KEWAJIBAN PENTING MENGIKUTI DAN MENELADANI RASULULLAH
Disusun oleh : Azwir B. Chaniago
Sungguh merupakan kewajiban utama orang orang beriman untuk
MENGIKUTI DAN MENELADANI Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dalam menjalani
syariat Islam ini. Keteladanan beliau dijelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya
:
لَّقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
yang baik bagimu. (Q.S al Ahzab 21).
Imam Ibnu Katsir berkata : Ayat yang
mulia ini merupakan dalil yang kuat (yang menunjukkan kewajiban) menjadikan
Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam sebagai SURI TAULADAN ATAU PANUTAN dalam
perkataannya, perbuatannya dan dalam segala hal kondisi beliau. (Tafsir Ibnu
Katsir).
Tentang ayat pula Syaikh as Sa’di berkata : Orang yang
meneladani beliau berarti menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada
kemuliaan Allah Ta’ala yaitu jalan yang lurus. Jika bersuri tauladan kepada
selain beliau, apabila menyalahi beliau, maka itulah teladan yang buruk.
Suri tauladan yang baik ini hanya akan ditelusuri dan
diikuti oleh orang yang menginginkan Allah Ta’ala dan Hari Akhir. Hal itu
terjadi karena iman yang dimilikinya, rasa takutnya kepada Allah dan
mengharapkan pahala kepada-Nya yang semuanya mendorongnya untuk meneladani
Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).
Ketahuilah bahwa mengikuti Rasulullah Salallahu
‘alaihi Wasallam adalah SALAH SATU BUKTI YANG POKOK BAHWA SEORANG HAMBA
MENCINTAI ALLAH TA’ALA. Allah Ta’ala berfirman :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ
فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ
غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah
(wahai Muhammad), Jika kamu (benar benar) mencintai Allah, IKUTILAH AKU,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa dosamu. Allah Maha Pengampun dan
Maha Penyayang. (Q.S Ali Imran 31).
Mengikuti atau menjadikan beliau sebagai tauladan
adalah jalan yang PALING LURUS yang memberikan petunjuk kepada keselamatan di
dunia dan di akhirat. Oleh karena itu maka seorang hamba janganlah mencari
jalan petunjuk yang menyelisihi petunjuk beliau. Diantaranya, dalam beribadah
haruslah ittiba’ kepada beliau. Jika menyelisihi maka amal ibadahnya tertolak. Tentang
hal ini, Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah mengingatkan kita semua
dalam sabda beliau :
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا
فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa beramal yang tidak ada perintahnya dari kami
maka amalannya tertolak. (H.R Imam Muslim).
Allah
Ta’ala berfirman :
فَلْيَحْذَرِ
ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ
يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Maka hendaklah orang orang yang menyelisihi perintah Rasul-Nya,
takut akan ditimpa fitnah atau azab yang pedih. (Q.S an Nuur 63).
Insya
Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.071)































