berbagai perkataan memuji dan dipuji. Apakah setiap pujian
bermanfaat. Bagi sebagian orang mungkin adakalanya pujian membesarkan hatinya. Bisa
jadi pula memberi tambahan semangat dalam melakukan sesuatu. Namun demikian terkadang kita juga bertemu dengan orang yang tidak suka dipuji.
mereka menghindari dari berbagai pujian pada hal para ulama, dengan ilmu, amal
dan dakwahnya, sebenarnya pantas untuk mendapat pujian.
kita tentang memuji dan dipuji.
Pujian tidak akan berbahaya bagi orang yang sadar siapa dirinya. Seorang shalih
jika dipuji, maka ia berkata : “Ya Allah, mereka tidak mengenal diriku,
sedangkan Engkau Maha Mengetahui tentang diriku”.
bahwa pujian adalah salah satu musuh
ikhlas dalam beramal. Sifat suka
dipuji kata beliau bila bercampur dengan
ikhlas maka yang satu akan membunuh yang lain.
api dicampur dengan air, tidak akan pernah bersatu. Kalau apinya besar akan
membunuh air dan kalau airnya besar akan membunuh api. Sifat suka dipuji jika
bercampur dengan ikhlas adalah seperti juga biawak bercampur dengan ikan, yang
satu akan membunuh yang lain. Kalau ikannya lebih besar akan membunuh biawak
dan kalau biawaknya lebih besar maka akan membunuh ikan. (Lihat Fawaidul
Fawaid).
terutama sekali untuk menjaga keikhlasannya dalam beribadah karena keikhlasan
jika bercampur dengan sifat suka dipuji maka salah satunya akan mati. Melihat
pada kenyataan, yang sering terbunuh adalah ikhlas jika berhadapan dengan sikap
suka dipuji.
menganggap pujian sebagai salah satu bahaya lisan. Bahayanya, kata beliau, ada pada yang memberi pujian dan yang diberi pujian,
diantaranya :
memuji. Dia sebenarnya tidak tahu semua
keadaan orang yang dipuji. Bahkan ada kemungkinan pula bahwa yang memuji tidak
menyenangi orang yang dipuji, tapi memberi pujian karena mengharapkan sesuatu
atau karena memiliki kepentingan.
kadang kadang lupa diri, sehingga bisa jatuh pada ujub dan sombong dan ini
adalah dua jenis penyakit yang berbahaya. Bisa juga terjadi bahwa yang dipuji
berbesar hati dan merasa sudah lebih baik dari orang lain, sehingga melemahkan
semangatnya untuk memperbaiki diri.
Mu’minin tentang bagaimana menghadapi
pujian, yaitu :
“Apakah engkau akan merusak aku dan merusak dirimu ?.
dipuji seseorang beliau berdoa : “Ya Allah, ampunilah diriku karena sesuatu
yang tidak mereka ketahui. Jadikanlah diriku lebih baik daripada yang mereka
sangka”
dia sikapi secara bijak dan proporsional, diantaranya :
kemuliaan, itu adalah semu dan sangat sementara. Kemuliaan seorang hamba
tidak datang bersama pujian tapi kemuliaan itu datang dengan ketakwaan.
Allah berfirman : “Inna akramakum ‘indallahi atqaakum” Sesungguhnya yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (Q.S
al Hujurat 13).
yang memuji tidak mengetahui semua
keadaan dirinya. Apalagi yang ada didalam hatinya. Orang yang memuji biasanya
hanya ibarat melihat photo atau gambaran sesaat
tidak melihat video sebagai gambaran keseluruhan. Jika orang yang memuji
mengetahui seluruh keadaan orang yang dipuji tentulah dia tidak akan mau
memberi pujian.
maka haruslah berlaku bijak sehingga selamat dari perasaan ujub ataupun
perasaan sombong. Selain itu seorang yang dipuji bisa jadi merasa sudah hebat,
sudah merasa lebih baik dari orang lain. Ini bisa jadi akan melemahkan semangatnya
untuk mencapai prestasi berikutnya baik
dalam ilmu, amal dan yang lainnya.
jujur saja, sungguh kita ini tidak ada apa-apanya. Kita hanya seorang manusia
yang berlumur dosa yang sementara ini ditutupi aib-aibnya oleh Allah Ta’ala.
Kita hanya manusia lemah dan bodoh
sedikit sekali ilmu. Kita tidak tahu
kebodohan kita. Kita tidak mempunyai apa-apa kecuali yang sekadar dititipkan
Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk waktu yang sangat terbatas dan segera berakhir. Kalau Allah
Ta’ala mau mengambilnya, kapan saja, maka kita tidak kemampuan secuilpun untuk
menahannya. Lalu dengan keadaan yang demikian pantaskah kita dipuji ataupun
mengharapkan pujian ?.
beramal, berbuat baik katakanlah bisa mencapai prestasi yang mungkin
mengagumkan orang banyak ketahuilah bahwa itu semua adalah karena karunia dan
pertolongan Allah Ta’ala semata. Oleh karena itu maka Dzat yang pantas bahkan
wajib dipuji hanya Allah Ta’ala saja, bukan yang selain-Nya.
(781).






































