*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pers dalam blog ini Klik Disini
Kantor berita Antara masih eksis hingga ini
hari. Dalam narasi sejarah Antara pada masa ini, selalu hanya dikaitkan dengan
empat nama, para pendiri: Albert Manumpak Sipahutar, Mr. Soemanang, Adam Malik
dan Pandoe Kartawigoena. Mengapa begitu? Sebab sejarah kantor berita Antara
mengindikasikan banyak yang tidak terinformasikan.

Perusahaan
Umum Lembaga Kantor Berita Nasional Antara merupakan kantor berita di Indonesia
dimiliki Pemerintah Indonesia sebagai BUMN. Perum Antara diberikan tugas
Pemerintah melakukan peliputan dan penyebarluasan informasi yang cepat, akurat,
dan penting. NV Kantor Berita Antara didirikan 13 Desember 1937, pada saat itu
diterbitkan pertama, Buletin Antara, di jalan Raden Saleh Kecil No. 2 Jakarta.
Para pendiri Albert Manumpak Sipahutar, Mr. Soemanang, Adam Malik dan Pandoe
Kartawigoena. Redaktur adalah Abdul Hakim dibantu Sanoesi Pane, Mr. Soemanang,
Mr. Alwi, Sjaroezah, Sg. Djojopoespito. Tahun 1941, jabatan Direktur Mr.
Sumanang diserahkan kepada Sugondo Djojopuspito, sedangkan jabatan Redaktur
tetap pada Adam Malik merangkap Wakil Direktur. Kantor Antara 1942 pindah ke
Noord Postweg 53 Paser Baroe bersama dengan Kantor Berita Domei, Soegondo
pindah bekerja di Kantor Shihabu, Adam Malik dan AM Sipahutar tetap menjadi
pegawai Domei. Tahun 1946, hijrah ke Yogyakarta. Pada masa itu, Direkturnya
Adam Malik, dengan pimpinan sehari-hari Pangulu Lubis dan Rachmat Nasution
(ayah Adnan Buyung Nasution). Tahun 1962, Antara resmi menjadi Lembaga Kantor
Berita Nasional berada di bawah Presiden (Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah Mr Amir Sjarifoeddin
Harahap dan kantor berita Antara? Seperti disebut di atas, kantor berita Antara
yang dibentuk pada era Pemerintah Hindia Belanda masih eksis hingga ini hari.
Bagaimana sejarah lengkapnya? Yang jelas ada fase erjarah Adam Malik hingga
Mochtar Lubis yang kurang terinformasikan. Lalu bagaimana sejarah Mr Amir
Sjarifoeddin Harahap dan kantor berita Antara? Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Mr Amir Sjarifoeddin Harahap dan Kantor Berita Antara;
Adam Malik hingga Mochtar Lubis
Saya masih ingat sewaktu masih SMA, Adam Malik
berkunjung ke Padang Sidempoean dan menyempatkan diri mengunjungi penjara kota
Padang Sidempoean. Adam Malik yang menjadi wakil presiden RI tersebut, tentu seluruh
warga tahu maksudnya. Di penjara itulah Adam malik pernah dibui semasa era
Pemerintah Hindia Belanda tahun 1934. Saat itu Adam Malik masih remaja belia
berumur 17 tahun, menjadi salah satu pengurus Partai Indonesia (Partindo) di Pematang
Siantar.

Adnan Noer Loebis (belum genao usia 18 tahun) adalah ketua Partindo
cabang Medan (lihat De Sumatra post, 26-03-1934). Partindo cabang Medan beralamat
di jalan Antara Medan, tempat dimana Abdoel Hamid Loebis. Selanjutnya Mohammad
Tagor Sjarif Pane, ketua Partindo Sipirok sepulang dari Batavia kembali ke
Sipirok singgah di Medan (lihat De tribune: soc. dem. Weekblad, 18-04-1934).
