
Judul: Di Tanah Lada
“Menurutku, Papa mirip hantu. Papa mirip hantu karena aku takut hantu, dan aku tahu Mama takut hantu. Dan aku takut Papa. Dan aku tahu kalau Mama juga takut Papa.” (hal. 2)
*******
Novel ini diceritakan melalui sudut pandang orang pertama, Ava. Ketika membaca bab pertama, saya tidak berhenti tertawa karena pola pikir Ava yang lugu sekaligus cerdas. Dia selalu mengaitkan segala sifat dan peristiwa yang dia lihat. Seperti yang sudah saya kutip di atas, dia mengganggap papanya seperti hantu. Dia juga sering menyamakan seseorang dengan seekor binatang tertentu hanya karena memiliki kesamaan karakter. Ditambah lagi dengan cara dia memahami setiap kalimat yang belum dia mengerti dengan selalu mengacu pada kamus.
Begitu pun dengan P yang tak kalah lugunya. Dia mengganggap bahwa Ava adalah anak yang aneh karena selalu menggunakan bahasa yang baku dan sering mengomentari bahasa yang digunakan oleh P. Sementara itu, Ava menganggap bahwa P bukan anak yang baik, karena P tidak pernah menggunakan bahasa yang baik dan benar saat berbicara.
Namun, itu tidak berlangsung lama. Pada bab berikutnya, kekerasan rumah tangga mulai mewarnai novel ini. Kesedihan pun berkali-kali menghampiri Ava dan teman barunya, P. Sebenarnya, tidak banyak adegan kekerasan yang disuguhkan oleh penulis. Tapi, cara Ava dan P menanggapi setiap kekerasan dan kata-kata kasar yang mereka terima itu bisa membuat hati siapapun akan merasa teiris. Mudah sekali bagi mereka mengambil keputusan-keputusan yang tidak masuk akal. Keputusan yang awalnya diambil untuk menghindari segala bentuk kejahatan, tapi justru bisa membahayakan diri mereka sendiri.
Muram, itulah yang saya rasakan selama membaca novel ini. Ziggy menyoroti sebuah lingkungan masyarakat yang mungkin masih ada sampai saat ini. Hidup di perkampungan yang kumuh, dan ekonomi menjadi masalah utama bagi mereka. Tapi, mereka menghamburkan pun uang yang ada untuk berjudi, KDRT pun kerap mehiasi kehidupan mereka, hingga akhirnya merusak mental anak-anak di lingkungan tersebut.
Sejak pertengehan cerita, saya sudah tidak lagi memedulikan semua penjabaran Ava yang ia kutip dari kamus. Saya hanya gelisah, berpikir apa yang akan terjadi pada Ava dan P selanjutnya, dan selanjutnya. Karena menurut saya, karakter Ava yang lugu dan P yang gegabah sangatlah kuat. Tapi, karena kuatnya karakter mereka tersebut membuat saya bisa menebak beberapa twist yang diciptakan oleh penulis. Satu hal yang benar-benar di luar dugaan saya, saya tidak menyangka Ziggy akan menciptakan akhir seperti itu. Entah harus disebut akhir yang menyedihkan atau membahagiakan. Itu adalah akhir yang manis sekaligus tragis.
Intinya,
“Kalau dalam hidup kalian ada orang jahatnya, hidup kalian nggak akan normal.” (hal. 101)




