Salah satu film lokal paling menghibur tahun ini. Film komikal yang all out, seperti chanelling film-film laga komedi absurd Jepang, tapi dengan jokes dan referensi yang lebih gw paham. Tentu saja, berhubung ini filmnya Anggy Umbara, film serba konyol ini tetap mampu tampil ‘mahal’ dengan production value tinggi, penggarapan laga dan tata gambar yang serius, serta imajinasi yang dituturkan dengan cara yang exciting. Oh, iya, film ini memang ada kaitannya sama film lawas 5 Cewek Jagoan, sort of.
Dengan topik yang diangkat tentang perbedaan aliran dalam satu masyarakat beragama yang berpengaruh pada percintaan dua insan muda, gw merasa sayang film ini kurang banyak yang notice saat dirilis di bioskop. Padahal, film ini dituturkan dengan sangat komunikatif, sensible, mewakili berbagai sudut pandang terhadap topik yang dibahas, dari beragam karakter yang sedikit banyak mencerminkan keadaan sekarang, sehingga sangat mudah terhubung dengan penonton. Itu dan ensemble cast-nya yang kompak dan mumpuni.
Review di sini
Boleh aja memandang sebelah mata menganggap ini just another teenage alay movie. Jujur, gw juga merasa materi ceritanya memang tidak banyak beranjak dari kisah cinta SMA biasanya, lengkap dengan twists and turns dramatis yang jadi kesukaan para alay remaja masa kini. Namun, Dear Nathan adalah contoh film remaja yang perlakuannya tepat. Cerita tentang remaja dengan logika remaja, bukan cerita remaja dengan gaya dewasa ataupun cerita dewasa dari fantasi alay remaja. Sehingga, hasilnya sebuah karya yang digarap rapi, believable, well-acted, yang justru menunjukkan kedewasaan para penggarapnya.
Review di sini
Filosofi Kopi 2: Ben & Jody
sutradara Angga Dwimas Sasongko
Untuk kontennya, film ini kembali berhasil menampilkan tontonan yang menyenangkan nyaris setara film Filosofi Kopi pertama, entah itu dari pemain, gambar (yang makin bagus), musik, drama, dan humornya. Namun, yang tak kalah penting, film ini bisa jadi studi kasus bagaimana mengembangkan sebuah ide, karakter, dan brand, dalam medium yang berkelanjutan. Sosok Ben dan Jody sudah berlanjut lebih jauh dari sebatas cerita pendek karya Dewi Dee Lestari, perjalanan mereka pun jadi unpredictable, dan gw sangat nggak berkeberatan kalau bakal ada film ketiga kelak.
sutradara Hanung Bramantyo
Ini adalah film Hanung Bramantyo pertama yang gw bisa bilang ‘bagus!’ tanpa hambatan =P. Sisi dramatis emosionalnya masih ada, tetapi konsep dan penggarapan keseluruhan film ini cenderung beda dari film-film biografi terkemuka Indonesia (yang mostly melibatkan Hanung juga). Bukan sekadar riwayat tokohnya, tetapi juga soal pemikiran dan kegelisahannya, sehingga penyampaiannya pun jadi lebih leluasa, termasuk dengan adanya adegan-adegan fantasi, dan karakterisasinya yang boleh dibilang “diterjemahkan” agar gampang dipahami generasi kini.
Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak
Film ketiganya ini semakin mengukuhkan Mouly Surya sebagai sineas dengan visi kuat. Merangkum ide pemberdayaan perempuan, dengan plot pembalasan dendam, serta bangunan latar lawless land ala film koboi. Agak ganjil, tetapi ketika sudah masuk ke dalam dunianya dan mulai sinkron dengan ritmenya, film ini begitu captivating. Visual indah yang mengemas simbol-simbol–tapi tanpa ngeh sama simbol pun tetap bisa diikuti dengan lancar kok. Pengarahan penuh perhitungan dan sesekali menyelipkan humor, disokong suara dan musik yang mencengkeram, dan tentu saja performa akting para pemain yang tanpa cela. Gw mungkin masih prefer film Mouly sebelumnya, What They Talk About When They Talk About Love, but still Marlina is a beautiful work.
Di luar problem teknis presentasinya, gw merasa perlu memberi tempat di senarai akhir tahun ini, karena ada kemungkinan film dengan cerita seperti ini akan sangat jarang dibuat. Meminjam latar belakang dari sempat diberlakuannya daerah operasi militer di beberapa daerah di Indonesia, film thriller ini sukses dalam membangun cerita, membangun ketegangan, dan menyampaikan standpoint yang tegas tentang dampak situasi konflik terhadap pihak-pihak yang bertikai maupun yang terseret di tengah-tengahnya.
sutradara Joko Anwar
Selain serem bangsat (itu sih karena gw penakut ya), Pengabdi Setan adalah salah satu contoh film horor lokal yang berhasil membangun dunianya sendiri secara utuh, dan tetap seram, tanpa perlu bergantung pada urban legend yang sudah dikenal, atau statement “berdasarkan kisah nyata”, atau “eh ada hantu beneran ketangkep kamera loh” -_-. Solidnya film ini murni bergantung pada penulisan yang cakap, karakter, dan craftmanship, dan itu keren banget.
sutradara Ody C. Harahap
Gw sempat ada praduga tak enak ketika franchise Miss Granny ini sampai di Indonesia, karena setahu gw setiap adaptasinya tidak bisa “bebas”, sudah ada guideline-nya dari yang punya merk sehingga filmnya akan, yah, 75-85 persen sama dengan aslinya, cuma beda bahasa. Praduga itu salah, Sweet 20 bisa dengan mulus diterapkan ke dalam kisah yang mudah diterima oleh gw sebagai orang Indonesia. Dari konteks latarnya, humornya, dialog dan pembawaannya dari cast yang keren, semua diadaptasi secara mulus menjadi sebuah komedi yang colorful dan menyenangkan.