Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam adalah tentang adab dan akhlak seorang muslim terhadap tetangganya yaitu :
MENYUKAI KEBAIKAN BAGI TETANGGA SEBAGAIMANA SESEORANG ITU MENYUKAI
KEBAIKAN ATAS DIRINYA. Ini
dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabda beliau :
النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: “وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ
عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.”.
Shallallahu ‘alaihi Wasallam, beliau bersabda :
tidaklah (sempurna) beriman seorang hamba sampai dia menyukai bagi tetangganya
kebaikan yang dia suka untuk dirinya. (Muttafaqun ‘alaih).
adalah bahwa jika seseorang mendapat nikmat maka tetangga ikut senang.
Sebaliknya jika seseorang mendapat cobaan atau musibah maka tetangga ikut
bersedih dan mendoakan kebaikan baginya.
tidak memiliki sikap yang demikian terhadap tetangganya. Barangkali
sifat hasad ada pada dirinya. Diantara contohnya adalah : (1) Ketika tetangga
yang biasa membeli sayur saja lalu sekarang bisa membeli ikan maka tetangga
yang hasad ini merasa ketulangan. (2) Ketika tetangga membeli kulkas maka
tetangga yang hasad ini merasa kedinginan. (3) Ketika tetangga membeli mobil
maka tetangga yang hasad ini merasa panas dingin.
penting dalam kehidupan bermasyarakat dan mengharus yang satu berbuat baik
kepada yang lain. Perhatikanlah bagaimana Rasulullah telah mengingat hal ini
dalam sabda beliau :
بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta
waris (H.R Imam Bukhari 6014 dan Imam Muslim 2625).
beriman untuk berbuat baik kepada tetangga, sebagaimana firman-Nya :
اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي
الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ
الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan BERBUAT BAIKLAH kepada kedua
orang tua, karib kerabat, anak anak yatim, orang orang yang miskin, TETANGGA
DEKAT DAN TETANGGA JAUH, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh
Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S an Nisa’
36)
tetangga dekat yang memiliki dua hak yaitu hak bertetangga dan hak kekerabatan
maka dia memiliki hak dan perbuatan baik atas tetangganya dan ini menurut
kebiasaan yang berlaku.
tidak memiliki tali kekerabatan dan tetangga yang paling dekat rumahnya memilki
hak yang paling lebih besar. Karena itu, seyogyanya seorang tetangga selalu
berusaha memberikan tetangganya hadiah, sedekah, dakwah dan kelembutan dengan
perkataan maupun perbuatan serta tidak mengganggunya baik dengan perkataan
maupun perbuatan. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).
umat beliau tentang kewajiban berbuat baik kepada tetangga, diantaranya adalah
:
tetangga.
cara berbuat baik kepadanya. Jangan abaikan ini karena ini diperlukan untuk
menjaga hubungan agar tetap baik diantara tetangga. Rasulullah bersabda :
وَالْيَوْمِ الاَخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. (H.R Imam Bukhari dan
Imam Muslim).
berupa hadiah kepada tetangga meskipun dengan sesuatu yang sederhana.
Rasulullah bersabda :
تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسَنَ شَاةٍ
Wahai wanita muslimah ! Janganlah kalian meremehkan PEMBERIAN KEPADA TETANGGA
meskipun hanya kikil (kaki kambing). H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).
kepada tetangga adalah bersabar atas gangguannya. Sungguh bersabar adalah salah
satu perbuatan mulia. Bersabar atas gangguan tetangga adalah perbuatan baik
yang akan mendapat balasan kebaikan pula. Allah berfirman :
kecuali kebaikan pula. (Q.S ar Rahman 60).
tetangga.
berkata, ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam
:
رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ،
وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟
sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari.
Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu
tetangganya.
‘alaihi wa sallam menjawab,
خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ
dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.
تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتُصْدِقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلاَ تُؤْذِي أَحَداً؟
(hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia tidak
mengganggu tetangganya.
مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
surga. (Lihat ash Shahihah)
berusaha berbuat kebaikan kepada tetangganya. Insya Allah ada manfaatnya bagi
kita semua. Walahu A’lam. (1.374).







































