aslinya adalah surga karena nenek moyang
kita berasal dari sana.. Kita tinggal di bumi ini sementara dan insya Allah
kita orang orang beriman akan kembali ke sana. Dunia adalah tempat kita
mengumpulkan bekal agar mendapat tempat yang baik di kampung halaman nanti.
Bahkan Allah Ta’ala menyeru kita untuk menuju ke surga dan memberi petunjuk untuk
itu.
shiraatin mustaqiim”. Dan Allah menyeru (manusia) ke Daarussalaam (surga)
dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus
(Islam) Q.S Yuunus 25.
agar bisa kembali ke negeri asal kita dengan selamat. Sungguh Allah telah
menjelaskan apa persiapan yang diperlukan. Dalam banyak ayat, Allah Ta’ala
telah menjelaskan bahwa untuk kembali kesana haruslah memiliki persiapan iman.
Iman bukan sekedar percaya tapi iman yang dengan rahmat-Nya membuahkan amal
shalih. Allah telah menjelaskannya dalam
firman-Nya, diantaranya adalah :
jannatin tajri min tahtihal anhaar” Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang
orang yang beriman dan beramal shalih bahwa untuk mereka (disediakan) surga surga yang
mengalir dibawahnya sungai sungai. (Q.S
al Baqarah 25).
dan mengerjakan amal-amal shalih dan merendahkan diri kepada
Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di
dalamnya. (Q.S Huud 23).
berfirman : “ Fa-ammaladziina aamanuu wa
‘amilush shalihaati fa yudkhiluhum rabbuhum fii rahmatihi dzaalika huwal fauzul
mubiin”. Adapun orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal saleh maka Rabb mereka memasukkan mereka ke
dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata. (Q.S al Jaatsiyah
30).
Ibnu Katsir berkata : Allah memberitahukan tentang keputusan yang Dia berikan
kepada semua makhluk-Nya pada hari Kiamat kelak. “Adapun orang orang yang beriman dan beramal shalih, yakni hati
mereka beriman lalu seluruh anggota badan mereka mengerjakan amal shalih
(yaitu) yang dikerjakan secara tulus dan sesuai dengan syariat “maka Rabb mereka memasukkan mereka kedalam
rahmat-Nya, yaitu surga. (Tafsir Ibnu Katsir).
saat ini kita diberi anugerah yang sangat besar yaitu iman yang dengan
rahmat-Nya, iman kita telah melahirkan amal amal shalih. Setiap saat kita
berusaha melakukan amal shalih sebagai buah dari iman yang ada dalam diri kita.
Namun kita perlu khawatir akan dua hal :
berfirman : “Sesungguhnya orang orang
yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat ayat-Nya
kepada mereka bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal. (Q.S al Anfaal 2).
ulama menjelaskan bahwa sesuatu yang bertambah bisa pula berkurang. Oleh karena
itu maka yang harus kita jaga jangan sampai iman kita turun apalagi hilang.
Kalau saat iman kita turun dan semangat kita beramal shalih melemah lalu kita
diwafatkan maka tentu akan mendatangkan
kerugian dan penyesalan selama lamanya.
dari keadaan akhirnya.
bersabda : “Innamal a’maalu bil khawaatim”. Sesungguhnya setiap amalan
tergantung pada akhirnya. (H.R Imam Bukhari).
dimaksud bil khawaatiim adalah amalan yang dilakukan di akhir umur atau akhir
hayat seseorang. Seberapapun baiknya amalan seseorang selama berpuluh puluh
tahun tetapi diakhir hayatnya ditutup dengan amal yang buruk misalnya melakukan
kesyirikan ataupun dosa dosa besar lainnya maka merupakan malapetaka baginya.
dalam Syarh Al-Muwatha’ menyatakan bahwa amalan akhir manusia itulah
yang jadi penentu dan atas amalan itulah akan dibalas. Siapa yang beramal jelek
lalu beralih beramal baik, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat.
Allah Ta’ala melahirkan amal shalih. Dan kita terus menerus berdoa kepada Allah agar diwafatkan dalam
keadaan husnul khatimah. : “Allahhumma inni as-aluka husnal khaatimah”.
Ya Allah sesungguhnya aku memohon husnul khatimah.
berkenan mengembalikan kita ke kampung halaman kita yang sebenarnya yaitu daarus salaam. Wallahu A’lam. (820)






































