UJIAN
atau cobaan. Allah Ta’ala telah
mengingatkan dalam firman-Nya :
يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ
الْكَاذِبِينَ
dibiarkan hanya dengan mengatakan : Kami telah beriman, sedang mereka tidak
diuji ?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang orang sebelum mereka, maka
Allah pasti mengetahui orang orang yang benar
dan pasti mengetahui orang orag yang dusta. (Q.S al Ankabut 2-3).
manusia mengira bahwa ujian atau cobaan itu hanyalah berbentuk kesempitan,
kekurangan harta, penyakit dan selainnya yang tidak menyenangkan. Ini adalah
perkiraan yang keliru, tidak tepat.
duanya adalah ujian. Kebaikan yang didapat ataupun keburukan keduanya juga
ujian. Berhasil ataupun gagal, keduanya juga ujian.
Diantaranya adalah dalam firman-Nya :
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan
(yang sebenar benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.
Kami (Allah Ta’ala) akan menguji kalian dengan kesempitan dan kelapangan,
kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan. Dengan sesuatu yang halal dan
yang haram, ketaatan dan kemaksiatan petunjuk dan kesesatan.
Abbas dikatakan : Dengan kelapangan dan
kesempitan, yang kedua duanya adalah ujian.
berkata : Kami akan menguji mereka dengan sesuatu yang mereka sukai dan mereka
benci. Kami akan menguji mereka dengan semua itu untuk mengetahui tingkat
kesyukuran mereka terhadap hal hal yang mereka cintai dan tingkat kesabaran
mereka terhadap hal hal yang mereka benci. (Tafsir
Ibnu Jarir at Thabari).
Akan tetapi Allah menciptakan para hamba-Nya di dunia untuk diperintah dan
dibatasi dengan larangan. Serta untuk menguji mereka dengan takdir yang baik
ataupun yang buruk, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan kemuliaan dan
kehinaan, dengan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian dari Allah Ta’ala.
(Tafsir Karimir Rahman).
siapakah yang paling baik amalannya (Q.S al Kahfi 7). Lihat Tafsir Karimir Rahman.
وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
baik dan (bencana) yang buruk buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).
Kami akan menguji mereka berupa kelapangan dalam hidup, kemewahan di dunia,
keleluasaan dan kelapangan rezki. Semua itu adalah kenikmatan yang baik
sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subahanhu wa Ta’ala tersebut diatas. Sedangkan maksud hal hal
yang buruk adalah kesempitan dan kesengsaraan dalam hidup, musibah dan
kekurangan harta.
: Maksud dari ayat diatas adalah Kami akan menguji mereka dengan kelapangan dan
kesempitan, kesenangan dan kebencian serta kesehatan dan musibah. (Tafsir Ibnu
Katsir).
di uji dan ujian itu tidaklah hanya
berupa keburukan tapi ujian itu bisa
pula berupa kebaikan. Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam
firman-Nya :
فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ
مُخْتَالٍ فَخُورٍ
luput dari kamu dan tidak pula terlalu bergembira terhadap yang diberikan-Nya
kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.
(Q.S al Hadiid 23).
orang beriman haruslah bersyukur dan ketika diuji dengan keburukan haruslah bersabar. Ketahuilah bahwa berapa banyak orang yang ketika diuji dengan kesusahan dia lulus tapi sering gagal ketika diuji dengan kesenangan.
Wallahu A’lam. (1.330)





































