Azwir B. Chaniago
mengalami kecemasan atau kegelisahan dalam menjalani hidup ini. Mungkin ini
tidak sepenuhnya salah karena hidup di dunia memang akan ada ujian dan cobaan
yang terkadang terasa berat. Ujian itu bisa datang terhadap diri
seorang hamba, keluarganya, hartanya dan yang lainnya.
sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan sampaikanlah
berita gembira kepada orang orang yang sabar”. (Q.S al Baqarah 155).
aiyutrakuu an yaquuluu aamannaa wahum la yuftanuun”. Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan
hanya dengan mengatakan beriman, dan mereka
tidak diuji ? (Q.S al Ankabuut 2).
cemaskan bukanlah ujian atau cobaan terhadap urusan dunia. Kita memang perlu
cemas jika ujian itu menimpa urusan agama dan akhirat kita. Jika suatu waktu
muncul keadaan yang bisa membuat iman kita turun, ibadah kita berkurang dan
mulai tergoda dengan sesuatu yang buruk bahkan mendatangkan murka Allah maka
itulah kecemasan yang kita takutkan.
perlu dicemaskan oleh seorang hamba dan tidak pula membuatnya mesti larut dalam kecemasan. Bukankah kita memiliki Allah yang Maharahman dan
Maharahim. Semua kecemasan hamba hamba-Nya telah dijawab dan disiapkan Allah
Ta’ala jalan keluar yang terbaik. Perhatikanlah beberapa keadaan berikut ini :
dilakukan maka Allah Ta’ala telah berfirman : “Laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa”. Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Q.S al Baqarah 286).
menghadapi suatu keadaan maka Allah Ta’ala telah berfirman : “Aladzina aamanuu wa tathma-innu quluu
buhum bi dzikrillahi, alaa bidzikrillahi tathma-innul quluub” (Yaitu) orang
orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah,
Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (Q.S ar Ra’du
28).
adalah hilangnya segala sesuatu
(yang berkaitan dengan) kegelisahan, dan kegundah-gulanaan dari dalam hati. Dan
dzikir tersebut akan menggantikannya dengan rasa keharmonisan (ketenteraman),
kebahagiaan dan kelapangan. Dan maksud firman-Nya : alaa bi dzikrillahi
tathma-innul quluub” adalah sudah nyata dan sudah sepantasnya hati
(manusia) tidak akan pernah merasakan ketenteraman, kecuali dengan dzikir
(mengingat) Allah. (Kitab Tafsir Taisir Karimir Rahman).
melakukan amal amal yang besar maka Allah Ta’ala telah berfirman : “Fa man ya’mal mitsqaala dzarratin khairan
yarah”. Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya
dia akan melihat (balasan) nya. (Q.S az Zilzaal 7).
maka Allah Ta’ala telah berfirman : “Ya aiyuhal ladzina
aamanuu ista’iinuu bish shabri wash shalah”. Wahai orang orang yang
beriman, mohonlah pertolongan (Allah) dengan sabar dan shalat. (Q.S al Baqarah
153).
kepada orang orang yang beriman jika menghadapi kesulitan dalam hidupnya.
merasa cemas dalam menghadapi kesulitan karena rizki yang sempit maka Allah Ta’ala telah berfirman
: “Innalaha
huwar razzaaqu dzul quwwatil matiin” .Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi Rizki Yang
Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.
(Q.S adz Dzaariyaat 58).
makhluk-Nya. Allah berfirman : “Wa maa
min daabbatin fil ardhi illaa ‘alallahi rizquhaa” Dan tidak satu pun
makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rizkinya. (Q.S Huud 6).
dihadapinya maka Allah Ta’ala telah berfirman dalam surat asy Syu’araa 80
tentang kisah dan perkataan Nabi Ibrahim
‘alaihis salam : “Wa
idza maridhtu fa huwa yasyfiin” Dan
apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku. (Q.S asy Syu’ara 80)
maka Allah Ta’ala telah berfirman : “Wa in tashbiruu wa tattaquu laa yadhurrukum kaiduhum syai-a. Innallaha
bima ya’maluuna muhiith”. Jika kamu bersabar dan bertakwa niscaya tipu daya
mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah
Mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (Q.S Ali Imran 120).
seorang yang beriman tidaklah ada sesuatu
yang akan membuatnya menjadi cemas dan gelisah, jika dia selalu berupaya,
memohon pertolongan dan berserah diri
kepada Allah Ta’ala dalam segala urusannya.
kita semua. Wallahu A’lam. (662)





































