Setelah kemarin saya beli TSPC, hari ini kebetulan liat running trade dan liat SIDO seliweran terus. Jadi inget, dulu saya sempet ngincer SIDO juga, tapi krn salesnya msh turun di 2014, saya belum jadi beli.
Tapi stelah kmrn saya beli TSPC, saya merasa saya jadi lebih longgar kriterianya dalam membeli saham consumer yang lagi dibanting. Minimal selama saya yakin prospeknya ke depan masih bagus, DER < 1, PBV < 3, ROE > 12%, saya masih berani beli untuk hold dlm jangka waktu yang lama..Â
Saya ingat, dulu pernah baca di salah satu buku investasi yang isinya begini,Â
“Ada kondisi di mana perusahaan bagus mengalami masalah dalam jangka pendek. Jika kondisi ini terjadi, biasanya harga saham akan terkoreksi dalam, dan  waktu seperti ini merupakan kesempatan terbaik untuk membeli saham tersebut”.
So, quote di atas itu yang membuat saya jd berani membeli TSPC dan SIDO ketika sales/ labanya sedang turun. Karena memang realitanya, nyaris jarang sekali perusahaan yang selalu mengalami kenaikan sales/laba tiap tahun dalam operasionalnya.Â
Kembali ke SIDO. Produk SIDO yang mungkin paling dikenal orang adalah Jamu Tolak Angin dan Kuku Bima. Iklannya sering kita lihat di mana-mana.
Untuk prospeknya ke depan, saya masih optimis. Salesnya sejak IPO di Desember 2013, memang masih turun. Tapi perusahaan beralasan bahwa daya beli masyarakat memang tergerus sejak kenaikan BBM. Dan nanti apabila ekonomi sudah membaik, manajemen yakin demand terhadap produk-produk mereka juga akan meningkat.Â
Tapi karena SIDO ini baru IPO, maka belum banyak data keuangannya yang bisa kita jadikan pembanding. Dari laporan tahunan 2014, terlihat bahwa dari 2011 hingga 2014, sales tertinggi berada di thn 2012. Tapi labanya selalu naik sejak 2011.
Di Q1/2015, penjualan SIDO msh turun 2% tapi laba bersihnya naik 1% krn efisiensi yang dilakukan perusahaan.Â
Kita coba analisa LK Q1/2015 SIDO, ya.. Â LK-nya bisa didonwload di :
http://www.idx.co.id/id-id/beranda/perusahaantercatat/laporankeuangandantahunan.aspx, tinggal masukkan kode SIDO dan pilih tahun 2015 periode Triwulan 1.
LK Q1/2015 SIDO (juta rupiah)
Bagian 1, NERACA
Asset lancar = 1.837.681
Liabilitas jangka pendek = 148.673
Modal kerja = 1.689.008
Karena modal kerjanya positif, maka perusahaan tidak mengalami resiko likuiditas (alias liabilitas jangka pendek yang jatuh tempo bisa dilunasi dengan asset lancar yang ada).
Jumlah utang = 153.375
Jumlah saham = 15.000.000.000 lembar
jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk = 2.752.686 –> growth = 4,48%
Book Value =Â 2.752.686.000.000 :Â 15.000.000.000Â = Rp 183,51
jumlah ekuitas = 2.752.686
DER = jumlah utang : jumlah ekuitas =Â 153.375 :Â 2.752.686 = 0,05x —> utang SIDO sangat kecil, perusahaan bekerja semaksimal mungkin dengan memanfaatkan dana yang didapat ketika IPO. Perusahaan relatif aman dari resiko bangkrut karena hutang.
