sebaik baik bentuk. Terasa betul bahwa anggota tubuh kita tak ada yang kurang.
Semua serasi, sesuai serta sempurna.
bentuk yang sebaik baiknya. (Q.S at Tiin 5).
bukan tiada maksud. Dan maksud paling utama diciptakan manusia adalah untuk
menyembah, beribadah dan mengabdi kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman :
إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Q.S adz Dzariyat 56).
manusia dengan sebaik baik bentuk adalah juga untuk memudahkannya dalam
menjalani kehidupan serta untuk memudahkannya pula memenuhi dan melaksanakan
ibadah yang diperintahkan Allah Ta’ala.
diberi nikmat berupa sebaik baik bentuk lalu tak digunakan sesuai tujuan
penciptaannya. Yang lebih parah lagi adalah menggunakan anggota tubuhnya untuk
bermaksiat kepada Allah Ta’ala.
paling utama dan penting adalah KEPALA DAN PERUT. Perhatikanlah jika seseorang
tak memiliki kaki atau tangan misalnya, maka dia masih bisa hidup meskipun ada
kekurangan. Tetapi ketika manusia tak memiliki kepala atau tak memiliki perut
maka hakikatnya dia tak bisa hidup.
yaitu otak, mata, telinga, mulut dan yang lainnya. Sedangkan perut hakikatnya
itulah badan manusia dan disitu terletak organ
hati dan yang lainnya.
adalah menjaga dua anggota tubuh ini
yaitu kepala dan perut agar selamat di dunia dan selamat pula di akhirat.
Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَتَحْفَظَ
الْبَطْنَ وَمَا حَوَى “
sebenarnya adalah engkau menjaga kepalamu dan setiap yang ada di sekitarnya,
begitu pula engkau menjaga perutmu serta apa yang ada di dalamnya. (H.R at
Tirmidzi, Hadits Hasan, dari Abdullah bin Mas’ud. Hadits ini hasan).
Rajab al Hambali berkata : Yang dimaksud dengan menjaga kepala termasuk setiap apa yang ada di sekitarnya. Termasuk pula di dalamnya adalah menjaga pendengaran,
penglihatan dan lisan dari berbagai keharaman.
yang dimaksud menjaga perut dan segala apa yang ada di dalamnya, termasuk di
dalamnya adalah menjaga hati dari terjerumus kepada yang haram. (Jaami’ul ‘Ulum
wal Hikam)
Ibtila’ disebutkan bahwa : (1) Menjaga kepala dan apa yang terkumpul padanya,
termasuk di dalamnya adalah menjaga PENDENGARAN, PENGLIHATAN DAN LISAN dari
perkara perkara yang diharamkan Allah Ta’ala. (2) Menjaga perut dan apa yang
berhubungan dengannya yaitu meliputi PENJAGAAN HATI dari sesuatu yang haram.
Allah Ta’ala berfirman :
فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
DI DALAM HATIMU maka takutlah kepada-Nya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha
Pengampun, Maha Penyantun. (Q.S al Baqarah 235).
perut Allah kumpulkan dalam firman-Nya :
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan
dan hati nurani, semua akan diminta pertanggung jawabannya. (Q.S
al Isra’’36).
perut adalah menjaganya agar senantiasa tidak dimasuki oleh makanan dan minuman
yang haram baik dari segi dzatnya maupun cara mendapatkannya.
ash Shiddiq ketika pada suatu kali beliau tanpa sengaja memakan sesuatu yang
haram. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Shahihnya.
radliallahu ‘anhu yaitu ‘Aisyah radhiallahu’anha, menceritakan bahwa Abu Bakar
ash Shiddiq memiliki seorang budak yang setiap hari memberi setoran berupa
harta atau makanan. Setoran tersebut beliau gunakan untuk makan sehari-harinya.
Suatu hari, budak tersebut membawa makanan dan Abu Bakar memakannya seperti biasa.
apa yang anda makan ini ?. Beliaupun balik bertanya : Makanan ini dari mana ?.
ia dapatkan sebagai hadiah dari seseorang yang dia tipu saat melakukan praktik
perdukunan di zaman Jahiliyah. Setelah mendengar pengakuan budaknya itu Abu
Bakar segera memasukkan jari tangan beliau ke dalam mulut, lalu beliau memuntahkan
semua makanan dalam perut beliau.
beiman dalam menjaga apa yang akan dia makan atau dia minum sebagai upaya
menjaga perut.
paling utama yang harus dilakukan oleh orang orang beriman dan tak boleh
diabaikan sedikitpun adalah bertauhid atau meng-Esakan Allah, serta menjaga
batas batas yang telah ditetapkan Allah baik berupa perintah maupun
larangan-Nya agar selamat di dunia dan di akhirat.
Wallahu A’lam. (1.530)





































