yang akan ditanam di lahan yang dia miliki. Hukum asalnya, dia boleh memilih
menanam mangga, rambutan, duren, ubi, singkong, tomat, wortel, sayuran dan yang
lainnya. Pilihannya tentu adalah tanaman yang paling bermanfaat baginya. Petani
tidak akan pernah menanam alang alang ataupun rumput liar.
senantiasa memilih apa yang paling baik yang akan dia tanam pada dirinya.
Sekiranya seseorang selalu berusaha menanam dan mengamalkan sifat sifat takwa
dan ketaatan dalam dirinya tentulah akan
mendatangkan manfaat yang banyak baginya.
bagi dunia dan akhiratnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengilhamkan pada diri
manusia dua sifat yaitu fujur (sesuatu yang buruk) dan sifat takwa (sesuatu
yang baik). Allah berfirman : “Fahal hamaha fujuraha wa taqwaha” Maka
Dia (Allah) mengilhamkan (menunjukkan) kepada (jiwa itu jalan) jalan kefasikan
dan ketakwaan. (Q.S asy Syam 8)
najdain.” Kami telah menunjukkan kepadanya (manusia) dua jalan.
menjelaskan bahwa : Para sahabat seperti Ibnu Mas’ud, Ibanu Abbas, Ali bin Abi
Thalib, dan juga Mujahid (seorang Tabi’in murid Ibnu Abbas) dan yang lainnya
mengatakan bahwa dua jalan itu bermakna jalan kebaikan dan keburukan.
pula dengan surat al Insan ayat 3. “Inna hadainaahus sabiila imma syaakirau
wa imma kafuura” Sesungguhnya kami telah menunjukinya (manusia) jalan yang
lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Inna hadainaahus sabiila, dalam hal ini dia manusia bisa
sengsara dan bisa bahagia.
faman sya-a fal yu’min, waman sya-a falyakfur” an katakanlah (wahai
Muhammad) kebenaran itu datang dari Rabbmu, maka barang siapa yang ingin
(beriman) hendaklah dia beriman dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah dia
kafir. (Q.S al Kahfi 29).
Azhar menjelaskan bahwa manusia diberi akal sehingga dapat menimbang dan
mengunci kebenaran itu. Jika beriman selamatlah kamu. Dan jika kamu kafir maka
yang menanggung akibatnya bukan orang lain tapi kamu sendiri juga.
kebaikan dan bukan jalan yang buruk. Kita akan berusaha mendapatkan sifat takwa
bukan fujur. Kita sungguh sangat berkeinginan untuk berada di jalan yang benar
dan bukan di jalan yang salah. Kita sehatusnya sangat bersemangat dan selalu
berusaha mendapatkan jalan yang lurus, bukan jalan orang orang dimurkai dan
bukan pula jalan orang orang yang sesat.
kita untuk mendapatkan petunjuk kepada jalan ketakwaan dan kebaikan itu.
Diantaranya adalah :
kebaikan, karena sungguh jalan kebaikan itu adalah petunjuk dan petunjuk itu
hanyalah milik Allah. Manusia bisa mendapatkannya antara lain dengan berdoa
memohon kepada-Nya. Diantara doa doa itu adalah :
al Fatihah ayat 6 yang selalu kita baca dalam shalat baik shalat wajib maupun
shalat sunat, yaitu : “Ihdinash shiraatal mustaqiim” Ya Allah, tunjuki kami jalan yang lurus.
duduk diantara dua sujud. Yaitu : Allahummaghfirlii, warhamnii, wajburnii,
warfa’nii, wahdinii, wa ‘aafinii, war
zuqnii ” Ya Allah amunilah aku,
sayangilah aku, cukupilah kekuranganku, angkatlah derajatku, tunjukilah
aku, selamatkanlah aku dan berilah aku rizki. (H.R at Tirmidzi)
qunut witir. “Allahhummah dinii fiiman hada-it.” Ya Allah, berilah aku petunjuk
sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk. (H.R Imam at Tirmidzi)
diajarkan Rasulullah yang bisa kita baca pada setiap kesempatan yaitu : “Allahhumma
innii as-alukal hudaa, wat tuqaa, wa ‘afafa wal g”inaa” Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk,
ketakwaan, kesucian dan kecukupan (H.R Imam Muslim)
mengikutinya.
mempelajari sirah atau sejarah kehidupan Rasulullah. Rasululah adalah tauladan
utama bagi kita dalam hal aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah. Allah berfirman
: “Laqad kaana lakum fii rasulullahi
uswatun hasanatun, liman kaana yarjullaha wal yaumil aakhira wa dzakarallaha
katsiiraa.” Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak
mengingat Allah. (Q.S al Ahzaab 21)
belajar dari kebaikan kebaikan yang telah dipraktekkan oleh para sahabat,
tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Belajar kebaikan tentulah dari yang terbaik.
Rasulullah bersabda : “Khairunnaas
qarni, tsummal ladzina yaluunahum, tsummal ladzina yaluunahum”. Sebaik
baik manusia adalah pada masa ku ini kemudian
yang sesudahnya dan kemudian yang sesudahnya. (Mutaffaqun ‘alaihi).
Rasulullah, dari para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in dan juga dari orang
yang mengikutinya.
kebaikan.
jalan kebaikan, akan mempengaruhi kepribadian seorang hamba. Rasulullah
bersabda : “Ar rajulu ‘alaa diini khaliilih, falyanzhur ahadukum man
yukhaalil.” Seseorang itu
tergantung pada agama teman dekatnya.
Oleh karena itu , hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa
yang akan dijadikan teman dekatnya. (H.R at Tirmidzi dan Abu Dawud).
selalu menjaga ketaatannya, menjaga ketakwaannya, suka beribadah, baik
akhlaknya dan sangat senang mengikuti majlis ilmu. Berteman dengan orang yang
baik akan membantu kita untuk memilih jalan kebaikan dan menetapinya.
orang orang yang berada di lajan kebaikan, diantaranya adalah :
bagi temannya
yang lain. Pertemanan dengan orang baik insya Allah akan langgeng dari dunia
sampai ke akhirat. Tapi kalau pertemanan bukan ikhlas karena Allah biasanya
tidak langgeng. Jangankan langgeng sampai ke akhirat, di dunia saja bisa jadi
sudah berantakan, bubar, karena ada kepentingan duniawi.
baik, akan selalu memberikan hak
hak temannya.
Kalau kesulitan akan dibantu.
kebaikan, ketakwaan dan ketaatan.
Memberi nasehat atau petunjuk jika kita ragu atau
tidak tahu
Mau mengkritisi dan berusaha mencegah kita supaya tidak jatuh kepada perbuatan buruk
Abu Dharda’ berkata kepada seorang sahabatnya : Kalau
aku marah cegahlah marahku dan kalau engkau marah akan aku cegah marahmu.
Teman yang baik, jika pada suatu waktu terzhalimi
oleh kita maka teman yang baik ini akan
memberikan udzur, memaafkan bahkan mendoakan kebaikan bagi kita.
bermanfaat. Wallahu a’lam. (162)






































