KETAKWAAN SETELAH RAMADHAN
B. Chaniago
tujuan shaum Ramadhan adalah agar menjadi orang yang bertakwa. Takwa adalah target paling utama seorang
beriman dan dan diantara cara mencapainya adalah dengan puasa Ramadhan.
berfirman : “Yaa aiyuhal ladziina aamanuu kutiba
‘alaikumush shiyaamu kamaa kutiba ‘alal ladziina min qablikum la’allakum
tattaquun”. Wahai orang orang yang beriman !. Diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S al Baqarah 183).
takwa harus menjadi target paling utama karena hari esok atau hari akhirat itu
memiliki tempat yang paling diidamkan oleh setiap muslim yaitu surga. Dan
ketahuilah bahwa surga itu hanya disediakan untuk orang yang bertakwa tidak
untuk yang selainnya. Seorang hamba haruslah berbekal di dunia ini untuk
mendapatkan surga itu dan sebaik baik bekal adalah takwa.
berfirman : “Wa tazauwaduu, fainna khairaz zaadit taqwa, wattaquuni yaa
uulil albaab.” Dan bawalah bekal, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah
takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang orang yang berakal sehat. (Q.S al
Baqarah 197).
apa makna takwa. ? Adapun makna takwa dalam pengertian bahasa berarti batasan
atau penghalang yang mencegah seseorang dari hal yang ditakutinya. Jadi takwa
kepada Allah bermakna membuat penghalang antara diri pribadi dengan siksa-Nya.
Untuk memperoleh takwa itu maka seorang hamba haruslah mentaati perintah dan
larangan Rabb-nya. (Tahdzibul Atsar, Imam ath Thabari).
ittaqi atau bertakwalah bermakna kasyyatullah wan-titsaalu awaamirihi
wajtinaabu nawaa hiihi. Yaitu takut kepada Allah dengan melaksanakan perintah
perintah-Nya dan menghindari larangan larangan-Nya.
padamkanlah fitnah itu dengan takwa. Orang-orang bertanya : Apa makna takwa itu. Dia menjawab
: Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah
berdasarkan cahaya dari Allah karena mengharap pahala dari-Nya. Dan engkau
meninggalkan segala bentuk kemaksiatan kepada-Nya berdasarkan cahaya dari-Nya
karena takut terhadap siksa-Nya. (Dikeluarkan oleh Ibnul Mubarak, dalam az Zuhd).
makna atau definisi tentang takwa. Cahaya Allah adalah Iman dan Islam yang bersumber
dari al-Qur’an dan as Sunnah yang shahih, berdasarkan pemahaman salafush shalih.
dengan shaum Ramadhan.
banyak manusia yang bisa mendapatkan
predikat takwa dengan puasa Ramadhannya. Diantaranya adalah orang orang yang
berkeinginan kuat untuk mendapatkannya dan dibuktikan dengan usaha yang sungguh
melaksanakan puasa Ramadhan yaitu dengan ikhlas kepada Allah Ta’ala dan ittiba’
yaitu mengikuti cara yang diajarkan Rasulullah, insya Allah.
itu wajiblah bagi seorang hamba untuk berprasangka baik kepada Allah Ta’ala
kiranya Allah telah memberikan predikat
takwa kepadanya.
predikat takwa telah ada dalam diri seorang hamba maka kewajiban berikutnya,
yang juga tidak ringan adalah berusaha menjaga dan memeliharanya bahkan harus
meningkatkannya setiap saat. Jika sikap takwa yang sudah ada lalu terlepas
sungguh merupakan kerugian yang amat besar dan membahayakan kehidupan
akhiratnya.
maka itulah yang dimaksud dengan kerugian yang tiada tara.
cara yang bisa dilakukan untuk menjaga, memelihara bahkan meningkatkan
ketakwaan adalah :
pengawasan Allah Ta’ala.
kita sakksikan banyak orang yang melalaikan kewajibannya terhadap hak hak Allah
atas dirinya utama sekali karena merasa Allah tidak mengetahui apa yang mereka
lakukan. Pada hal sungguh Allah Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Mahaluas mengetahui
segala sesuatu yang mereka lakukan.
berfirman : “… Wa huwa ma’akum aina maa
kuntum. Wallahu bi maa ta’maluuna bashiir”. … Dan dia bersama kamu
dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Q.S.
al Hadid 4).
dan menyaksikan amal kalian. Bagaimanapun keadaan kalian dan dimana saja kalian
berada didaratan atau dilautan, siang ataupun malam dirumah ataupun dipadang pasir.
Semua itu berada dalam pengetahuan, pengawasan dan pendengaranNya.
tentu akan selalu mendorongnya untuk terus bertakwa baik dalam keramaian dan juga dalam
kesendirian.
mengamalkannya.
secara istilah adalah sebagaimana dikatakan Ibnu Mas’ud : Hendaklah Allah ditaati
tidak dimaksiati, diingat
tidak dilupakan,
disyukuri tidak diingkari.
bahwa tidaklah seorang hamba
: (1) Bisa mentaati Allah secara benar kecuali dengan ilmu. (2) Bisa mengingat Allah secara benar kecuali dengan ilmu. (3) Bisa mensyukuri nikmat Allah secara benar kecuali dengan ilmu.
berkata : Bahwa sungguh ilmu
dipelajari untuk dijadikan sarana bertakwa kepada Allah.
Dan belajar adalah kewajiban setiap muslim. Rasulullah bersabda :
“Thalabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim.” Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap
muslim. (H.R Imam Ahmad dan Ibnu Majah).
: Terus menerus melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah
bertakwa jika menyelisi perintah Allah dan mengabaikan larangannya.
“Wa
man yuthi’iilaha wa rasuulahuu wa yakhsyallaha wa yattaqhi fa ulaa-ika humul
faa-izuun”. Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasulnya, serta takut kepada Allah
dan bertakwa kepada-Nya, maka itulah
orang-orang yang mendapat kemenangan”. (Q.S. an Nur 52).
: Bergaul dengan orang orang yang selalu menjaga ketakwaan.
ketakwaan adalah berteman dengan orang orang yang selalu menjaga ketakwaan.
: “Seorang dilihat dari agama temannya, maka hendaklah
seseorang melihat dengan siapa dia berteman”
(HR Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidzi dan
al Hakim).
: (1)
Pertemanan dengan
orang bertakwa adalah suatu nikmat yang besar
karena pertemanan dengan orang bertakwa itu karena Allah bukan karena yang lain. (2) Pertemanan dengan orang bertakwa insya Allah akan
langgeng dari dunia sampai akhirat.
(3) Pertemanan dengan
orang bertakwa akan selalu saling mendoakan untuk kebaikan. (4) Pertemanan dengan orang bertakwa akan selalu saling ingat
mengingatkan tentang kebaikan. (5) Pertemanan dengan orang
bertakwa akan saling memberi udzur dan memaafkan jika ada kesalahan.
: Selalu berdoa agar diberi sifat
takwa.
banyak berdoa kepada Allah. Diantara
doa yang diajarkan Rasulullah Salallahu ‘alahi Wasallam adalah : “Allahumma inni as’alukal huda, wattuqa wal’afaf wal
ghina”. Ya Allah sesungguhnya aku
memohon engkau agar diberi petunjuk, ketakwaan, kesucian diri dan kecukupan (H.R Imam Muslim).
dilakukan sehingga ketakwaan yang ada pada diri seorang hamba tetap
terpelihara, terjaga bahkan bisa meningkat.
kita semua.Wallahu A’lam. (710)





