Bagian 2, Laporan Laba Rugi
Penjualan = 509.417 —> growth = minus 2,04%
Laba kotor =Â 314.799
Marjin laba kotor =Â Â 314.799 : 509.417 = 61,8%
Laba bersih tahun berjalan = 118.026 —> growth 1,83%
Marjin laba bersih =Â 118.026 :Â 509.417Â = 23,17% —> marjin laba bersih perusahaan cukup tinggi, sehingga perusahaan akan relatif lebih survive dalam situasi ekonomi yang sulit
EPS = Rp 7,9 –> growth = 2,2%
ROE = (118.026 x 4) :Â 2.752.686 = 17,15%
Bagian 3, Laporan Arus Kas
arus kas operasi = 131.872 —> arus kas operasi > dari laba bersih —> perusahaan relatif sehat secara operasional
capex = 44.209 —> growth = 585,94% (perusahaan banyak melakukan ekspansi di awal thn ini, semoga hasilnya akan terlihat pada kinerja perusahaan di tahun-tahun mendatang)
kas = 902.862
@ 530, PER = 530 : (4 x 7,9) = 16,78x —> karena di Q1 sdh ada pertumbuhan laba, maka PER di bawah 20x untuk saham consumer, menurut saya masih murahÂ
      PBV = 530 : 183,51 = 2,9x
     Â
      Yield = ROE : PBV = 17,15 : 2,9 = 5,91%
      Valuasi wajar dengan metode yang digunakan di blog ini = Rp 403,92 — MOS = minus 31,2% (alias SIDO kemahalan dengan metode valuasi di sini. Tapi memang metode valuasi ini sering menghasilkan harga wajar yang sangat rendah untuk saham-saham consumer, infrastruktur, dll (biasanya saham dengan PER yang tinggi, di atas 15x).
Sekarang coba kita liat TA SIDO. Karena SIDO ini baru IPO di Desember 2013, jadi data chartnya juga belum terlalu banyak.Â
Kalo dengan chart daily, SIDO masih berada di bawah MA 200, MA 100 dan MA 60-nya. Tapi sudah di atas MA 5 dan MA 20. Alias harga SIDO memang sedang naik dalam 20 hari belakangan ini.. MACD daily masih di bawah 0 (bearish) tapi sudah golden cross.Â
Chart weekly, SIDO berada di bawah MA 20 dan 60 weekly. MACD di bawah 0 dan sudah golden cross.
Chart monthly, SIDO sudah 15 bulan ini turun terus, bahkan sudah di bawah harga IPO-nya di Rp 580.
Karena laba dan ekuitasnya terus naik sejak SIDO IPO, dan harganya turun terus beberapa belas bulan ini, dan SIDO akan membagi deviden sebesar Rp 24 ( 87% dari laba 2014) cum date 21 mei 2015 ini, saya putuskan masuk ke SIDO di 530.Â
Resiko yang saya hadapi adalah : karena deviden yield yang cukup besar (skitar 4,5%), maka mungkin saja setelah ex date harganya akan dibanting melebihi deviden yang diberikan. Tapi krn saya memang niat untuk hold long term (krn ini saham consumer, bukan komoditas), jadi saya ambil resiko harga turun dalam setelah ex date.. Tapi kalo turunnya ga sebesar devidennya, ya berarti itu rejeki buat saya.. 🙂
Beberapa investor kurang suka bila suatu emiten membagikan deviden terlalu besar. Mereka menganggap bahwa manajemen emiten tidak melihat peluang yang baik untuk mengembangkan perusahaan di masa depan. Tapi belajar dari kasus UNVR yang sering membagikan deviden dalam porsi yang sangat besar (dan UNVR juga saham consumer), bahwa bisa jadi pandangan investor yang seperti itu tidak selalu benar. Buktinya UNVR terus berkembang aja sales dan labanya sampai sekarang.. 🙂 Tapi kalo SIDO, ya kita belum tau, karena recordnya listing di bursa juga belum lama. Tapi semoga saja manajemen SIDO kredibel seperti manajemen UNVR.. 🙂
Ok, ini saja sepertinya tulisan saya tentang SIDO.
Tahun ini, saya mau membuat porto saya semakin gendut, jadi skitar 15 saham. Biasanya saya hanya pegang maksimal 12-13 saham aja. Tapi krn dana kelolaan saya semakin besar (saya selalu menyisihkan uang tiap bulan untuk investasi saham) dan saya ingin menjadi investor yang lebih pasif lagi stelah beli saham (maksudnya : mencoba untuk ngga langsung jual kalo laba turun), jadi saya butuh portofolio yang lebih terdiversifikasi lagi.. Tujuannya ya biar saya bisa tidur tenang sehabis beli saham.. :))
Sekarang saya masih ada cash 25% lagi. Ini lagi nunggu ihsg turun agak dalam biar bs nambah saham-saham bluechip lagi.. tapi nunggu ihsgnya kok ngga turun-turun yahh.. sampe gemes.. hehe..Â
Seperti biasa, your money, your responsibility. Kalo rugi tanggung sendiri, ngga dapat barang jg tanggung sendiri.. 🙂
Regards,
V3
Tapi stelah kmrn saya beli TSPC, saya merasa saya jadi lebih longgar kriterianya dalam membeli saham consumer yang lagi dibanting. Minimal selama saya yakin prospeknya ke depan masih bagus, DER < 1, PBV < 3, ROE > 12%, saya masih berani beli untuk hold dlm jangka waktu yang lama..Â
Saya ingat, dulu pernah baca di salah satu buku investasi yang isinya begini,Â
“Ada kondisi di mana perusahaan bagus mengalami masalah dalam jangka pendek. Jika kondisi ini terjadi, biasanya harga saham akan terkoreksi dalam, dan  waktu seperti ini merupakan kesempatan terbaik untuk membeli saham tersebut”.
