Azwir B. Chaniago
Allah Ta’ala telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Nya dan mengharamkan pula
kepada manusia untuk berbuat zhalim. Allah berfirman : “Innallaha laa yazhlimu mitsqala
dzarrah.” Sungguh, Allah tidak akan menzhalimi seseorang walaupun sebesar
zarrah. (Q.S an Nisa’ 40).
Abu Dzar dari Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meriwayatkan dari
Rabbnya bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman : “Yaa ‘ibaadii innii haramtu zhulma ala nafsii,
wa ja’alatuhu bainahum muharramaa” Wahai sekalian hamba-Ku, Sesungguhnya Aku
mengharamkan kezhaliman pada diri-Ku dan mengharamkannya pada kalian, maka
janganlah kalian saling menzhalimi … (H.R Imam Muslim).
ayat dan hadits ini dapat kita mengambil faedah bahwa musibah musibah yang
datang kepada manusia dari dahulu sampai sekarang tidaklah sedikitpun bermakna
bahwa Allah Ta’ala menzhalimi hamba hamba-Nya. Tidak, tidak begitu.
bahwa musibah apapun yang menimpa manusia pada asalnya adalah akibat perbuatan
manusia itu sendiri. Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan manusia dalam
firman-Nya : “Zhaharal fasaadu fil barri
wal bahri bima kasabat aidin naasi liyudziiqahum ba’dal ladzii ‘amiluu
la’allahum yarji’uun”. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar). Q.S. ar Rum 41.
Qayyim menjelaskan :
Bahwa yang dimaksud kerusakan dalam ayat ini adalah kekurangan, keburukan
dan bencana-bencana yang dimunculkan oleh Allah di muka bumi akibat
perbuatan maksiat para hamba-Nya.
perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan
kesalahanmu). Q.S asy Syuura 30.
berkata : Diantara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan
juga mendatangkan bencana atau musibah. Oleh karena itu hilangnya nikmat dari
seseorang adalah akibat dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah adalah
juga disebabkan dosa (al Jawabul Kafi)
Tidak disandarkan suatu keburukan atau
kerusakan melainkan pada dosa, karena semua
musibah itu disebabkan dosa. (Latha’if al Ma’arif).
pernah mendatangi kami seraya bersabda :
Wahai kaum Muhajirin !. Ada lima perkara yang jika kalian diuji dengannya,
namun saya berharap kalian tidak
menemuinya.
mereka melakukannya terang terangan
melainkan akan muncul wabah penyakit tha’un yang belum pernah ada sebelumnya.
takaran dan timbangan melainkan akan ditimpa paceklik dan kesusahan hidup serta
zhalimnya penguasa.
zakat melainkan hujan tidak akan turun. Seandainya bukan karena binatang
binatang ternak niscaya tidak akan pernah turun hujan.
mengingkari perjanjian Allah dan Rasul-Nya melainkan Allah akan jadikan mereka
dikuasai oleh musuh sehingga (musuh) berhasil mengambil sebagian milik mereka,
dan
memilih milih apa yang diturunkan oleh-Nya, melainkan Allah akan jadikan
kehancuran mereka (sebab pertikaian) antara mereka sendiri. (H.R Ibnu
Majah, al Baihaqi dan al Bazzar).
memberikan peringan dengan beberapa contoh kemaksiatan yang berujung kepada
musibah bagi manusia.
memprihatinkan. Perbuatan dosa dan maksiat sudah semakin menjadi jadi.
Perhatikanlah dosa apa yang tidak dilakukan manusia saat ini. Mulai dari dosa
yang kecil sampai kepada dosa paling besar yaitu menyekutukan Allah atau melakukan kesyirikan
serta perdukunan. Zina, homoseks, judi, minum khamer, pembunuhan sudah terjadi di mana mana. Penipuan,
perampokan, korupsi dan yang lainnya bisa disaksikan terjadi di setiap waktu.
berlanjut maka musibah belum akan berhenti. Musibah akan terus mendatangi
manusia sampai manusia bertaubat dengan sebenar benar taubat.
nuzzila balaa-un illaa bidzambin wa laa rufi’a balaa-un illa bitaubah” .
Tidaklah musibah itu turun melainkan karena dosa. Karenanya tidaklah bisa
musibah itu hilang melainkan juga dengan taubat. (al Jawabul Kafi).
bertaubat. Sungguh sangatlah banyak ayat al Qur-an dan sabda Rasulullah yang
menyuruh hamba hamba-Nya yang berdosa untuk segera bertaubat dan Allah akan
mengampuni dosanya. Diantaranya adalah :
mu’minuuna la’allakum tuflihuun”. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah,
hai orang orang yang beriman, agar kamu beruntung (Q.S an Nuur 31).
ilallahi taubatan nashuuha”. Wahai orang orang yang beriman bertaubatlah
kepada Allah dengan taubat nashuha (sebenar benar taubat) Q.S at Tahrim 8.
anfusihim laa naqnathuu min rahmatillah, innallaha yaghfirudz dzunuuba
jamii’aa, innahu huwal ghafuurur rahiim”. Katakanlah : Wahai hamba hamba-Ku
yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri !. Janganlah kamu berputus
asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa dosa semuanya.
Sungguh Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S az Zumar 53).
Asy’ari, dari Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : Sesungguhnya
Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat pelaku
maksiat pada siang hari. Dan Dia membentangkan
tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat pelaku maksiat pada malam
hari, sampai matahari terbit dari tempat terbenamnya. (H.R Imam Muslim).
yang melampaui batas mari sama sama kita
bertaubat dengan sebenar benar taubat dan juga bermohon
kepada Allah agar kita semua djauhi dari berbagai musibah dan ujian.
kita semua. Wallahu A’lam. (659)








































