atau berhati hati. Membuat perisai antara diri kita dengan yang ditakuti, karena ada kekhawatiran dan ketakutan kita
terhadap sesuatu, sehingga terhindar dari yang kita takuti itu.
hendaklah Allah ditaati tidak dimaksiati, diingat tidak dilupakan dan disyukuri
tidak diingkari.
maupun yang besar dan itulah ketakwaan. Berbuatlah seperti orang yang berjalan
diatas tanah yang penuh onak dan duri berhati-hatilah terhadap yang engkau
lihat. Janganlah engkau meremehkan dosa kecil karena gunung pun tersusun dari
kerikil.
oleh seseorang tentang takwa. Dijawab : Apakah engkau
pernah melewati jalan yang penuh onak dan duri. Orang itu menjawab : Ya pernah. Abu Hurairah bertanya lagi :Lalu apa
yang engkau lakukan?. Orang
itu menjawab : Jika aku melihat
duri aku menghindar, melewati atau aku berhati-hati darinya. Abu Hurairah berkata : Itulah makna
takwa (Jamiul ‘ulum wal Hikam).
fitnah (ujian),
padamkanlah fitnah itu dengan takwa. Orang-orang bertanya : Apakah takwa itu ? Thalq menjawab : Takwa adalah
engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah karena
mengharap pahala dari-Nya. Dan engkau meninggalkan segala bentuk kemaksiatan
kepada-Nya berdasarkan cahaya dari-Nya karena takut terhadap siksa-Nya. (Ibnul Mubarak, dalam Kitab az Zuhd).
definisi takwa. Ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan
cahaya Allah dalam
makna ini adalah Iman dan Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan as Sunnah yang shahih berdasarkan
pemahaman salafush shalih.
Imam Ibnul Qayyim berkata : Hakikat takwa
ialah melakukan ketaatan kepada Allah dilandasi keimanan dan mengharapkan
pahalanya karena ada perintah dan larangan sehingga seseorang melakukan
perintah dengan mengimani Dzat yang memerintah dan membenarkan janjinya. Dan ia
meninggalkan apa yang Allah larang baginya dengan mengimani Dzat yang
melarangnya dan takut terhadap ancamannya.
harus bertakwa.
majlis taklim atau pada acara kegiatan keagamaan saja. Sungguh tidak demikian,
tetapi takwa itu tidak boleh tidak harus
menyertai diri seorang hamba dimanapun dia berada.
haitsuma
kunta”. Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada. (H.R Imam at Tirmidzi).
Allah disaat sepi maupun ramai. Ketika dilihat manusia ataupun tidak.
Ketahuilah bahwa bertakwa dikala ramai lebih mudah daripada bertakwa disaat
sendirian.
meraih takwa demi
keselamatannya di dunia dan di akhirat. Ketahuilah bahwa surga telah disediakan atau hanya
disediakan Allah Ta’ala buat orang orang yang bertakwa, tidak
untuk yang selainnya. Allah berfirman : “Wa
saari-‘u ilaa maghfiratin min rabbikum, wa jannatin ‘ardhuhas samaawaatu wal
ardhu, u-‘iddat lil muttaqiin” Dan bersegeralah kamu mencari ampunan
dari Rabbmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan bagi orang orang yang bertakwa. (Q.S Ali Imran 133).
ketakwaan seseorang akan mendapatkan jalan keluar dari masalah yang
dihadapinya. Allah berfirman : “Waman
yattaqillaha yaj’al lahuu makhraja” Dan barangsiapa yang bertakwa kepada
Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. (Q.S at Talaaq 2).
yang bertakwa kepada Allah dan meniti ridhaNya dalam berbagai keadaan maka
Allah akan memberinya balasan pahala di dunia dan di akhirat. Diantara
balasanNya secara garis besar adalah diberikan pintu keluar dari berbagai
keadaan sulit dan susah. (Tafsir Kariimir Rahman, Syaikh as Sa’di).
untuk bertakwa dengan sebenar benarnya takwa. Allah berfirman : “Yaa aiyuhal ladziina aamanuut taqullaha
haqqa tuqaatihiii, walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun”. Wahai orang orang yang beriman.
Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar benar takwa kepadaNya dan janganlah
kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (Q.S Ali Imran 102).
mencapai takwa diantaranya adalah:
istiqamah mengamalkannya.
laki laki maupun perempuan. Rasulullah bersabda : “Thalibul ‘ilmi fardhatun ‘ala kulli muslim” Belajar ilmu
adalah wajib bagi setiap muslim.