So, quote di atas itu yang membuat saya jd berani membeli TSPC dan SIDO ketika sales/ labanya sedang turun. Karena memang realitanya, nyaris jarang sekali perusahaan yang selalu mengalami kenaikan sales/laba tiap tahun dalam operasionalnya.Â
Kembali ke SIDO. Produk SIDO yang mungkin paling dikenal orang adalah Jamu Tolak Angin dan Kuku Bima. Iklannya sering kita lihat di mana-mana.
Untuk prospeknya ke depan, saya masih optimis. Salesnya sejak IPO di Desember 2013, memang masih turun. Tapi perusahaan beralasan bahwa daya beli masyarakat memang tergerus sejak kenaikan BBM. Dan nanti apabila ekonomi sudah membaik, manajemen yakin demand terhadap produk-produk mereka juga akan meningkat.Â
Tapi karena SIDO ini baru IPO, maka belum banyak data keuangannya yang bisa kita jadikan pembanding. Dari laporan tahunan 2014, terlihat bahwa dari 2011 hingga 2014, sales tertinggi berada di thn 2012. Tapi labanya selalu naik sejak 2011.
Di Q1/2015, penjualan SIDO msh turun 2% tapi laba bersihnya naik 1% krn efisiensi yang dilakukan perusahaan.Â
Kita coba analisa LK Q1/2015 SIDO, ya.. Â LK-nya bisa didonwload di :
http://www.idx.co.id/id-id/beranda/perusahaantercatat/laporankeuangandantahunan.aspx, tinggal masukkan kode SIDO dan pilih tahun 2015 periode Triwulan 1.
LK Q1/2015 SIDO (juta rupiah)
Bagian 1, NERACA
Asset lancar = 1.837.681
Liabilitas jangka pendek = 148.673
Modal kerja = 1.689.008
Karena modal kerjanya positif, maka perusahaan tidak mengalami resiko likuiditas (alias liabilitas jangka pendek yang jatuh tempo bisa dilunasi dengan asset lancar yang ada).
Jumlah utang = 153.375
Jumlah saham = 15.000.000.000 lembar
jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk = 2.752.686 –> growth = 4,48%
Book Value =Â 2.752.686.000.000 :Â 15.000.000.000Â = Rp 183,51
jumlah ekuitas = 2.752.686
DER = jumlah utang : jumlah ekuitas =Â 153.375 :Â 2.752.686 = 0,05x —> utang SIDO sangat kecil, perusahaan bekerja semaksimal mungkin dengan memanfaatkan dana yang didapat ketika IPO. Perusahaan relatif aman dari resiko bangkrut karena hutang.
