
A Man Called Ahok adalah sebuah film nasional tahun 2018 yang disutradarai oleh Putrama Tuta berdasarkan pada buku A man called #Ahok: sepenggal kisah perjuangan & ketulusan karya Rudi Valinka yang mengisahkan kehidupan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di Belitung Timur.
Film yang diproduksi oleh The United Team of Art ini diproduseri bersama oleh Ilya Sigma, Emir Hakim, dan Reza Hidayat, dengan bintang utama Daniel Mananta berperan sebagai Ahok dewasa dan Eric Febrian sebagai Ahok remaja. Selain itu, deretan para pemeran lain dalam film ini antara lain Denny Sumargo, Chew Kin Wah, Sita Nursanti, Donny Damara, Ferry Salim, Eriska Rein, dan Jill Gladys.
Proses syuting film ini sebagian besar berlokasi di Belitung dan berjalan selama 37 hari mulai Maret hingga April 2018.
Sumber: Wikipedia
Film ini baru saja tayang 8 November 2018 yang lalu, dan karena aku menghindari spoiler macam apa pun, aku segera meluncur melihat langsung film ini tanggal 9 November (Jumat) yang lalu. Sinopsis, bisa kamu lihat langsung di Wikipedia, dan kisahnya pun (kabarnya) tidak jauh berbeda dengan apa yang diceritakan di dalam bukunya. FYI, aku belum pernah membaca bukunya langsung, jadi aku melihat film ini tanpa ekspektasi macam-macam, hanya tahu bahwa film ini mengisahkan latar belakang yang membuat Ahok seperti Ahok yang sekarang, dan menceritakan tentang sosok Kim Nam (ayah Ahok).
Aku tidak akan menjelaskan lebih lanjut mengenai isi ceritanya, karena prinsipku, #nospoiler dan #keepsilence buat film-film bioskop yang masih tayang. Jadi, kalau kamu benar-benar mau spoiler, kamu bisa mencarinya langsung di tempat lain. Sorry. Review ini akan ditambahkan nanti, setelah filmnya selesai tayang di bioskop dan sudah bisa di-share untuk plot dan kisahnya.
Aku hanya mau mengatakan, film ini mengajarkan banyak hal. Bukan hanya sosok Ahok, tetapi sosok Kim Nam, yang dimainkan dengan sangat apik oleh Denny Sumargo (muda) dan Chew Kin Wah (tua). Terasa familiar, tetapi sekaligus juga mengharukan. Bahasa yang digunakan juga terasa familiar banget! (Mereka menggunakan bahasa mandarin di Belitung.)
Aku khusus memberikan big applause untuk pemeran Ahok remaja, Eric Febrian. Dia menggemaskan sekali! Ohoho.
Hmm, terlepas dari semua pro dan kontra dari film ini, kurasa kamu cuma perlu melihat sendiri dan berpendapat sendiri sebelum memandang apa yang dikatakan oleh orang lain.
Oke, sebelum aku kebanyakan menuliskan macam-macam, aku tuntaskan sampai di sini dahulu. Dariku, aku memberikan 10 bintang dari 10. Must recommended! Must watch. Yang terutama, tentu saja bukan hanya sekadar menonton dan menikmati, tetapi memetik pelajaran dari film ini. Keep inspiring!
Jangan pernah berhenti mencintai negeri ini…
ADVERTISEMENT