(H.R Imam Ahmad dan Ibnu Majah)
secara benar kecuali dengan ilmu (2) Tidaklah seorang hamba bisa melakukan
ketaatan kepada Allah dengan benar kecuali dengan ilmu. (3) Tidaklah seorang
hamba bisa bersyukur atas nikmat Allah
kecuali dengan ilmu (4) Tidaklah seorang hamba bisa bersabar secara benar terhadap ujian yang diberikan Allah kecuali
dengan ilmu.
seorang yang telah mengetahui suatu ilmu. Ilmu tidak bermanfaat jika tidak
diamalkan. Sesungguhnya buah ilmu adalah amal. Dan Allah hanya akan memberikan
balasan berdasarkan amal yang dilakukan.
“Innama tujzauna ma kuntum ta’malun.” Sesungguhnya kamu diberi balasan terhadap apa
yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Ath Thuur 16).
pernah menzhalimi seorangpun. Bahkan sebaliknya. Dia senantiasa memberikan
balasan kepada setiap orang sesuai dengan amalnya.
berfirman : “Ata’muruunan naasa bil birri wa tansauna anfusakum wa antum tatluunal
kitaab, afalaa ta’qiluun”. Mengapa kamu suruh orang lain (melakukan) kebajikan sedangkan kamu
melupakan (kewajiban) dirimu sendiri pada hal kamu membaca Kitab. . Maka tidakkah kamu
berfikir.” ? (Q.S.
al Baqarah 44).
as Sa’di antara lain menjelaskan bahwa ayat ini turun, walaupun kepada Bani Israil,
namun bersifat umum kepada setiap orang, karena ini adalah firman Allah.
Selanjutnya Syaikh berkata : Barangsiapa yang menyuruh orang lain kepada
kebaikan lalu dia tidak melakukannya atau melarang dari kemungkaran namun dia tidak
meninggalkannya maka hal itu menunjukkan tidak ada akal padanya. Dan ini suatu
kebodohan. Khususnya bila dia telah mengetahui hal itu dan hujjah benar-benar telah ditegakkan atasnya.
larangan Allah
Tidaklah dikatakan bertakwa jika menyelisihi perintah Allah dan mengabaikan larangannya. Allah berfirman : “Waman yuti’illaha
warasuulahuu, wa yakhsyallaha wa yattaqhi, fa ulaaika humul faa-izuun”. Dan barangsiapa taat kepada Allah
dan rasulnya, serta takut kepada Allah dan bertakwa kepadanya, maka itulah
orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S an Nur 52).
yang selalu menjaga ketakwaannya kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
seseorang. Itulah sebabnya Rasulullah mengingat kita untuk memilih teman.
Tidaklah dianjurkan bersahabat karib dengan orang orang fasik, fujur atau yang semisalnya.
ahadukum man yukhaalil” Seseorang itu bergantung kepada agama teman
dekatnya. Oleh karena itu hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan
siapa yang akan dijadikan teman dekatnya. (H.R at Tirmidzi dan Abu Dawud)
dengan orang bertakwa adalah suatu nikmat yang besar. (2) Pertemanan
dengan orang bertakwa itu karena Allah bukan karena yang lain. (3) Pertemanan
dengan orang bertakwa insya Allah akan langgeng dari dunia sampai akhirat (4) Pertemanan
dengan orang bertakwa akan selalu saling mendoakan untuk kebaikan. (5) Pertemanan
dengan orang bertakwa akan selalu saling ingat mengingatkan tentang kebaikan. (6) Pertemanan
dengan orang bertakwa akan saling memberi udzur dan memaafkan jika ada
kesalahan dan
kekurangan..
wallahu bima ta’maluuna bashiir”. … Dan
dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Mahamelihat apa
yang kamu kerjakan. (Q.S. al Hadid 4)
dan menyaksikan amal kalian. Bagaimanapun keadaan kalian dan dimana saja kalian berada di daratan atau di lautan, siang ataupun
malam, di rumah ataupun di padang pasir,
semua itu berada dalam pengetahuan, pengawasan dan pendengaranNya.
Rabbnya, dan tentu akan
mendorongnya untuk terus berupaya
melakukan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala apa yang dilarang Allah
untuk bisa mencapai posisi terbaik yaitu posisi orang orang yang bertakwa.
meraih ketakwaan adalah dengan banyak berdoa kepada Allah. Rasulullah
mengajarkan kepada umatnya salah satu doa yang sering beliau baca : “Allahumma inni as’alukal huda, wattuqa wal ’afaf wal ghina”. Ya Allah sesungguhnya aku memohon Engkau agar
diberi petunjuk, ketakwaan, kesucian diri dan kecukupan. (H.R. Muslim).
(328)





