Bagian 2, Laporan Laba Rugi
Penjualan = 509.417 —> growth = minus 2,04%
Laba kotor =Â 314.799
Marjin laba kotor =Â Â 314.799 : 509.417 = 61,8%
Laba bersih tahun berjalan = 118.026 —> growth 1,83%
Marjin laba bersih =Â 118.026 :Â 509.417Â = 23,17% —> marjin laba bersih perusahaan cukup tinggi, sehingga perusahaan akan relatif lebih survive dalam situasi ekonomi yang sulit
EPS = Rp 7,9 –> growth = 2,2%
ROE = (118.026 x 4) :Â 2.752.686 = 17,15%
Bagian 3, Laporan Arus Kas
arus kas operasi = 131.872 —> arus kas operasi > dari laba bersih —> perusahaan relatif sehat secara operasional
capex = 44.209 —> growth = 585,94% (perusahaan banyak melakukan ekspansi di awal thn ini, semoga hasilnya akan terlihat pada kinerja perusahaan di tahun-tahun mendatang)
kas = 902.862
@ 530, PER = 530 : (4 x 7,9) = 16,78x —> karena di Q1 sdh ada pertumbuhan laba, maka PER di bawah 20x untuk saham consumer, menurut saya masih murahÂ
      PBV = 530 : 183,51 = 2,9x
     Â
      Yield = ROE : PBV = 17,15 : 2,9 = 5,91%
      Valuasi wajar dengan metode yang digunakan di blog ini = Rp 403,92 — MOS = minus 31,2% (alias SIDO kemahalan dengan metode valuasi di sini. Tapi memang metode valuasi ini sering menghasilkan harga wajar yang sangat rendah untuk saham-saham consumer, infrastruktur, dll (biasanya saham dengan PER yang tinggi, di atas 15x).
Sekarang coba kita liat TA SIDO. Karena SIDO ini baru IPO di Desember 2013, jadi data chartnya juga belum terlalu banyak.Â
Kalo dengan chart daily, SIDO masih berada di bawah MA 200, MA 100 dan MA 60-nya. Tapi sudah di atas MA 5 dan MA 20. Alias harga SIDO memang sedang naik dalam 20 hari belakangan ini.. MACD daily masih di bawah 0 (bearish) tapi sudah golden cross.Â
Chart weekly, SIDO berada di bawah MA 20 dan 60 weekly. MACD di bawah 0 dan sudah golden cross.
Chart monthly, SIDO sudah 15 bulan ini turun terus, bahkan sudah di bawah harga IPO-nya di Rp 580.
Karena laba dan ekuitasnya terus naik sejak SIDO IPO, dan harganya turun terus beberapa belas bulan ini, dan SIDO akan membagi deviden sebesar Rp 24 ( 87% dari laba 2014) cum date 21 mei 2015 ini, saya putuskan masuk ke SIDO di 530.Â
Resiko yang saya hadapi adalah : karena deviden yield yang cukup besar (skitar 4,5%), maka mungkin saja setelah ex date harganya akan dibanting melebihi deviden yang diberikan. Tapi krn saya memang niat untuk hold long term (krn ini saham consumer, bukan komoditas), jadi saya ambil resiko harga turun dalam setelah ex date.. Tapi kalo turunnya ga sebesar devidennya, ya berarti itu rejeki buat saya.. 🙂
Beberapa investor kurang suka bila suatu emiten membagikan deviden terlalu besar. Mereka menganggap bahwa manajemen emiten tidak melihat peluang yang baik untuk mengembangkan perusahaan di masa depan. Tapi belajar dari kasus UNVR yang sering membagikan deviden dalam porsi yang sangat besar (dan UNVR juga saham consumer), bahwa bisa jadi pandangan investor yang seperti itu tidak selalu benar. Buktinya UNVR terus berkembang aja sales dan labanya sampai sekarang.. 🙂 Tapi kalo SIDO, ya kita belum tau, karena recordnya listing di bursa juga belum lama. Tapi semoga saja manajemen SIDO kredibel seperti manajemen UNVR.. 🙂
Ok, ini saja sepertinya tulisan saya tentang SIDO.
Tahun ini, saya mau membuat porto saya semakin gendut, jadi skitar 15 saham. Biasanya saya hanya pegang maksimal 12-13 saham aja. Tapi krn dana kelolaan saya semakin besar (saya selalu menyisihkan uang tiap bulan untuk investasi saham) dan saya ingin menjadi investor yang lebih pasif lagi stelah beli saham (maksudnya : mencoba untuk ngga langsung jual kalo laba turun), jadi saya butuh portofolio yang lebih terdiversifikasi lagi.. Tujuannya ya biar saya bisa tidur tenang sehabis beli saham.. :))
Sekarang saya masih ada cash 25% lagi. Ini lagi nunggu ihsg turun agak dalam biar bs nambah saham-saham bluechip lagi.. tapi nunggu ihsgnya kok ngga turun-turun yahh.. sampe gemes.. hehe..Â
Seperti biasa, your money, your responsibility. Kalo rugi tanggung sendiri, ngga dapat barang jg tanggung sendiri.. 🙂
Regards,
V3
ADVERTISEMENT








