yang mulia dan menyifatinya dengan
kebaikan. Sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskan hal ini dalam firman-Nya : “Dan Allah memiliki Asmaa’ul Husnaa (nama nama yang terbaik, maka
bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa’ul Husnaa itu dan tinggalkanlah
orang orang yang menyalah artikan nama nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat
balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (Q.S al A’raf 180).
laa ilaaha illaa huwa, lahul asmaa’ul
Husnaa”. (Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai
nama nama yang terbaik. (Q.S Thaahaa 8)
Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa. Dia memiliki nama
nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan
Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Q.S al Hasyr 24).
dengan kebaikan. Maksudnya nama nama tersebut sampai kepada puncak kesempurnaan
dan kebaikan. Tidak ada yang lebih baik darinya dari segala segi. Bahkan nama
nama tersebut memiliki kebaikan yang sempurna
secara mutlak dikarenakan dia adalah nama nama yang terbaik
dan termulia.
diantaranya adalah :
berfirman : Wa’lamuu innallaha ghafurun
haliim”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun Maha Penyantun.
berfirman : “Wa kaanallahu ‘aliiman
haliimaa”. Dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Penyantun.
tidak menyegerakan hukuman bagi hamba hamba-Nya karena dosa dosa dan maksiat
mereka. Allah melihat hamba hamba-Nya kufur dan durhaka kepada-Nya. Tetapi Dia
bersifat santun terhadap mereka dan menangguhkan (hukuman). Dia mengamati dan
menunda serta tidak menyegerakan.
kepada mereka walaupun mereka sering durhaka serta banyak melakukan dosa dan
kesalahan. Dia bersikap santun dan tidak langsung membalas orang orang yang
bermaksiat lantaran perbuatan maksiat mereka. Dia memberikan tenggang waktu
hingga mereka bertaubat dan Allah tidak
menyegerakan hukuman agar mereka mau kembali kepada Allah.
mereka terhadap Allah Ta’ala, mereka terperosok ke dalam perbuatan yang dapat
menimbulkan murka-Nya, bahkan semangat menyelihi-Nya, memerangi agama-Nya atau
memusuhi para wali-Nya, tetapi masih saja Dia bersikap santun kepada mereka.
Bahkan membawakan aneka ragama kebaikan untuk mereka, memberi rizki dan
memaafkan mereka.
Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya,
bahwasanya Dia berfirmn : “Anak keturunan
Adam mencela-Ku, dan tidak sepatutnya dia mencelak-Ku. Dan dia mendustakan-Ku
dan tidak sepatutnya hal itu baginya. Adapun celaannya adalah ucapannya :
Sesunggunya (dikatakan) Aku memiliki anak. Sedangkan ia mendustakan-Ku adalah
perkataannya : Dia (Allah) tidak dapat mengembalikanku sebagaimana Dia telah
menciptakanku”
“Laisa ahadun au laisa syai-un ashbara ‘alaa adza sami’ahu mnallahi, innahum
layad’uuna lahu waladan, wa innahu layu’aa fiihim wa yarzuquhum”. Tidak ada seorangpun atau tidak ada sesuatupun
yang lebih sabar dengan gangguan yang ia dengar daripada Allah. Sesungguhnya
mereka berseru bahwa Allah memiliki anak, namun Dia masih saja memaafkan mereka
dan memberikan rizki kepada mereka”. (H.R Imam Bukhari).
didustakan seperti itu tetapi tetap saja Dia memberi rizki kepada orang yang mencela dan mendustakan-Nya
dan juga memaafkannya, membelanya, mengajaknya untuk masuk ke surga-Nya,
menerima taubatnya apabila ia bertaubat kepada-Nya. Dia mengganti keburukannya
dengan kebaikan. Berbuat lemah lembut kepadanya pada setiap keadaan,
mempersiapkannya untuk menerima risalah para rasul-Nya. Dia menyuruh para
rasul-Nya untuk berlemah lembut dalam berbicara dan bersikap kepadanya.
hamba-Nya. Diantara contohnya adalah sikap santun Allah Ta’ala kepada Fir’aun
yang begitu dahsyat kezhaliman dan keangkuhannya di bumi ini serta kerusakan
yang telah dia perbuat terhadap makhluk.
nasehat kepada Fir’aun dengan lemah lembut, sebagaimana tersebut dalam
firman-Nya : “Idzhabaa ilaa fir’auna
innahuu taghaa. Fa quulaa lahuu qaulan laiyinan la’allahuu yatadzakkaru au
yakhsyaa”. Pergilah engkau berdua kepada Fir’aun karena dia benar benar
telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan
kata kata yang lemah lembut, mudah mudahan dia sadar atau takut. (Q.S Thaha 43-44).
Fiqih Asma’ul Husna, Syaikh Abdurrazzaq bin Muhsin al Badr.)
A’lam. (608)






































