Azwir B. Chaniago
dirinya, keluarganya, hartanya dan yang lainnya. Allah berfirman : “Dan Kami pasti akan
menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar”. (Q.S al Baqarah 155)
cobaan, pastilah memiliki hikmah yang
sempurna. Bukan sesuatu yang sia sia. Allah berfirman : “Ya Rabb kami,
tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia sia. Mahasuci
Engkau, lindungilah kami dari adzab neraka” (Q.S Ali Imran 191)
mu’mini kamatsaliz zar’i, laatazaalur riihu tamiiluhu, walaa yazaalul mu’minu
yushiibuhul bala’. Perumpamaan seorang mu’min tak ubahnya seperti tanaman,
angin akan selalu meniupnya, ia akan selalu mendapat cobaan (H.R Imam Muslim).
:
diketahui apakah seseorang itu benar
benar beriman.
dibiarkan hanya dengan mengatakan beriman, dan mereka tidak diuji ? (Q.S
al Ankabuut 2).
menjelaskan bahwa : Dia (Allah) akan menguji mereka dengan kesenangan dan
kesengsaraan hidup, kesulitan dan kemudahan, hal hal yang membuat semangat dan
yang membenci, kekayaan dan kefakiran, dengan penguasaan musuh musuh terhadap
mereka pada saat tertentu serta berbagai cobaan lainnya. Sesungguhnya, kata
beliau, ujian dan cobaan bagi jiwa tak obahnya seperti alat tempa besi yang
memisahkan karat dan besi.
amalnya.
untuk menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya.” (Q.S al Mulk 2).
‘amala” yaitu amalan atau ibadah yang lebih baik. Imam Qadhi Iyadh menjelaskan
bahwa makna ahsanu ‘amala dalam ayat ini
adalah amalan yang ikhlas semata-mata karena Allah dan mengikuti
contoh yang diajarkan oleh Rasulullah.
mendapat ujian dan mereka menerima dengan sabar. Rasulullah bersabda :
“Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesedihan, gangguan,
kegundah gulanaan hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapuskan
sebagian dari kesalahan kesalahannya” (H.R Imam Bukhari dari Abu Hurairah).
dengan jelas bahwa ujian tersebut sebenarnya adalah bagian dari kasih sayang
Allah terhadap hambaNya. Sebab semua maksud ujian tersebut akan kembali kepada
kebaikan bagi hamba-Nya.
menghadapi musibah.
manusia berada pada beberapa keadaan atau tingkatan. Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin
menjelaskan tentang hal ini :
hati yang tidak menerima, dengan lisannya berupa umpatan dan dengan anggota
badan seperti menampar nampar pipi sendiri, merobek robek baju dan yang
lainnya. Semua ini haram hukumnya karena menafikan kewajiban dan
perintah bersabar.
penyair : “Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya. Akan tetapi hasilnya lebih
manis daripada madu”.
tersebut sebenarnya berat baginya akan tetapi dia kuat menanggungnya. Dia tidak
suka musibah itu terjadi tetapi iman yang ada di hatinya menjaganya dari
menggerutu. Terjadi musibah atau tidak terjadinya musibah tidak sama
baginya. Perbuatan atau sikap sabar seperti itu wajib hukumnya
karena Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersabar sebagaimana dalam firman-Nya :
Washbiruu, innallaha ma’ash shaabiriin” Dan bersabarlah.
Sesungguhnya Allah bersama orang orang yang sabar. (Q.S al Anfal 46).
musibah yang dialaminya dimana baginya sama saja, ada dan tidak
musibah tersebut. Adanya musibah tidak membuatnya sesak dan tidak (merasa)
berat menanggungnya. Sikap seperti ini
dianjurkan tapi bukan suatu kewajiban
menurut pendapat yang raajih.
amat jelas. Sebab dalam tingkatan ketiga ini ada dan tidak adanya musibah sama
saja bagi orang yang mengalaminya sementara pada tingkatan kedua adanya musibah
dirasakan sulit baginya tetapi dia bersabar.
tinggi. Hal ini dilazimkan oleh orang yang mengalaminya dengan bersyukur kepada
Allah Ta’ala atas musibah apa saja yang dialami.
sebab atau sarana untuk menghapus semua keburukannya (dosa dosa kecilnya) dan
barangkali bisa menambah kebaikannya. Rasulullah bersabda : “Maa min
mushiibatin tushiibul muslima illa kaffarallahu bihaa ‘anhu hattasy syaukati
yusyaakuhaa” Tiada suatu musibah pun yang menimpa seorang muslim, melainkan
dengannya Allah hapuskan (dosa dosa kecil) darinya sampai sampai sebatang duri
pun yang menusuknya. (H.R Imam Bukhari no. 5640 dan Imam Muslim no. 2572).
