Azwir B. Chaniago
hasanah bagi umat manusia dan terutama atau lebih khusus bagi
umat Islam. Beliau haruslah diteladani oleh setiap muslim terutama dalam hal
aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah.
hasanatun, liman kaana yarjullaha wal yaumil aakhira wa dzakarallahu katsiira.
Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (Q.S al Ahzaab 21).
ahli ushul fiqih berdalil dengan ayat
ini atas kehujjahan Rasulullah. Dan bahwa hukum asalnya, umat Islam itu bersuri
tauladan kepada Rasulullah di dalam semua hukum kecuali ada dalil syar’i yang
mengecualikan kekhususan beliau. Orang yang meneladani beliau berarti
menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan disisi Allah yaitu
jalan yang lurus.
Suri teladan yang baik dari Rasulullah hanya akan ditelusuri dan diikuti oleh
orang orang yang menginginkan (ridha) Allah dan (pertemuan) dengan Hari Akhir.
Hal ini terjadi karena iman yang dimilikinya. Rasa takutnya kepada Allah dan
mengharapkan pahala kepada-Nya, takut akan siksa-Nya yang semuanya mendorong
seorang hamba untuk meneladani Rasulullah.
Rasulullah dan haruslah kita ikuti dengan sungguh sungguh. Diantara akhlak beliau yang
menonjol adalah sifat sangat pemaaf, yang sebagiannya adalah sebagaimana dikisahkan
dalam hadits berikut ini :
berperang bersama Rasulullah menuju kearah Nejed. Ketika Rasulullah kembali
maka kami pun ikut kembali. Kemudian mereka (orang orang yang mengikuti
Rasulullah tiba disebuah lembah yang banyak pohon berduri, di saat waktunya
tidur siang. Lalu Rasulullah turun.
para sahabat berpencar untuk berteduh dibawah pohon. Dan Rasulullah singgah di
bawah pohon samurah lalu beliau menggantungkan pedangnya pada pohon tersebut.
Tiba tiba Rasulullah memanggil kami dan ternyata disisi beliau ada seorang
Badui. Lalu beliau bersabda : Sesungguhnya orang ini telah menghunuskan
pedangku pada waktu aku tertidur. Lalu aku bangun sedang pedang itu telah
terhunus di tangannya. Dia berkata : Siapakah yang akan menghalangimu dari
seranganku ini ? Aku (Rasulullah) menjawab : Allah (sebanyak tiga kali). Dan
beliau tidak menghukum orang tersebut dan kemudian duduk (Mutafaq ‘alaihi).
Rasulullah berada di Dzaaturriqa’. Setelah kami mendapati sebatang pohon yang
rindang, kami tinggalkan Rasulullah disana. Lalu ada seorang dari kaum
musyrikin yang datang, sedang pedang Rasulullah digantungkan di pohon tersebut.
Kemudian orang itu mengambil pedang itu dan menguhunuskannya seraya berkata :
Apakah kamu takut kepadaku ?. Tidak jawab Rasulullah. Lalu siapa yang akan
menghalangimu dariku, sahut orang itu lebih lanjut. Maka beliau menjawab :
Allah.
Isma’ili disebutkan dalam kitab Shahihnya, orang itu bertanya : Siapa yang akan
menghalangi dirimu dariku ?. Allah, jawab beliau. Maka jatuhlah pedang itu dari
tangannya. Kemudian Rasulullah mengambil
pedang itu seraya berkata : Sekarang siapa yang akan menghalangi dirimu
dariku ?. Orang itu berkata : Jadilah engkau orang yang berbuat baik.
kamu bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang haq) selain Allah dan sesungguhnya aku
adalah Rasul Allah ? Dia menjawab : Tidak, tetapi aku berjanji kepadamu untuk
tidak memerangimu dan tidak juga bergabung dengan orang orang yang memerangimu.
Kemudian Rasulullah membiarkan orang itu pergi. Lalu dia mendatangi kaumnya
seraya berkata : Aku datang kepada kalian dari orang yang paling baik. (Lihat
Syarah Riyadush Shalihin, Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilali).
peristiwa dimana Rasulullah senantiasa memaafkan kesalahan orang lain meskipun
orang itu memusuhi dan mencela beliau. Semoga kisah ini memberikan teladan bagi
kita, khususnya dalam hal suka memaafkan. Kalau Rasulullah mau memaafkan orang
Badui yang masih kafir ataupun orang orang yang masih musyrik, bahkan akan
membunuh beliau maka tentulah lebih utama pula bagi kita umat beliau, untuk
memaafkan saudara saudara kita sesama Muslim.
salah satu tanda orang orang yang bertakwa yaitu sebagaimana Allah berfirman : “Alladziina yunfiquuna fis sarraa-i wadh
dharraa-i wal kaazhimiinal ghaizha
wal ‘aafiina ‘aninnaasi wallahu yuhibbul muhsiniin” (Orang yang bertakwa
yaitu) orang yang berinfak, baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang orang
yang menahan marahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai
orang yang berbuat kebaikan. (Q.S Ali Imran 134).
semua. Wallahu A’lam (378).




































