baik dalam keyakinan maupun amalan yang justru membuatnya menyimpang dari apa
yang telah ditetapkan oleh syari’at.
agama berarti melampaui batas dengan menambah-nambah dalam memuji sesuatu atau
mencela sesuatu sehingga menyimpang jauh dari apa yang menjadi haknya.
terhadap sesuatu dan menekan hingga melampaui batas (Fathul Bari).
yang tercela dan dilarang dalam syariat Islam. Sikap ghuluw atau berlebih
lebihan tidak akan mendatangkan kebaikan dan tidak akan memberikan sesuatu yang
bermanfaat dalam segala urusan termasuk urusan dunia. Apalagi dalam menjalankan agama yang lurus.
telah melarang untuk berbuat ghuluw dan diantara dalilnya adalah :
: Allah Ta’ala berfirman :
تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ
ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
berlebih lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang orang yang telah sesat dahulu
(sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan
(manusia). Dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (Q.S al Maa-idah
77).
: Allah Ta’ala berfirman :
الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ
الْمُعْتَدِينَ
kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang orang yang melampaui batas. (Q.S al Baqarah 190)
: Dari Ibnu Abbâs Radhiyalllahu anhuma ia berkata, “Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَالْغُلُوَّ فِيْ الدِّيْنِ، فَإِنَّمَـا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
بِالْغُلُوِّ فِيْ الدِّيْنِ
ghuluw (berlebihan) dalam agama, karena
telah binasa karena sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama. (H.R Imam Ahmad, an Nasa’i dan Ibnu
Majah).
: Dalam sebuah hadits dari Mihzan bin al Adra, Rasulullah
Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : “Kalian tidak akan dapat melaksanakan
agama ini dengan memaksakan diri. Sebaik baik urusan agamamu adalah yang
mudah”. (H.R Imam Ahmad)
ghuluw mendatangi manusia dalam beribadah ?. Diantara jawaban dan penjelasannya
adalah sebagai berikut :
memiliki ilmu cara beribadah yang benar. Lalu beribadah dengan cara ikut ikutan
saja. Sementara itu tidak mau pula
belajar ilmu yang shahih tentang agama ini. Jika seseorang ikut ikutan saja
dalam beragama bahkan sampai taqlid buta maka ini berpotensi mendatangkan
ghuluw.
taqlid dia hanya mengikuti seseorang yang dipercayainya dalam beragama mungkin
guru atau kiyai-nya. Kalau yang dikutinya adalah orang yang biasa
ghuluw dan mengada ada dalam agama maka diapun mengikutinya meskipun tak ada
petunjuknya.
mengingatkan kita semua tentang hal ini dalam sabda beliau :
ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
beramal yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalannya tertolak.
(H.R Imam Muslim)
Mengikuti akal dan perasaan dalam beribadah. Kalau satu ibadah dirasa baik menurut
akal dan perasaannya maka langsung diamalkan. Diantara contohnya adalah tentang
banyak bershalawat. Banyak bershalawat memang sesuatu yang sangat
baik dan disyariatkan.
seperti apa ini sudah ada tuntunannya. Jadi harus mengikuti cara yang diajarkan
Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. Misalnya sebelum adzan mengumandangkan
adzan mu’adzin harus bershalawat dulu. Ini tentu tak harus diketahui dulu
dalilnya.
terkadang ada yang hanya mengikuti perasaan dan akalnya maka tidak diragukan akan jatuh kepada sikap
ghuluw.
Bersandar kepada hadits hadits yang lemah bahkan palsu. Hadits hadits lemah dan
palsu itu sebagiannya diciptakan dan dibuat jadi masyhur oleh sebagian
orang untuk menambah nambah bentuk dan cara beribadah dengan sesuatu yang tidak
ada tuntunannya.
manusia mengamalkan suatu ibadah. Ketahuilah perbuatan orang banyak belum tentu
bisa hujjah. Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata : Orang
berakal jangan tertipu dengan kebanyakan manusia. Kebenaran tidak ditentukan
oleh banyak orang melakukannya. Akan tetapi kebenaran adalah syari’at
Allah’Azza wa Jalla yang diturunkan kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi
wasallam.
الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan (kebenaran) Allah.
Mereka hanyalah mengikuti sangkaan
belaka. Dan mereka hanyalah berkata bohong” (Q.S al An’am 116).
ada pula sebagian manusia yang tidak tepat dalam memaknai ghuluw. Akibatnya salah dalam
menilai orang orang yang mengamalkan sunnah.
sungguh menjaga waktu shalat dan setiap waktu shalat ke masjid dianggap ghuluw.
Orang yang banyak berpuasa sunnah dianggap ghuluw. Banyak menghadiri majlis
taklim dianggap ghuluw. Seorang muslimah pakai jilbab lebar yang syar’i
dikatakan ghuluw. Lalu mereka memberi komentar : Beragama ini jangan
berlebihan, BIASA BIASA SAJALAH.
dalam beragama, mereka juga sulit memberi jawaban. Ketahuilah
bahwa hakikat biasa biasa saja dalam beragama khususnya ibadah adalah SESUATU
YANG BIASA DIAMALKAN OLEH RASULULLAH DAN PARA SAHABAT SERTA ORANG ORANG SESUDAHNYA YANG MENGIKUTI
PETUNJUK BELIAU SALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM.
memeriksa dan meneliti amal amal yang
dia lakukan. Dalam hal ini bersungguh sungguhlah untuk mengikuti apa yang
diajarkan dan dicontohkan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. Dan juga
bersegeralah meninggalkan apa yang tidak diajarkan beliau sehingga bisa selamat
dari ghuluw yaitu berlebih lebihan serta tak jatuh kepada bid’ah yaitu mengada
ada dalam beribadah.
Wallahu A’lam. (1.653)







































