Azwir B. Chaniago
Allah Ta’ala memiliki nama nama yang indah yang disebut dengan Asmaa-ul Husna
yaitu nama nama yang paling indah. Setiap nama Allah memiliki dan memuat sifat
yang sesuai dengan sifat itu.
asmaa-ul husnaa”. (Dialah) Allah,
tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai nama nama yang terbaik. (Q.S Thaha
8).
Sami’ yang bermakna Yang Maha Mendengar. Nama ini memuat sifat sama’. Sifat sama’ bagi Allah adalah sifat Dzaatiyah
yaitu sifat yang selalu atau terus menerus ada pada diri-Nya. Nama dan sifat
ini disebutkan dalam banyak ayat, diantaranya : “Sungguh Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan
kepadamu (Muhammad) tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah dan
Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar, Maha Melihat.” (Q.S al Mujadilah
1).
mengutus Nabi Musa dan Harun untuk berbicara (memberi nasehat). Lalu timbul
rasa khawatir dari keduanya jangan jangan Fir’aun akan berlaku buruk kepada mereka
berdua. Lalu Allah befirman : “Dia (Allah) berfirman, Janganlah kamu
berdua khawatir sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku Maha Mendengar dan
Maha Melihat”. (Q.S Thaha 46).
Allah tidaklah sama dengan sifat mendengar makhluk-Nya. Wajib bagi kita menolak
tamsil atau menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Allah berfirman : “Laisa kamitslihi syai-un wa huwa samii’ul
bashiir”. (Q.S asy Syura 11).
Muhsin al Badr berkata : As Sami’ adalah Dzat yang mendengar semua suara dengan
berbagai bahasa dan berbagai permintaan. Tidak ada beda bagi-Nya suara yang
lirih maupun yang keras. “Sawaa-un minkum
man asarral qaula wa man jahara bihii waman huwa mustakhfin bil laili wa
saaribun bin nahaar”. Sama saja (bagi Allah) siapa diantara kamu yang merahasiakan ucapannya dan siapa yang
berterus terang dengannya. Dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang
berjalan (menampakkan diri) di siang hari. (Q.S ar Ra’d 10).
Pendengaran-Nya meliputi semua suara. Tidak tercampur baur bagi-Nya suara dan
tidak tersamarkan sama sekali. Suatu suara tidak menyibukkan-Nya dari suara
yang lain dan tidak pula terabaikan segala bentuk permintaan dan juga tidak
melelahkan-Nya (karena) banyaknya
manusia yang memohon.
manusia, dari yang pertama hingga terakhir, mereka berada di satu bukit
kemudian mereka memohon kepada Allah pada waktu yang bersamaan. Setiap orang
memohon kepada Allah kebutuhannya masing masing semua berbiara dengan logat
masing masing sungguh Allah akan mendengar semua ucapan mereka. Tidak ada
tumpang tindih dalam hal suara, bahasa dan kebutuhan. (Lihat Fiqih Asmaa-ul
Husna).
kokoh dari seorang hamba terhadap nama Allah as Sami’ dan sifat Sama’ akan
mendatangkan pengaruh yang sangat baik baginya, diantaranya :
terus berdzikir dan berdoa kepada-Nya.
meyakini bahwa Rabb-nya Maha Mendengar dan Maha Mengetahui maka dia akan
semakin bersemangat untuk berdzikir dan berdoa kepada-Nya. Si hamba yakin
dzikirnya akan didengar dan doanya akan diijabah oleh Yang Maha Mendengar.
Nabi Isma’il berdoa ketika setelah menjalankan perintah Allah Ta’ala untuk
meninggikan bangunan Ka’bah. Hal ini
adalah sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya : “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah (Ka’bah)
bersama Ismail (seraya berdoa). Ya Rabb kami terimalah (amal) dari kami.
Sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui”. (Q.S al Baqarah
127).
Rabb-nya adalah Maha Mendengar, maka tidaklah dia akan memaksakan diri untuk
berdoa dengan suara keras. Dia akan berdoa dengan penuh adab yaitu dengan suara
lirih yang didengar oleh dirinya dan Rabb-nya saja serta dengan sikap
merendahkan diri.
mengajarkan orang beriman untuk berdoa dengan suara lirih. Allah berfirman : “Ad’uu rabbakum tadharru’an wa khufyatan
innahuu laa yuhibbul mu’tadiin”. Berdoalah kepada Rabb-mu dengan berendah
diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang
melampaui batas. (Q.S al A’raf 55).
terangan yang ditakutkan timbulnya riya’. Akan tetapi dengan lembut dan ikhlas
kepada-Nya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).
