Azwir B. Chaniago
dihadapi, maka seorang hamba sangat dilarang atau tidak boleh putus asa dari
rahmat Allah Ta’ala. Ini adalah salah satu prinsip pokok yang wajib dipegang kuat oleh
setiap hamba untuk keselamatan hidupnya di dunia dan di akhirat.
batas dan yang telah menzhalimi diri merekapun tetap dilarang berputus asa.
Allah berfirman : “Qul yaa ‘ibaadiyal
ladziina asrafuu ‘alaa anfusihim laa naqnathuu min rahmatillah, innallaha
yaghfirudz dzunuuba jamii’aa, innahu huwal ghafuurur rahiim”. Katakanlah,
wahai hamba hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri.
Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S az Zumar 53).
manusia yang berputus asa dari rahmat Allah, diantaranya adalah :
qaumul kaafiruun” Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah
orang orang yang kafir. (Q.S Yusuf 87).
illadh dhaalluun. Dia (Ibrahim) berkata, tidak ada yang berputus asa dari
rahmat Rabb-nya kecuali orang yang sesat. (Q.S al Hijr 56).
rahmat Allah maka dia akan jatuh kepada dua keadaan ini yaitu menjadi kafir
atau sesat. Na’udzubillahi min dzaalik.
Rabb yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba hamba-Nya. Bahkan Allah
menyayangi kita melebihi sayang kita kepada diri sendiri. Jadi sungguh tidaklah
tepat bahkan keliru berat jika ada diantara kita yang merasa putus asa dari
rahmat-Nya.
menyayangi kita, diantaranya :
kesulitan hidup karena kekurangan harta maka ketahuilah bahwa Allah Ta’ala menjamin
rizki semua makhluk. Allah berfirman : Wa
maa min daabbatin fil ardhi illa ‘alallahi rizquhaa” Dan tidaklah satu pun
makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rizkinya.
(Q.S Huud 6).
arah yang tidak disangka sangka dan mencukupkan keperluan hamba hambanya. Allah
berfirman : Wa yarzuqhu min haitsu laa
yahtasib, waman yatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuh. Dan Dia memberinya
rizki dari arah yang tidak disangka sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal
kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (Q.S ath Thalaaq
3).
Allah juga menurunkan obatnya. Dan Allah yang menyembuhkannya. Allah berfirman
: Wa idzaa maridhtu fahuwa yasyfiin.
Dan jika aku sakit maka Dia-lah yang menyembuhkan. (Q.S asy Syu’ara 80).
syifaa-a” Allah tidak akan menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia
menurunkan juga obat untuk penyakit itu (H.R
Imam Bukhari).
maka orang yang beriman tidak perlu khawatir. Allah berfirman : “Wa man ya’mal minash shalihaati wa huwa
mu’minun falaa yakhaafu zhulman wa laa hadhmaa” Dan barangsiapa mengerjakan
amal shalih sedang dia (dalam keadaan) beriman, maka dia tidak khawatir akan
perlakuan zhalim (terhadapnya) dan tidak (pula khawatir ) akan pengurangan
haknya (Q.S Thahaa 112).
berdoa agar dijauhkan dari orang yang zhalim yaitu dalam firman-Nya : “Rabbi najjinii minal qaumizh zhalimiin. Ya
Rabb-ku, selamatkanlah aku dari orang orang yang zhalim itu. (Q.S al Qashash
21).
bisa meyakinkan seorang hamba untuk tidak
pernah berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
A’lam. (363)




































