dalam suatu ceramahnya pernah berkisah. Kata beliau : Secara rutin, sekali dalam sebulan saya memberikan kajian di sebuah Masjid di kawasan
Tanah Abang Jakarta Pusat.
Sebelum bertanya dia memberi komentar
dan mencela hukum potong tangan bagi
pencuri. Itukan kejam, tidak manusiawi katanya. Apakah tidak ada cara lain yang
lebih baik untuk menghukum orang yang mencuri.
berusaha memberikan penjelasan kepada
penanya ini dengan berbagai dalil dan hikmah yang ada di dalam ketentuan hukum tersebut. Tapi jamaah ini tidak
merasa puas.
argumentasi menggunakan akalnya. Sekali lagi saya memberikan pemahaman kepada
jamaah ini bahwa ini adalah ketetapan Allah dan pasti ini adalah keadilan yang
sempurna. Jika mengetahui suatu hukum Allah maka sebagai seorang muslim
hendaklah kita dalam posisi sami’naa wa atha’naa. Namun demikian ternyata si penanya ini masih belum puas juga.
bersemangat apalagi saat mencela hukum potong tangan.
mobil saya hilang kredit mobil itu harus saya cicil terus. Lebih lanjut dia
berkata : Saya sedih sekali ustadz dan kalau ketemu orangnya akan saya bunuh.
mencuri tidak boleh dibunuh, maksimal
potong tangan dan itupun hanya boleh dilakukan oleh penguasa atau pemerintah. Ketahuilah kata ustadz Sobari, sungguh Allah telah
berfirman :”Wassaariqu wassaariqatu faqta’uu aidiyahumaa jazaa-an bimaa
kasabaa nakaalan minallah. Wallahu ‘aziizun hakiim”. Adapun orang laki laki
maupun perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai
siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Q.S al Maidah 38)
dan mencela sebagian hukum dan ketetapan Allah. Diantaranya yang dicela dan
dikritik adalah tentang hukum potong tangan, tentang hukum rajam, tentang pembagian
waris. Kata mereka Allah tidak adil.
Na’udzubillah. Rupanya ada manusia yang merasa dia lebih tahu keadilan dari
pada pencipta dan pemilik alam semesta ini.
ini. Bertakwalah kepada Allah. Takutlah akan adzab Allah yang sangat pedih.
Allah berfirman : “Inna ‘adzaba rabbika
kaana mahdzuraa” Sungguh adzab Rabbmu itu sesuatu yang (harus)
ditakuti (Q.S al Israa’ 57).






































