Azwir B. Chaniago
berakal yaitu hamba hamba Allah yang banyak mengingat-Nya dalam setiap
keadaannya. Allah Ta’ala berfirman : “Alladziina yadzkuruunallaha
qiyaman wa qu-‘uudan wa ‘ala junubihim wa yatafakkaruuna fii khalqis
samaawaati wal ardhi” (Orang yang berakal yaitu) orang orang yang mengingat
Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi. (Q.S Ali Imran 191).
beriman, ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (Nama-Nya) sebanyak banyaknya.
Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (Q.S al Ahzaab 41)
Darda’, Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dzikir adalah amalan
terbaik yang keutamaannya mengungguli pahalla membebaskan budak, menafkahkan
harta dan berperang dijalan Allah dengan membunuh (musuh) ataupun terbunuh
(syahid).
Raja kalian, yang paling meningkatkan derajat kalian, dan lebih baik bagi
kalian daripada memberikan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian
daripada bertemu musuh, lalu kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal
leher kalian ? Para
sahabat menjawab : Tentu saja wahai Rasulullah. Maka beliau salallahu ‘alaihi
wasallam bersabda : “Yaitu dzikir kepada Allah ‘azza
wa Jalla”. (H.R Imam Ahmad, Imam Ibnu Majah, al Hakim
dishahihkan oleh Syaikh al Albani).
sekali nash syariat yang menjelaskan keutamaan dzikir yang lebih dari sedekah
dengan harta dan amalan ketaatan lainnya. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)
bahwa ini tidak berarti mengecilkan keutamaan membebaskan budak dan berinfak di
jalan Allah, tetapi maksudnya adalah menjelaskan dan mengunggulkan keutamaan
dzikir dan menjelaskan pentingnya dan tingginya kedudukan dzikir.
diketahui bahwa berdzikir kepada Allah
Ta’ala adalah ibadah bahkan seutama utama ibadah. Dan ketahuilah bahwa sifat ibadah
haruslah mengikuti contoh yang diajarkan Rasulullah termasuk dalam hal
berdzikir. Oleh karena itu setiap hamba berkewajiban memilih dan hanya
mengamalkan dzikir dzikir yang lafazh dan caranya telah diajarkan Rasulullah
salallahu ‘alaihi wasallam.
tentang adanya amal yang tertolak yaitu sebagaimana dijelaskan dalam sabda
beliau : “Man ‘amila ‘amalan
laisa ‘alaihi amruna fahuwa raddun” Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada petunjuk
kami maka amalan itu tertolak. (H.R Imam Muslim).
bahwa sesungguhnya doa dan dzikir adalah termasuk ibadah yang sangat utama.
Ibadah itu harus didasari dengan sikap ittiba’ (mengikuti jejak) Nabi dengan
konsekwen dan konsisten. Bukan dengan mengikuti hawa nafsu dan bukan pula
mengada ada, membuat sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya . (Majmu’
Fataawa).
atau mengingat Allah maka kebaikan dzikirnya akan kembali kepadanya. Dia akan
menikmati manfaat dari dzikir. Diantaranya
adalah membuat
hati menjadi tentram.
quluu buhum bi dzikrillahi, alaa bidzikrillahi tathma-iinul quluub” (Yaitu)
orang orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat
Allah, Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. (Q.S ar
Ra’du 28).
menjadi tentram dengan mengingat Allah” maksudnya, kegundahan dan
kegelisahan hati mereka lenyap dan berganti dengan kebahagiaan hati dan
kenikmatan kenikmatannya.
dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” maksudnya semestinya dan sudah
seyogyanya kalbu itu tidak menjadi tenang dengan sesuatu selain dengan
mengingat-Nya. Karena tidak ada yang lebih nikmat, lebih memikat dan lebih
manis bagi kalbu ketimbang (kenikmatan dalam) mencintai Penciptanya, berdekatan
dan mengenal-Nya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).
banyak mengingat Allah, dengan berdzikir
pada setiap waktu dan keadaan yaitu dengan menggunakan lafazh lafazh dzikir yang telah
diajarkan Rasulullah. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu
A’lam. (994).







































