Azwir B. Chaniago
orang menginginkan kemuliaan bagi dirinya. Berbagai kegiatan dilakukan.
Diantaranya berusaha agar dapat ilmu yang banyak dan gelar yang berderet di
depan dan di belakang namanya. Ada pula yang tak henti hentinya mengejar pangkat dan jabatan yang tinggi, mengumpulkan
harta yang banyak, kehebatan penampilan dan yang lainnya. Sebagian manusia
dengan susah payah memang ada yang mendapatkannya.
pangkat dan jabatan, harta, penampilan dan lainnya itu memang terkadang membuat
orang orang kagum bahkan menjadi acuan untuk memuliakan seseorang. Lalu datang
pertanyaan : Apakah keadaan yang demikian membuat seseorang menjadi mulia ?.
Kalaupun mulia di mata siapa ?.
belum tentu membuat seseorang menjadi mulia. Kalaupun iya mendapat kemuliaan
yang dia kejar, itupun sangat sementara, fana. Bisa jadi kemuliaannya itu hanya
dimata manusia tapi belum tentu mulia di sisi Allah.
Allah Ta’ala kepada hamba hamba-Nya yang selalu berpegang kepada al Qur an. Mereka adalah hamba hamba Allah yang
senantiasa mempelajari al Qur an, selalu membacanya, menghafalnya, berusaha
memahami makna maknanya, mengamalkannya, mengajarkan serta berdakwah dengannya.
dzikrikum afalaa ta’qiluun”. Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kalian sebuah Kitab (al Qur
an) yang di dalamnya terdapat sebab
sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya. (Q.S al Anbiya’
10).
Abdurrahman as Sa’di berkata : Yakni jika kalian (1) Meyakini berita
didalamnya. (2) Mengambil pelajaran darinya. (3) Melaksanakan perintah perintahnya dan
menjauhi larangan larangannya, niscaya kemuliaan kalian akan terangkat dan
menjadi umat yang disegani.
kebanggaan dan ketinggian bagi kalian. Bukti kebenaran ayat ini adalah
berupa fakta yang ada. Orang orang yang telah mengamalkan al Qur an yaitu para
sahabat dan generasi setelahnya memperoleh keunggulan, ketinggian, wibawa yang
besar dan kemuliaan yang mencengangkan di hadapan para raja. Hal ini telah
diketahui oleh semuanya.
telah menimpa generasi muslimin yang mengabaikan al Qur an dan tidak mau
mengamalkan isinya, mereka mendapat murka dari Allah, kerendahan, kehinaan dan
kemalangan. Oleh karena itu tidak ada jalan untuk memperoleh keberuntungan di
dunia dan akhirat kecuali dengan mengamalkan al Qur an. (Tafsir Taisir Karimir
Rahman).
yang mendapat kemuliaan terangkat derajatnya dengan al Qur an. Inilah kisahnya.
Pada suatu waktu Khalifah Umar bin Khaththab bertemu dengan Gubernur Makkah
saat itu yakni Nafi’ bin Harits di daerah Usfan. Wahai Nafi’ engkau berada di
sini lalu siapa yang telah engkau tunjuk sebagai pengganti sementara, sebagai
Gubernur Makkah.
Ibnu Abza sebagai Gubernur pengganti sementara. Lalu Amirul Mukminin bertanya :
Siapa Ibnu Abza. Dijawab : Ibnu Abza adalah bekas budak kami yang telah
dimerdekakan. Selanjutnya Amirul Mukminin berkata : Engkau mengangkat bekas budak jadi pengganti
sementara jabatan Gubernur?. Nafi’ menjelaskan : Ya benar Amirul Mukminin,
tetapi dia seorang yang sangat berilmu
terhadap Kitabullah dan juga ahli ilmu Waris.
Rasulullah : “Innallaha yarfa’u bihadzal kitabi aqwaaman wa yadha-u bihi
akhaarin” Sesungguhnya Allah
mengangkat dengan al Qur an beberapa kaum dan Allahpun merendahkan beberapa
kaum dengan al Qur an . (H.R Imam Muslim).
an karena al Qur an adalah merupakan
sebab yang mendatangkan kemuliaan bagi seorang hamba baik di dunia dan terutama sekali di akhirat
kelak.
(916)








































