Azwir B. Chaniago
menjelaskannya, diantaranya adalah Imam
Muhammad Ali ash-Shabuni. Beliau berkata : Al-Quran adalah firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw penutup
para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril dan ditulis pada
mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan
kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan
ibadah, dimulai dengan Surah Al-Fatihah (1)
dan ditutup dengan Surah An-Nas (114).
petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia dan juga untuk
keselamatan di akhirat. Allah berfirman : “Syahru ramadhaana ladzi unzila fiihil
qur’an, hudallinnasi wa baiyinaatin minal hudaa wal furqan” Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al Qur an, sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dengan
yang bathil). Q.S al Baqarah 185
tidak diragukan sedikitpun yaitu
petunjuk bagi orang orang yang bertakwa dan mereka menjadi orang orang yang beruntung.
Allah berfirman : “Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi hudal lil muttaqiin”. Kitab (al
Qur an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang
bertakwa. (Q.S al Baqarah 2).
Qur an, berusaha menghafal semampunya, mempelajari dan berusaha memahaminya, mengamalkan kandungannya
dan mengamalkannya serta
mengajarkannya.
menghafal adalah untuk mengamalkannya
sehingga betul betul menjadi petunjuk baginya dalam mendapatkan keselamatan.
Sungguh mengamalkan adalah kewajiban seorang muslim
yang telah diberi anugerah sebuah ilmu. Ilmu tidaklah akan berguna jika tidak
diamalkan. Salah satu tanda ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan.
Sesungguhnya buah ilmu adalah amal. Dan Allah hanya akan memberi balasan
berdasarkan amal yang dikerjakan oleh seorang hamba.
tujzauna maa kuntum ta’malun”.Sesungguhnya kamu diberi balasan terhadap apa
yang telah kamu kerjakan (Q.S. ath Thuur 16).
tidak akan pernah menzalimi seorang pun. Bahkan sebaliknya, dia senantiasa
memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan amalnya bahkan dilipat gandakan.
mengamalkannya. Ini adalah
konsekwensi bagi orang yang telah belajar tapi tidak mengamalkannya. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Ata’muruunan naasa bil birri wa
tansauna anfusakum wa antum tatluunal kitaab afalaa ta’qiluun”. Mengapa kamu
suruh orang lain (melakukan) kebajikan sedangkan kamu melupakan (kewajiban)
dirimu. Maka tidaklah kamu berfikir. (Q.S. al Baqarah 44).
turun, walaupun kepada bani Israil, namun bersifat umum kepada setiap orang,
karena ini adalah firman Allah. Selanjutnya Syaikh berkata : Barangsiapa yang
menyuruh orang lain kepada kebaikan lalu dia tidak melakukannya atau melarang dari kemungkaran namun dia tidak
meninggalkannya maka hal itu menunjukkan tidak ada akal padanya. Dan ini suatu
kebodohan. Khususnya bila dia telah mengetahui hal itu dan hujjah
benar-benar telah ditegakkan atasnya.
orang yang berkata tapi tidak mengamalkannya. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman
: Wahai orang orang yang beriman !. Mengapa kamu
mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian disisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa
yang tidak kamu kerjakan”
(Q.S ash Shaff 2-3)
Sa’di berkata : Apakah kondisi tercela seperti ini pantas
bagi orang-orang yang beriman ?. Bukankah amat besar murka Allah pada orang yang
mengatakan sesuatu namun tidak dikerjakannya.
baik seharusnya menjadi orang yang pertama mengamalkannya. Dan orang yang
melarang kemungkaran seharusnya menjadi orang yang paling jauh dari kemungkaran
itu. (Tafsir
Taisir Karimir Rahman)
kecuali al Qur an beserta penjelasannya oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi
Wasallam. Jadi adalah menjadi kewajiban utama kita semua untuk mengamalkan al Qur an sehingga betul
betul menjadi petunjuk dalam menjalani hidup di dunia dan mempersiapkan bekal
bagi akhirat kelak.
(702)





