bermanfaat ketika ada musibah ataupun ujian.
musibah dengan cara yang terpuji sehingga menuai kebaikan yang banyak dari
ujian atau musibah yang mendatanginya.
sangka kepada Allah.
seseorang jika tidak berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan.
husnuzhan atau berbaik sangka kepada Allah terhadap perbuatan Allah di alam
ini. Engkau wajib meyakini bahwa apa yang Allah lakukan adalah untuk suatu
hikmah yang sempurna. Terkadang akal manusia memahaminya, terkadang tidak. Maka
janganlah ada yang menyangka bahwa jika Allah melakukan sesuatu di alam ini
karena kehendak-Nya yang buruk.
Saalikin, menjelaskan makna sabar ada empat, yaitu : (1) Menahan diri dari berputus asa. (2) Meredam amarah
jiwa. (3) Mencegah lisan untuk mengeluh, dan (4) Mencegah anggota badan untuk berbuat
kemungkaran.
yang dikatakan oleh Syaikh Sulaiman bin Qaashim : Setiap amalan dapat diketahui
ganjarannya kecuali kesabaran yaitu seperti air yang mengalir deras. Lalu
beliau membacakan al Qur an surat az Zumar 10 : “ Innamaa yuwaffash
shabiruna ajrahum bighairi hisaab” Sesungguhnya
hanyalah pahala orang-orang bersabarlah yang dicukupkan tanpa batas.
Riyadush Shalihin menjelaskan : Adapun kesabaran pahalanya berlipat ganda tidak
terbatas. Ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali hingga tidak
mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya karena tidak bisa
diukur dengan bilangan.
Allah tanpa bisa dibatasi. Tidak pula bisa disamakan dengan mengatakan satu
kebaikan dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat.
Kesabaran itu pahalanya tanpa batas. Demikian penjelasan Syaikh Utsaimin.
hendaklah banyak beristighfar.
Kitab Tafsirnya menjebutkan tentang seseorang yang datang kepada Imam Hasan al
Bashri mengadukan cobaan dirinya yaitu susah sekali
Hasan al Bashri memberi nasehat agar banyak beristighfar.
mengadukan musibah tentang tanamannya yang kekeringan karena hujan sudah
lama tidak turun. Imam Hasan al Bashri
memberi nasehat agar banyak beristighfar.
Dia sudah lama menikah tapi belum mendapatkan keturunan. Imam Hasan al Bashri memberi nasehat agar
banyak beristighfar.
Ya Syaikh kenapa setiap orang yang datang mengadukan keadaannya selalu engkau
beri nasehat agar banyak beristighfar.
diriku. Lalu beliau membacakan surat Nuh 10 -12) : “ Faqultu astaghfiruu
rabbukum innahu kaana ghafaaraa. Yursilis
samaa-a ‘alaikum midraaraa. Wayumdidkum biamwaalin wa baniina wa yaj’allakum
jannaatin wayaj’allakum anhaaraa.” Maka aku katakan kepada mereka : Mohonlah
ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia Mahapengampun. Niscaya Dia akan
menurunkan kepadamu hujan yang lebat dari langit. Dan Dia memberikan kepadamu
anak-anak dan harta yang banyak, diadakan-Nya bagimu kebun-kebun dan
sungai-sungai untukmu.
diberi kekuatan dan kesabaran dalam menerima musibah. Juga bermohon untuk
mendapatkan kemudahan dalam hidupnya di
dunia dan akhirat. Apalagi pada saat ada musibah atau ujian yang ringan maupun
berat.
Allah berfirman : “Wa qaala rabbukum ud’unii
astajiblakum.” Dan Rabbmu berfirman : Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku
perkenankan bagimu. (Q.S al Mu’min 60).
wa mimma lam yanzil, fa’alaikum ‘ibadallahi biddu’a-i” Doa itu bermanfaat terhadap apa yang sudah
maupun belum menimpa. Oleh karena itu wahai sekalian hamba Allah hendaklah
kalian berdoa (H.R Imam at Tarmidzi dan al Hakim dari Ibnu Umar).
mulia disisi Allah daripada doa (H.R Imam Ahmad, Imam at Tirmidzi dari Abu
Hurairah
bersabda : “Innad du’a-u huwal ibadah” Sesungguhnya doa itu ibadah. Suatu ibadah
tentulah mendatangkan pahala dan kebaikan. Andaikata seseorang merasa doanya belum dikabulkan maka
melakukan doa sebagai ibadah saja insya Allah sudah memberi manfaat bagi yang
berdoa tersebut.
(737).





































