cobaan ataupun musibah. Ini semuanya bisa terjadi terhadap diri seseorang,
keluarganya, hartanya dan yang lainnya.
diantaranya adalah : Allah berfirman :“Ahasiban naasu an yutrakuu an
yaquuluu aamannaa wa hum laa yuftanuun” Apakah manusia mengira bahwa mereka
akan dibiarkan dengan hanya mengatakan : “Kami telah beriman”, dan mereka tidak
diuji ?. (Q.S al Ankabuut 2)
khaufi wal juu’i wa naqshin minal amwaali wal anfuusi wats tsamarat, wa
basysyiril shaabiriin” Dan kami
pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,
jiwa dan buah buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang orang yang
sabar. (Q.S al Baqarah 155)
mu’mini kamatsaliz zar’i, laatazaalur riihu tamiiluhu, walaa yazaalul mu’minu
yushiibuhul bala’. Perumpamaan seorang mu’min tak ubahnya seperti tanaman,
angin akan selalu menerpanya, ia akan selalu mendapat cobaan (H.R Imam Muslim).
telah diajarkan dalam syariat Islam. Juga telah diajarkan bagaimana adab
seorang hamba jika pada suatu waktu
mendapat musibah. Diantaranya adalah :
hendaklah bersabar. Diantara bentuk kesabaran adalah menahan diri dari
kemarahan, menahan lisan untuk mengeluh dan menahan anggota badan dari
perbuatan yang mendatangkan murka Allah.
dalam menerima musibah adalah senantiasa
meyakini bahwa kemarahan, kekesalan ataupun keluhan tidak akan merubah apa yang
telah ditetapkan Allah Ta’ala. Oleh karena itu bersabarlah sebagaimana sabarnya
orang orang yang bertakwa yakni sabar dengan penuh kerelaan.
kehendak Allah bukan kehendak atau
tersebab siapa siapa. Seorang hamba harus pula yakin bahwa Allah telah
menetapkan adanya hikmah di balik suatu musibah.
maa kataballahu lana, huwa maulaanaa wa ‘alallahi falyatawakkalil mu’minuun”. Katakanlah,
Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami.
Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah bertawakkal orang orang yang
beriman. (Q.S at Taubah 51).
walaa fii anfusikum illa fii kitaabin min qabli an nabra-ahaa, inna dzaalika
‘alallahi yasiir” Tiada sesuatu musibah yang menimpa di bumi dan (tidak
pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzzh)
sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah. (Q.S al Hadiid 22).
adab untuk tidak mengeluh kepada makhluk. Ketahuilah bahwa ini adalah tingkat
keluhan yang paling hina karena dia mengeluhkan Mahapencipta yang
menciptakannya kepada manusia. Ia mengeluhkan Allah yang Mahapenyayang, yang
lebih sayang terhadap dirinya daripada dirinya sendiri atupun ibu kandungnya.
musibah, maka bersabarlah seperti kesabaran manusia yang mulia. Memang
begitulah seharusnya. Apabila engkau mengeluh kepada makhluk, maka sesungguhnya
engkau telah mengeluhkan Allah Yang Mahapenyayang kepada makhluk yang tidak
menyayangi.
juga merupakan salah satu adab jika
mendapat musibah yaitu mengucapkan kalimat istirja’. Allah berfirman : “…Wa
basysyirish shaabiriin. Alladziina idzaa ashaabathum mushiibatun qaaluu inna
lillahi wa inna ilaihi raaji’uun” Ulaaika ‘alaihim shalawaatun min rabbihim wa
rahmah, wa ulaaika humul muhtaduun” …Dan
berilah kabar gembira kepada orang orang yang sabar. (yaitu) orang orang yang
apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan : Inna lillahi wa innaa ilaihi
raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat
dari Rabbnya. Dan mereka itulah orang orang yang mendapat petunjuk. (Q.S al
Baqarah 155-157).
musibah lalu membaca doa yang telah diperintahkan Allah : Sesungguhnya kami
milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali. (Allahumma ajurnii fii
mushibatii wa ikhliflii khairan minha) Ya Allah berilah aku pahala dari musibahku ini
dan gantilah dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya. Melainkan
Allah pasti memberinya pahala atas musibah tersebut dan menggantinya dengan
sesuatu yang lebih baik dari padanya (H.R Imam Muslim).
juga sering dibaca oleh Rasulullah ketika beliau menghadapi kesulitan
adalah : Yaa haiyu yaa qaiyumu bi
rahmatika astaghiits. Ya Allah yang Mahahidup kekal. Ya Allah, Rabb Yang
terus menerus mengurus hambaNya. Dengan rahmatMu aku meminta pertolongan. (H.R
Imam at Tirmidzi, dari Anas bin Malik).
Allah saja. Dialah yang mampu meringankan bahkan menghilangkan musibah yang
menimpa. Dialah yang mampu menggantinya dengan pertolongan, kemudahan dan
karuniaNya. Oleh karena itu berharaplah jalan keluar kepadaNya.
niscaya dia akan mendapatkan apa yang diharapkan.
hamba menghadapkan hatinya dengan penuh harapan agar Dia berkenan menghilangkan
beban musibah tersebut dan menghilangkan rasa sedih dan putus asa. Allah
berfirman : …Walaa taiasu min rauhillah, innahuu laa yaiasu min rauhillah
illal qaumul kaafiruun”. …Dan
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus
asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Q.S Yusuf 87).
cobaan ataupun musibah. Wallahu A’lam.
(255).





