Disebutkan Mohammad Tagor Sjarif Pane, sebelum menuju Sipirok bertemu dengan Adnan
Noer Loebis di Medan. Lalu beberapa waktu kemudian sejumlah tokoh Partindo
kumpul di Sipirok. Adnan Noer Loebis memimpin rapat di rumah Mohammad Tagor
Sjarif Pane. Sehari setelah di rumah Pane, Loebeis dipanggil oleh asisten
demang dan langsung ditahan tanpa basa-basi. Malamnya rumah Pane digeledah dan
ditemukan banyak dokumen. Lalu keesokan harinya Pane dan Loebis dipanggil oleh
jaksa untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tokoh Partindo. Para senior mereka, yang
pada bulan bulan Agustus 1934 oleh Raad van Ned. Indie berdasarkan Art.37 yakni
Boejoeng Siregar lahir di Sipirok, umur 27 tahun; Moehoddin Nasoetion lahir di
Hoetapoengkoet, umur 20 tahun; Aboe Kasim lahir Hoetapoengkoet umur umur 25
tahun diputuskan diasingkan Boven Digoel (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 17-08-1934). Dengan pasal yang sama Abdoel Hamid Loebis
lahir di Kuala Simpang umur 24 tahun warga kota Medan ditahan di Medan menunggu
keberangkatan ke Diegoel (lihat De Indische courant, 18-08-1934). Garis ke atas
adalah Mr Amir Sjarifoeddin Harahap, ketua cabang Partindo Batavia. Dalam garis
organisasi inilah dari Batavia hingga ke Sipirok dan Padang Sidempoean, Adam
Malik yang masih berusia 17 tahun memiliki garis organisasi langsung kepada
Abdoel Hamid Loebis di Medan alias Abdoel Hamid Loebis adalah mentor politik
Adam Malik. Pada bulan Oktober 1934 Adam Malik harus dibui di penjara Padang
Sidempoean (lihat De Sumatra post, 27-10-1934). Disebutkan pelanggaran larangan
rapat. Pekan lalu Adam Malik, anggota pengurus Partindo di Siantar, ditangkap
di Siantar. Penangkapan itu atas permintaan hakim di Sipirok, karena Adam Malik
diduga mengadakan rapat Partindo ketika berada di Sipirok. Adam Malik dibawa ke
Sipirok di bawah pengawalan polisi. Adam Malik dan tiga rekannya
dari Sipirok oleh hakim dijatuhi hukuman masing-masing dua bulan di Sipirok,
dengan tuduhan melanggar larangan Partindo untuk berkumpul.
Setelah menyelesaikan hukumannya di penjara Padang
Sidempoean, pada awal tahun 1935 Adam Malik kemudian hijrah ke Batavia.
Mentornya di Medan, Abdoel Hamid telah dikirim ke Boven Digoel. Di Batavia Adam
Malik langsung bergabung dengan tokoh-tokoh senior Partindo *cabang Batavia)
yang dipimpin oleh Mr Amir Sjarifoeddin Harahap. Adam Malik juga menjadi bersua
dengan tokoh pers Batavia Parada Harahap.
Parada Harahap di Batavia adalah The King of Java Press. Parada Harahap,
Amir Sjarifoeddin Harahap dan Ir Soekarno adalah tokoh senior Partindo di
Batavia. Pada bulan Juni 1933 semua pers pribumi yang revolusioner dibreidel,
termasuk milik Parada Harahap surat kabar Bintang Timoer. Juga Fikiran Ra’jat Bandoeng (Ir Soekarno)
dan Daoelat Ra’jat di Batavia (Drs Mohamad Hatta). Ir Soekarno atas hasutan
yang pernah dibuat telah ditangkap dan dijebloskan di penjara Soekamiskin
Bandoeng. Pada awal bulan November 1933, Parada Harahap memimpin tujuh
revolusioner ke Jepang. Dalam rombongan ini termasuk Abdoellah Loebis (Pewarta
Deli di Medan), Panangian Harahap (Bintang Timoer Batavia), Dr Sjamsi Widagda,
guru di Bandoeng dan Drs Mohamad Hatta). Di Jepang, Parada Harahap dijuluki
pers Jepang sebagai The King of Java Press. Setelah cukup lama di Jepang,
rombongan kembali ke tanah air dan turun di pelabuhan Tandjoeng Perak Soerabaja
pada tanggal 14 Januari 1934. Pada hari yang sama, Ir Soekarno diberangkatkan
dari pelabuhan Tandjoeng Priok Batavia untuk diasingkan ke Flores. Setelah
seminggai di Soerabaja, Parada Harahap dan Mohamad Hatta kembali ke Batavia.
