lainnya, apabila mengalami musibah atau
ujian lalu berburuk sangka kepada Allah. Ini adalah sikap yang sangat tercela dan dilarang oleh syari’at. Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin memberikan
tuntunan buat kita agar berbaik sangka kepada Allah jika mendapat ujian atau
cobaan, yaitu :
Allah di muka bumi.
hikmah yang sempurna. Terkadang akal manusia memahaminya terkadang tidak.
alam ini karena kehendakNya yang buruk.
Allah, maka wajiblah beradab kepada Allah. Syaikh Abdul Aziz Nada, dalam
Kitabnya Ensiklopedi Adab Islam menyebutkan lebih dari 15 macam adab kepada
Allah yang wajib dijaga. Diantaranya adalah berbaik sangka terhadap
ketetapan Allah.
selang tiga hari sebelum beliau wafat : “Laa yamuttunna ahadukum illaa wahuwa yuhsinuzh zhanna
birabbihi” Janganlah salah seorang dari kalian mati kecuali dalam
keadaan berbaik sangka kepada Rabbnya (H.R Imam Muslim dan Imam Ahmad).
baik sangka terhadap ketetapan Allah berupa ujian atau musibah.
manusia. Sungguh ini mudah diucapkan tapi berat dalam melaksanakannya, kecuali
bagi orang orang yang diberi hidayah dan memiliki iman yang kokoh.
ada.
ternyata nikmat yang tersisa masih sangat banyak. Kita sering menangisi
sesuatu yang hilang tapi kadang kadang lupa terhadap nikmat yang masih ada pada
diri kita.
Islam yang merupakan puncak nikmat bagi kita. Ditambah lagi dengan nikmat akal,
hati, panca indra, kesehatan dan yang lainnya dan tidak terhitung jumlah dan
jenisnya. Allah berfirman : “Wain ta’uddu ni’matallahi laa tuhshuuhaa”. Dan
jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak (akan pernah) dapat
menghitungnya (Q.S Ibrahim 34).
wus’ahaa” Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai kemampuannya. (Q.S al Baqarah 286).Ketahuilah bahwa
ujian atau musibah yang kita terima belum seberapa dibanding selain kita.
ditanya tentang manusia yang paling berat cobaannya. Beliau bersabda : “Yang
paling berat cobaannya diantara manusia adalah
para Nabi, kemudian orang yang dibawahnya
dan yang dibawahnya (H.R. Imam at Tirmidzi dan Imam Ibnu
Majah).Kenapa begitu ? ya, karena para Nabi dan Rasul lebih teguh imannya dan
lebih mampu menghadapi cobaan dibanding yang selainnya.
shalih. Nabi Ibrahim diuji dengan
perintah menyembelih anaknya Ismail, Nabi Ayyub diuji dengan penyakit, Bilal
bin Rabbah diuji dengan siksaan karena mempertahankan tauhid, Imam Ahmad
dipenjara dan disiksa oleh penguasa karena mempertahankan keyakinan bahwa al
Qur an adalah Kalamullah. Apalagi ujian yang dialami oleh Rasulullah yang kita
tahu adalah sangat banyak dan berat.
bagi seorang
sayangnya seorang hamba itu kepada dirinya sendiri. Seseorang yang mendapat ujian
mungkin merasa suatu yang tidak baik
baginya padahal sesungguhnya tidaklah
demikian.
khairul lakum. Wa’asaa antuhibbu syai’an wahuwa syarrul lakum. Wallahu ya’lamu
wa antum la ta’lamuun” Dan boleh
jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu
menyenangi sesuatu padahal itu buruk bagimu. Dan Allah Mahamengetahui sedangkan
kamu tidak mengetahui (Q.S al Baqarah 216).
khairan yushib minhu” Barang siapa yang dikehendaki Allah
kebaikan pada dirinya maka Dia memberikan cobaan kepadanya. (H.R Imam Bukhari).
disyukuri.
kurang iman dan ilmu. Tapi perhatikanlah apa yang dikatakan Umar bin Khaththab
: Tidaklah aku ditimpa suatu musibah, kecuali Allah memberikan empat kenikmatan
kepadaku :
cara agar senantiasa mampu berbaik sangka kepada Allah terhadap apapun ujian
dan musibah yang menimpa diri kita. Allahu a’lam.





































