cobaan ataupun musibah kepada hamba hamba-Nya. Ujian itu bisa jadi kepada
dirinya, keluarganya, hartanya ataupun yang lainnya.
diantaranya adalah : Allah berfirman : “Ahasiban naasu an yutrakuu an yaquuluu
aamannaa wa hum laa yuftanuun” Apakah manusia mengira bahwa mereka akan
dibiarkan dengan hanya mengatakan : “Kami telah beriman”, dan mereka tidak
diuji ? (Q.S al Ankabuut 2)
mu’mini kamatsaliz zar’i, laatazaalur riihu tamiiluhu, walaa yazaalul mu’minu
yushiibuhul bala’. Perumpamaan seorang mu’min tak ubahnya seperti tanaman, angin
akan selalu meniupnya, ia akan selalu mendapat cobaan (H.R Imam Muslim).
ujian atau musibah bisa terasa lebih ringan, diantaranya adalah :
dilakukan dengan dua perkara :
telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada dirinya. Jika dia tidak mampu
menghitungnya, niscaya derita yang dialaminya pun akan terasa ringan. Dia akan
mengerti bahwa cobaan yang sedang dialaminya jika dibandingkan dengan nikmat
dan pertolongan Allah kepadanya, maka musibah itu tdak lebih dari setetes air
hujan.
Hendaklah dia mengingat nikmat nikmat Allah Subhanahu
wa Ta’ala yang pernah diberikan kepadanya, yaitu nikmat nikmat terdahulu, yang
pernah dia rasakan. Dan hendaklah dia menghitung hitung pertolongan Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang pernah dia
terima.
menghadapi ujian adalah hendaknya orang yang mendapat ujian atau musibah
mengetahui bahwa orang orang yang tertimpa musibah itu ada pada setiap lembah
bani Sa’ad (yaitu ada pada orang orang yang mendapat kebahagiaan).
bahwa kebahagiaan dunia adalah bunga tidur. Jadi jika engkau mendapatkan
kebahagiaan, kebahagiaan itu hanyalah bersifat sementara. Tidaklah suatu rumah
dipenuhi dengan kebaikan kecuali juga ia dipenuhi dengan berbagai ‘ibrah atau
pelajaran. Dan tidaklah suatu rumah dipenuhi dengan hari yang penuh kebahagian
kecuali ia juga akan dipenuhi dengan hari yang banyak penderitaan.
Tidaklah suatu rumah dipenuhi kebahagiaan kecuali rumah itu juga akan dipenuhi
dengan tarah atau kesedihan. Ibnu Sirin berkata : Tidak ada seorangpun yang tertawa kecuali
pada suatu waktu ia juga akan menangis (Kitab Zaadul Ma’aad, Ibnul Qayyim).
kita agar terus menerus berbaik sangka
kepada Allah atas segala perbuatan-Nya :
husnuzhan, berbaik sangka kepada Allah terhadap perbuatan Allah di muka bumi.
meyakini bahwa apa yang Allah lakukan adalah untuk suatu hikmah yang sempurna.
Terkadang akal manusia memahaminya terkadang tidak.
ada yang menyangka bahwa jika Allah melakukan sesuatu di alam ini karena
kehendakNya yang buruk.
Allah hati menjadi lapang dan musibah atau ujian ataupun cobaan akan terasa
ringan, insya Allah.
menghadapi musibah dan bagaimana pula besar usaha Urwah bin Zubair untuk selalu
mengingat nikmat nikmat Allah sebagai penghibur kesedihannya. Ringkasan kisahnya adalah bahwa dalam suatu perjalanan
kakinya terserang penyakit yang disebut akillah yaitu penyakit yang dapat
menggerogoti seluruh tubuhnya. Dokter memutuskan untuk memotong satu kakinya
hingga pertengahan betis. Pada perjalanan itu juga ia ditimpa musibah anak laki
lakinya Muhammad meninggal karena ditendang hewan tunggangannya.
Ya Allah, aku memiliki tujuh anak kemudian Engkau mengambilnya satu dan Engkau masih sisakan bagiku enam anak. Ya
Allah, dahulu aku memiliki empat anggota tubuh yang lengkap, dua tangan dua
kaki. Kini Engkau telah mengambil salah satunya dariku dan Engkau masih sisakan
tiga bagiku.
masih ada padanya selain nikmat yang telah diambil oleh Allah darinya. Ini yang
membuatnya ringan dalam menerima musibah.







