Semingguan kemudian keduanya ditangkap dan ditahan. Konsulat Jepang di Batavia membantu
pembebesan mereka. Namun seminggu kemudian Mohammad Hatta ditangkap lagi atas
tuduhan hasutan dimana tulisannya yang dimuat di Daoelat Ra’jat enam bulan
sebelumnya. Mohamad Hatta dalam masalah, menunggu untuk pengasingan ke Boven
Digoel (seperti kita lihat nanti Mohammad Hatta diasingkan ke Digoel tanggal 28
Januari 1935). Amir Sjarifoeddin Harahap juga ditangkap karena hasutan, tetapi
mendapat pembelaan dari Dr Hoesein Djajadingrat, yang menjadi dekan Rechthoogeschool
Batavia dimana Amir kuliah. Amir kemudian dibebaskan dengan syarat dan jaminan
karena sedang menyelesaikan tesis.
Adam Malik telah kehilangan mentor Abdoel Hamid Loebis.
Meski masih ada Parada dan Amir di batavia, tetapi juga turut kehilangan karena
Ir Soekarno dan Drs Mohamad Hatta telah diasingkan. Adam Malik yang masih
belia, mulai ikut berjuang di Batavia, melanjutkan perjuangan seniornya.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Adam Malik hingga Mochtar Lubis: Fase Terpenting dalan
Sejarah Kantor Berita Antara
Sebagaiman di dalam artikel sebelum ini, pada tahun
1925 di Batavia, Parada Harahap mendirikan kantor berita pribumi Alpena dengan merekrut
WR Soepratman sebagai editor. Pada awal tahun 1938 diketahui di Batavia telah
didirikan kantor berita pribumi Antara (lihat De koerier, 17-02-1938).
Disebutkan pendirian kantor berita pribumi terkait dengan adanya perdebatan yang
sengit di Volksraad tentang kesulitan yang dihadapi oleh pers pribumi dalam
kaitannya dengan pasokan kertas dan sumber berita yang selama ini domonopoli
oleh kantor berita (berbahasa) Belanda Aneta. Seperti dikutip di atas, kantor berita
Antara didirikan 13 Desember 1937, yang mana dua diantara pendiri adalah Albert
Manumpak Sipahutar dan Adam Malik.

Albert Manumpak Sipahutar dan Adam Malik sudah lama saling kenal. Mereka berdua adalah pengurus
Partai Indonesi (Partindo) cabang Pematang Siantar (lihat Deli courant, 24-07-1933). Disebutkan dalam rapat
umum Partindo di Pematang Siantara yang dihadiri 800-900 massa harus dibubarkan
polisi. Dalam rapat umum ini ada sejumlah pembicara, yakni Djauhari Salim dari
Medan dan dari pengurus Partindo Pematang Siantar, wakil ketua IN Siregar, komisaris
AM Sipahoetar dan bendahara Adam Malik. AM Sipahoetar adalah pengurus baru,
sementara adalah salah satu pendiri Partindo Simaloengoen/Pematang Siantar (lihat
De Sumatra post, 27-12-1932). Disebutklan PI di Simaloengien. Dalam rapat
terbatas pendiri Partai Indonesia yang digelar di Pematang Siantar, Sabtu
malam, tokoh terkenal Abdoel Hamid Loebis membahas penentuan nasib sendiri,
demokrasi, dan politik swadaya. Pembicara berhasil memberikan wawasan kepada mereka
yang hadir dalam waktu tidak lebih dari dua jam. Pengurus yang terpilih, antara
lain: ketua Mohamad Said Harahap, sekretaris Cholil Nasoetion, bendahara Adam
Malik, comisaris Toha Arifin, AK Pandjaitan dan A.Moekmin Loebis.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com
























