dari kesulitan dan kesempitan. Tidak ada yang ingin susah, melarat dan selalu
kekurangan. Untuk itu maka Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan firman-Nya sebagai peringatan dan penjelasan tentang penyebab
kehidupan yang sempit yaitu tersebab berpaling atau
tidak mengindahkan peringatan peringatan Allah Ta’ala.
a’radha ‘an dzikrii fa inna lahuu ma’iisyatan dhankaa, wa nahsyuruhuu yaumal
qiyaamati a’maa”. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku
maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan pada hari Kiamat
(dibangkitkan) dalam keadaan buta. (Q.S
Thaha 124)
sempit yang disebut dalam ayat ini adalah :
Jauzi menukil bahwa Ibnu Abbas berkata :
Penghidupan yang sempit, dalam ayat ini, bermakna disempitkan baginya pintu
pintu kebaikan, sehingga dia tidak mendapatkan petunjuk kebaikan dan dia akan
mempunyai penghasilan yang haram dari usahanya. Disebutkan
pula perkataan adh Dhahak dan Ikrimah, dua ahli tafsir dari kalangan Tabi’in yang
mengatakan bahwa : Penghidupan yang sempit, dalam ayat ini, yaitu usaha atau
penghasilan yang buruk dan haram.
menjelaskan tentang penghasilan yang buruk dan haram yang akhirnya
mendatangkan kesengsaraan dan kesusahan dalam hidup seseorang.
tetapi diperoleh dengan cara yang buruk dan haram maka dia disebut sebagai
orang yang mendapat penghidupan yang sempit.
kelapangan hati.
menyelisihi perintah-Ku dan ketentuan syariat yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku
(dengan) berpaling darinya, melupakannya, dan mengambil selain petunjuknya maka baginya penghidupan yang sempit dan
sengsara, yaitu di dunia, dan tidak ada kelapangan dalam
hatinya. Bahkan hatinya sempit dan sesak karena penyimpangannya, meskipun
(terlihat) secara zhahir (hidupnya) senang. Berpakaian , makan dan bertempat
tinggal sesukanya. Akan tetapi hatinya selalu diliputi kegundahan, keguncangan
dan keraguan karena jauhnya dari kebenaran dan petunjuk-Nya. (Kitab Tafsir Ibnu
Katsir).
bahkan durhaka terhadap petunjuk Allah tetapi memiliki harta yang banyak dan
juga pangkat yang tinggi. Lalu bagaimana bisa orang yang memiliki harta yang
banyak dan pangkat yang tinggi akan mengalami kehidupan yang sempit padahal
semua yang dia inginkan dan kapanpun dia butuhkan bisa dengan segera mereka
penuhi bahkan dengan cara yang mudah dan mungkin berlebihan.
yang terlihat secara zhahir berupa materi semata. Semua itu sangat sementara
bahkan semu seperti fatamorgana. Semua manusia yang berakal (sehat) sangatlah paham
bahwa
kebahagiaan yang hakiki itu ada pada hati bukan pada sesuatu yang
terlihat secara zhahir. Dan Rasulullah telah mengingatkan dengan sabda beliau :
“Laisal ghinaa ‘an katsratil ‘aradhi wa lakinnal ghinaa ghinan nafs” Bukanlah
kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati
(H.R Imam Bukhari dari Abu Hurairah).
adalah balasan dari Allah yang menjadikan penghidupan seseorang itu (di dunia)
menjadi sempit lagi susah. Dan itu terjadi sebagai suatu siksaan. Penghidupan
yang sempit juga ditafsirkan dengan siksa kubur. Kuburannya akan dipersempit
dan dia terkepung di dalamnya.
penghidupan yang sempit itu bersifat umum di dunia, semisal kesedihan,
kegetiran dan hal hal yang menyakitkan yang menimpa orang orang yang berpaling
dari Rabbnya. Ini merupakan siksa yang
disegerakan di dunia. Kemudian (siksaan) di alam barzakh, diakhirat karena
lafaz (ayat ini) adalah mutlak tanpa terikat dengan sesuatupun. (Kitab Tafsir
Kariimir Rahman).
kekuatan untuk selalu berpegang kepada petunjuk-Nya dan petunjuk Rasul-Nya.
Wallahu A’lam. (266)




































