waspada dalam menjalani hidup ini karena ujian dan cobaan akan senantiasa mendatanginya. Kewaspadaan itu
menjadi semakin
penting karena manusia adalah makhluk yang sering lupa dan lalai dalam menetapi
kebaikan bagi dirinya. Penyebabnya tentulah
banyak, diantaranya adalah :
keburukan. Allah berfirman : “Wa maa ubarri-u nafsii, innan nafsa la-ammaa
ratun bis suu-i illa maa rahima rabbi”. (Yusuf berkata) Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari
kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku (Q.S Yusuf 53)
kitab Tafsir Kariimir Rahman di sebutkan bahwa : “Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan” maknanya adalah seringkali (nafsu itu) memerintahkan pemiliknya untuk berbuat
keburukan yakni perbuatan keji dan segala dosa.
syaithan yang selalu berusaha menggoda dan mendorongnya untuk melakukan
kemaksiatan dan dosa. Allah berfirman : “Innamaa ya’murukum bis suu-i wal
fahsyaa-i wa an taquuluu ‘alallahi maa laa ta’lamun”. Sesungguhnya (syaithan) itu hanya
menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji dan mengatakan apa yang tidak kamu
ketahui tentang Allah (Q.S al Baqarah 169)
as Sa’di berkata : Yang dimaksud adalah kejahatan yang merusak pelakunya.
Dengan demikian termasuk dalam hal ini adalah seluruh kemaksiatan.
Syaikh as Sa’di berkata : Manusia itu adalah lemah dalam hal fisik, lemah dalam
berkehendak, lemah dalam bertekad dan lemah dalam iman dan
kesabaran (Lihat Tafsir Kariimir Rahman). Allah berfirman : “Wa
khuliqal insaanu dha’iifaa”. Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.
(Q.S an Nisaa’ 28.)
telah mengingatkan dalam firman-Nya : “Inna
wa’dallahi haqqun fa laa taghurrannakumul hayaatud dun-ya, wa laa yaghurannakum
billahil gharuur”. Sungguh janji Allah pasti benar maka janganlah sekali
kali kamu terpedaya oleh kehidupan dunia dan jangan sampai kamu terpedaya oleh
penipu dalam (mentaati) Allah. (Q.S Luqmaan 33).
oleh seseorang tetap saja itu hanyalah
senda gurau dan permainan sementara. Allah Ta’ala mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah senda
gurau yaitu sebagaimana firman-Nya : “Wa
maa haadzihil hayaatud dun-yaa illaa
lawun wa la’ibun, wa innad daaral akhirata lahiyal hayawaan. Lau kaanuu
ya’maluun”. Dan kehidupan dunia
ini hanyalah senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah
kehidupan yang sebenarnya sekiranya mereka mengetahui. (Q.S al Ankabut 64).
yang namanya senda gurau ataupun permainan hakikatnya adalah sementara, fana
dan tidak berharga. Ini akan menyebabkan manusia lupa dan lalai dengan
kehidupan yang hakiki diakhirat kelak.
satu waktu dia bisa lupa atau terlalai dari perbuatan perbuatan baik dan terdorong
untuk melakukan perbuatan yang tidak baik.
Ketahuilah bahwa orang yang berilmu pun terkadang bisa lupa apalagi orang orang
yang awam terhadap ilmu agama.
di zaman Bani Israil, ada seorang laki laki yang ‘alim (ahli ilmu), ‘abid (ahli
ibadah) memiliki seorang istri yang dicintainya. Lalu istrinya itu meninggal
dunia sehingga membuatnya sangat sedih. Dia berat menerima kenyataan ini,
kurang sabar. Sampai sampai dia mengurung diri di rumahnya dan tidak mau
bertemu dengan seorangpun.
Kasihan orang ‘alim ini, katanya. Dia
ingin menasehati orang ‘alim ini agar bersabar. Dia mendatangi orang ‘alim ini
dengan berpura pura ingin meminta fatwa tentang satu hal yang rumit. Setelah
bertemu dengan orang ‘alim ini dia berkata : Sungguh aku sengaja datang kepada
engkau untuk minta fatwa karena ada permasalahan yang berat menimpaku. Apa
masalahmu, kata orang ‘alim ini.
yang lalu aku telah meminjam perhiasan milik tetanggaku. Aku telah memakai
perhiasan itu beberapa lama.
wanita itu : Tetanggaku itu mengutus seseorang untuk mengambil kembali barang
perhiasan yang telah aku pinjam itu, padahal aku masih sangat senang dengan
perhiasan itu dan aku masih ingin memakainya. Aku ingin minta fatwa : Apakah
aku harus mengembalikan barang perhiasan yang aku pinjam itu kepada pemiliknya
atau aku boleh menahannya.
mengembalikan kepada pemiliknya karena dia pemiliknya. Engkau hanya peminjam
dan pemiliknya yang lebih berhak atas perhiasan itu. Ketahuilah bahwa engkau
hanya peminjam dan bukan pemilik. Engkau tidak boleh berat hati untuk
mengembalikannya jika pemiliknya memintamu untuk mengembalikan.
‘alim, semoga Allah merahmatimu. Engkau telah memberikan fatwa kepadaku.
Dan aku ingin bertanya : Kenapa engkau
merasa berat hati untuk mengembalikan sesuatu yang Allah titipkan kepada
engkau. Bukankah Allah pemiliknya dan Dia berhak untuk mengambilnya.
orang ‘alim ini. Lalu dia menyesali kelalaiannya yaitu lupa untuk bersabar atas
musibah yang menimpanya.
A’lam (643)






































