kemampuan Mek pada semua orang
yang dikenalnya. Juga meyakinkan Mek bahwa Mek akan bisa hidup jauh lebih layak
dengan kemampuannya memijit. Mek tersenyum.
mulai menceritakan detail mimpinya pada Mek. Dua wanita berbeda usia itu
sepakat bahwa mereka telah didatangi oleh orang yang sama. Sama-sama tak jelas
siapa. Obrolan mereka jadi cair setelah menceritakan mimpi aneh tersebut.
salah tempat akan segera ada di posisinya semula, saat sang wanita muda bercerita
dengan lancar bahwa ia adalah istri seorang pebisnis muda yang sukses. Suaminya
baru saja membangun sebuah minimarket waralaba di salah satu pelosok kampung di
provinsi itu, sebuah ekspansi. “Suamiku mengalami negosiasi yang cukup panjang
dengan Pak Minto, pemilik tanah, karena ia memikirkan nasib penggarap lahannya.
Tapi berkat harga yang pas, Pak Minto pun rela melepas tanahnya. Tanah yang
benar-benar strategis.”
yang salah tempat itu akan benar-benar kembali ke tempatnya. Namun, demi
mendengar ucapan terkahir sang wanita muda, Mek merasa dirinya harus menolak
untuk memijit.

































![Koisuru Keigo 24 Ji (2024) Episode 01-09 Subtitle Indonesia [TAMAT] + [BATCH]](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2026/02/SaveTwitterNet_GA4HaqraYAAZeE7.jpg?fit=456%2C322&ssl=1)





