hamba adalah penyakit ghibah yaitu bergunjing, membicarakan aib orang lain.
Sungguh Allah memberikan perumpamaan yang sangat buruk terhadap perbuatan
ghibah yaitu semisal orang yang memakan daging saudaranya yang telah mati.
ayuhibbu ahadukum an ya’kula lahma akhiihi maitan fa karihtumuuh,wat
taqullaha innallaha tauwaabur rahiim”
Dan janganlah ada diantara kamu menggunjing sebagian yang lain, apakah ada
diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati. Tentu kamu
merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahapenerima
taubat dan Mahapenyayang. (Q.S al Hujuraat 12).
penghinaan Allah kepada manusia yang melakukan ghibah, supaya tidak ada
seorangpun yang melakukannya.
ayat ini terdapat peringatan keras dari melakukan ghibah karena ghibah
tergolong kepada dosa besar. Allah menyamakan ghibah dengan memakan daging
bangkai, yang mana memakan bangkai adalah termasuk dosa besar.
yang dipahami bahwa orang yang menderita penyakit fisik biasanya segera
berobat. Bahkan ada yang berobat kemana mana sampai ke luar negeri meskipun harus mengeluarkan biaya yang banyak.
Seorang yang memiliki penyakit ghibah tentu lebih utama lagi untuk segera
mengobati penyakitnya.
antara lain menjelaskan bahwa upaya yang
paling utama untuk menghindari dan mengobati suatu penyakit adalah dengan memotong dan menjauhkan diri dari
penyebabnya. Selanjutnya beliau memberi
beberapa nasihat untuk menghindari atau mengobati penyakit ghibah, diantaranya
:
menjauhi ghibah. Seorang hamba, jika ingin terhindar dari penyakit ini, maka dia
harus betul betul paham dan menyadari bahwa perbuatan ghibah itu akan
mendatangkan murka Allah, pada hal kita setiap saat sangat mengharapkan ridha
Allah.
berarti dia telah menzhalimi saudaranya.
Dia telah membuka aib saudaranya. Ini akan membahayakan keadaannya di
dunia dan di akhirat kelak karena pahalanya bisa berpindah kepada orang lain
yang pernah dizhaliminya di dunia diataranya adalah karena ghibah. Jika
pahalanya sudah habis atau tidak ada maka dosa dosa orang yang dighibah akan
dipindahkan kepadanya. Ini adalah seperti yang dimaksud dalam hadits tentang
orang yang muflis atau orang bangkrut di akhirat kelak.
introspeksi diri dengan melihat aibnya sendiri lalu berusaha memperbaiki diri.
ghibah sementara dirinya masih penuh dengan berbagai aib dan keburukan.
yang lebih baik baginya adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya. Dia
tidak perlu mengotori dirinya dengan perbuatan yang bernama ghibah ini.
mastinya dia juga tidak akan mau mengghibah orang lain.
menghindari dan mengobati penyakit ghibah yang mungkin ada pada diri seorang
hamba.






