Zakaria Allah Ta’ala berfirman bahwa dia berdoa dengan suara yang lembut : “(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan
tentang rahmat Rabb kamu kepada hamba hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia
berdoa kepada Rabb-nya dengan suara yang lembut”. (Q.S Maryam 2-3).
seorang hamba berdoa dengan suara lirih dan merendahkan diri karena Allah Maha
Mendengar. Dan ini merupakan salah satu ada berdoa yang diajarkan Allah Ta’ala.
Mendengar. Jadi tidaklah ada kebutuhan untuk berdzikir dengan mengeraskan
suara. Sungguh Allah Ta’ala
memerintahkan berdzikir dengan suara pelan serta sikap merendahkan diri. Allah
berfirman : “Dan sebutlah (nama) Rabbmu
dalam hatimu (yaitu) dengan pelan dan dengan merendahkan diri serta rasa takut
dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu
termasuk orang orang yang lalai. (Q.S al A’raf 205).
termasuk adab yang sepantasnya seorang hamba menjaganya dengan sungguh sungguh.
Yaitu memperbanyak dzikrullah, diwaktu malam dan siang, dengan ikhlas, khusyu’,
merendahkan diri, menghinakan diri, tenang, hatinya sesuai dengan lisannya,
dengan adab, kehormatan, menghadapkan diri dan berkosentrasi terhadap doa dan
dzikir dan tidak lalai. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengabulkan doa
dari hati yang lalai dan tidak perhatian. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).
Wasallam juga memerintahkan untuk berdzikir dengan suara pelan. Ini dijelaskan
dalam sabda beliau. Dari Abu Musa al Asy’ari, dia berkata : Ketika Rasulullah
memerangi atau menuju Khaibar, orang orang mendaki sebuah lembah maka mereka
mengeraskan suara mereka dengan bertakbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa
ilaaha illa Allah. Maka Rasulullah bersabda : “Rendahkanlah suaramu sesungguhnya kamu tidak menyeru kepada (Dzat) yang
tuli dan tidak hadir. Bahkan kamu menyeru kepada (Dzat) Yang Maha Mendengar dan
Maha dekat dan Dia bersama kamu”. (H.R Imam Bukhari no. 4205 dan Imam
Muslim no. 2704).
diperoleh seorang hamba yang meyakini dengan sangat tentang nama Allah as Sami’
Maha Mendengar, maka akan mendorong
dirinya untuk selalu menjaga lisannya agar mendapat keselamatan. Tidaklah dia
akan berbicara kecuali yang baik dan selalu menghindari perkataan yang membuat
dirinya dilemparkan ke neraka.
hamba bahkan bisa melemparkannya kedalam neraka. Rasulullah Salallahu ‘alaihi
Wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang
hamba mengucapkan suatu kata yang Allah ridhai dalam keadaan tidak terpikirkan
oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut
berakibat sesuatu, ternyata dengan kata tersebut Allah mengangkatnya beberapa
derajat.
mengucapkan suatu kata yang Allah murkai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh
benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut
berakibat sesuatu ternyata karenanya Allah melemparkannya ke dalam neraka
Jahannam.”
(H.R Imam Bukhari).
mengabarkan ancamannya yang sangat keras ketika orang Yahudi berkata dengan
suatu perkataan yang sangat lancang dan tidak pantas diucapkan oleh mulut
mereka. Allah berfirman : “Sungguh, Allah
telah mendengar perkataan orang orang (Yahudi) yang mengatakan; Sesungguhnya
Allah Allah itu miskin dan kami kaya. Kami akan mencatat perkataan mereka dan
perbuatan mereka membunuh nabi nabi tanpa hak (alasan yang benar) dan Kami akan
mengatakan (kepada mereka); Rasakanlah olehmu adzab yang membakar !. (Q.S
Ali Imran 181).
pula bahwa Dia mendengar segala bisikan mereka dan semua pasti dicatat oleh
malaikat malaikat-Nya. Allah berfirman : “Ataukah
mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan bisikan mereka ?.
Sebenarnya (Kami mendengar) dan utusan
utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi mereka”. (Q.S az Zukhruf 80).
kita semua. Wallahu A’lam. (938).





































