Azwir B. Chaniago
fakta yang sebenarnya.
kesaksian itu bertentangan dengan fakta sebenarnya atau sesuai dengan fakta
sebenarnya.
sesuai dengan faktanya tetapi ia menggambarkannya dengan sesuatu yang tidak
sesuai dengan kenyataan.
kebanyakan manusia untuk memberikan persaksian palsu baik di pengadilan maupun
di luar pengadilan. Manusia melakukan kesaksian
palsu pada umumnya untuk mendapatkan keuntungan yang secuil dalam perkara perkara dunia. Diantaranya
adalah untuk mendapatkan harta, pangkat, jabatan dan yang lainnya lalu
menzhalimi orang lain. Ketahuilah bahwa di akhirat mereka tidak akan mendapat
apa apa kecuali adzab dari Allah Ta’ala.
persaksian palsu berarti dia telah melakukan dua kezhaliman.
karena telah melakukan sebuah dosa besar. Dia beranggapan telah berbuat baik
membantu saudaranya untuk mendapatkan sesuatu dengan bantuan persaksian
palsunya.
memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berlaku zhalim agar mendapatkan
sesuatu yang bukan haknya. (Lihat Syarah Kitab al Kabair).
Rasulullah Salalllahu ‘alaihi wasallam menyebut beberapa dosa besar atau
ditanya tentang dosa dosa besar, maka
beliau bersabda : “Yaitu
mempersekutukan Allah, membunuh jiwa, menyakiti kedua orang tua”. Beliau
bertanya : maukah kalian aku beritahu dosa yang cukup besar ?. Yaitu perkataan
dusta, atau beliau bersabda : Saksi palsu.
(H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).
bersabda : Maukah kamu aku beritahu
tentang dosa yang paling besar ?. Kami menjawab : Mau ya Rasulullah. Beliau
bersabda : “Yaitu mempersekutukan Allah,
menyakiti kedua orang tua”. Sambil duduk bersandar, beliau bersabda lagi : “Ketahuilah, juga perkataan dusta dan saksi
palsu”. Kalimat ini diulang ulang beliau, sampai sampai kami berkata dalam
hati : Semoga beliau diam (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Bakrah tersebut diatas, Imam as Syaukani berkata : Rasulullah sangat
memperhatikan kesaksian dusta ini karena kesaksian dusta itu sangat mudah dilakukan manusia dan manusia
sering melecehkannya. Sesungguhnya orang yang tega memberikan kesaksian
palsu atau kesaksian dusta itu karena di latar belakangi oleh rasa permusuhan
dan rasa iri dan dengki. (Lihat Nailul Authar).
untuk melakukan perbuatan dusta dan yang lebih berat dalam hal dusta adalah
persaksian palsu. Allah berfirman : “Fajtanibur
rijsa minal autsaani wajtanibuu qaulaz zuur” . Maka jauhilah (penyembahan)
berhala berhala yang najis itu dan jauhilah
perkataan dusta. (Q.S al Hajj 30).
benar imannya akan selalu menjauhi persaksian palsu karena ini termasuk dalam
kelompok dosa dosa besar yang hakikatnya bukanlah sifat orang yang beriman.
mukmin tidak memiliki watak pengkhianat atau pendusta. Beliau bersabda : “Yuthba’ul mu’minu ‘alaa kulli syai-in laisa
khiyaanata wal kadzib”. Watak seorang
mukmin bisa bermacam macam kecuali (tidak) untuk berwatak pengkhianat atau
pendusta. (H.R Imam Ahmad).
adalah disebutkan dalam firman-Nya : “Walladziina laa yasyhaduunaz zuur” Dan
orang orang yang tidak memberikan kesaksian palsu. (Q.S al Furqaan 72).
kita semua. Wallahu A’lam. (969)




































