Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Explore

Mencairnya Salju Abadi Terakhir Papua

Jelajah by Jelajah
13.09.2020
Reading Time: 5 mins read
0
ADVERTISEMENT
Puncak Jaya yang direkam melalui citra satelit pada 5 Desember 2017. Foto: NASA

Gletser Papua atau lapisan besar es, satu-satunya gletser tropis yang ada di Pasifik Barat yang berada di antara Pegunungan Andes, Amerika Selatan, dan Pegunungan Himalaya di Asia, akan hilang dalam kurun waktu satu dekade.

RELATED POSTS

Makan Siang di Meeting Point (Rebranding Umanusa Resto) Bandung

Keuntungan Menginap di Dormitory Room dan Tips Nyaman Menikmatinya

Kiat Hijrah dalam Konteks Berwisata

Gletser Papua yang disebut sebagai salju abadi ini akan mencair bahkan tidak lebih dari sepuluh tahun. Penyebabnya adalah pemanasan global dan dampak perubahan iklim. Sulit untuk bisa menyelamatkan atau mempertahankan gletser Papua, namun yang bisa dilakukan minimal adalah terus menerus lakukan monitoring.

KLHK menilai, mencairnya gletser Papua perlu dilakukan kajian kerentanan risiko dan dampak perubahan iklim pada ekosistem pegunungan, baik sosial maupun ekosistemnya, dengan meluaskan lagi kajian adaptasinya.

Pernah dengar salju abadi di Indonesia? Keabadian itu disematkan pada gletser atau lapisan besar es di puncak gunung dekat Pegunungan Puncak Jaya, Papua. Satu-satunya lapisan es yang dimiliki Indonesia.

Di wilayah ini terdapat puncak Carstenz, puncak gunung tertinggi di Indonesia dan masuk World Seven Summit atau tujuh puncak tertinggi dunia yang menjadi tujuan para pendaki gunung. Gletser Papua juga merupakan satu-satunya gletser tropis yang ada di Pasifik Barat, antara Pegunungan Andes, Amerika Selatan, dan Pegunungan Himalaya di Asia.

ADVERTISEMENT

Namun dalam waktu dekat, julukan salju abadi itu akan hilang. Dari tahun ke tahun, ketebalan es di puncak Papua terus mencair. Oleh para peneliti, gletser ini diperkirakan akan mencair dan hilang tahun 2025. Bahkan, mencairnya es bisa saja lebih cepat dari yang diperkirakan.

Raden Dwi Susanto, peneliti dari University of Maryland, mengatakan hasil ekspedisi tahun 2010 ketika dilakukan pengukuran, menunjukan ketebalan lapisan es sekitar 26-30 meter di Puncak Soekarno dan Soemantri. Kecepatan pengurangan luas gletser Papua merupakan dampak pemanasan suhu global dan kondisi iklim ekstrim El Nino dan La Nina. Apalagi ketika terjadi El Nino di 2015 dan 2016 lalu, pengurangan luasan es terjadi lebih cepat.

โ€œSuhu udara dan curah hujan sangat besar pengaruhnya. Gletser atau gunung es Papua akan menipis dan hilang, mungkin juga tidak akan sampai 10 tahun,โ€ kata Dwi Susanto saat menjadi pembicara diskusi virtual โ€œThe Last Glacier in Papuaโ€, yang digelar Mapala Universitas Indonesia, Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional, dan KPBB [Komite Penghapusan Bensin Bertimbel], Rabu, 10 Juni 2020.

Saat ekspedisi gletser Papua tahun 2010 itu, Dwi masih menjadi peneliti dari Columbia University. Riset itu merupakan kerja sama histori iklim [paleoklimatologi] dan lingkungan berdasarkan ice core atau inti es di Pegunungan Puncak Jaya, yang dilakukan bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika [BMKG] dengan Byrd Polar and Climate Research Center [BPCRC] di The Ohio State University [OSU], dan Lamont Doherty Earth Observatory [LDEO] di Columbia University, USA, serta PT. Freeport Indonesia.

Baca Juga: Papua, Pulau Dengan Spesies Tumbuhan Paling Banyak di Dunia

Sebelum menjelaskan kondisi gletser Papua, Dwi memberikan gambaran suhu permukaan laut di dunia. Sementara, permukaan air laut Indonesia berada di kolam panas pasifik barat atau West Pacific Warm Pool [WPWP]. Dwi juga menjelaskan kondisi iklim ekstrim di Indonesia seperti El Nino dan La Nina yang bisa menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan serta banjir, berdampak pada pencairan gletser Papua.

โ€œPengurangan luas es di gletser Papua cepat sekali, terutama disebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Antara 2010 dan 2015, lapisan es yang menyambungkan dua sisi gunung, pada bagian tengahnya mulai hilang.โ€

Kondisi glacier di sekitar Puncak Jaya yang direkam melalui citra satelit pada 3 November 1988. Foto: NASA

Strategi mitigasi dan adaptasi

Sri Tantri Arundhati, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim, KLHK, pada diskusi tersebut banyak menjelaskan strategi mitigasi dan adaptasi ketika gletser Papua mencair. Menurutnya, perubahan iklim adalah masalah global, walaupun sudah banyak upaya mitigasi, tetap saja suhu global akan meningkat.

Dia menjelaskan, melelehnya gletser Papua efeknya bisa banyak, naiknya permukaan air laut, sistem hidro meteorologi berubah, hingga curah hujan dan gelombang, serta dampaknya terhadap ekosistem kita. Apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan, pasti banyak mengalami dampak, terutama terhadap kenaikan muka air laut. Iklim ekstrim akan lebih sering terjadi kalau kita tidak berupaya melakukan upaya adaptasi.

Tantri menyebut mencairnya gletser Papua memiliki dampak negatif yaitu biota ekosistem air tawar akan dipengaruhi perubahan kuantitas dan waktu limpasan air dari gletser dan pencairan salju. Air gletser turun, aliran sungai menjadi lebih bervariasi, suhu air dan stabilitas saluran secara keseluruhan meningkat, dan habitat menjadi kurang kompleks.

Gambaran gletser yang terus menipis terlihat dari foto yang diambil sejak 2010. Sumber: Jurnal PNAS, 9 Desember 2019
Walau memiliki dampak negatif, risiko dan dampak perubahan iklim pada ekosistem pegunungan tetap ada dampak positifnya. Sebut saja bermanfaat bagi beberapa spesies tanaman dan ekosistem di beberapa kawasan, meningkatnya sejumlah layanan ekosistem, seperti ada habitat baru untuk spesies tanaman endemik dan meningkatkan produktivitas tanaman. Meski demikian, perlu kajian lebih lanjut terkait gletser di Papua, baik penyebab pencairan, dampak terhadap ekosistem juga terhadap masyarakat di wilayah tersebut.
Baca Juga: Gedung Pencakar Langit Sebagai Tanda Bahaya Lingkungan Hidup

โ€œBila ada yang melakukan tentu sangat baik kaitannya dengan ketahanan masyarakat sekitar,โ€ ucapnya.

Tantri menuturkan, perlu perencanaan adaptasi terintegrasi dengan pembangunan wilayah. Tujuannya, mendukung dan meningkatkan pengelolaan sumber daya air untuk berbagai sektor, baik penduduk, pertanian, energy, dan ekosistem. Juga perlu ada tata kelola pemerintahan yang efektif untuk mengurangi risiko bencana terkait iklim; tata ruang, kependudukan, hingga pengurangan kemiskinan.

โ€œSerta perlu kerja sama antarlembaga daerah pegunungan dan daerah aliran sungai lintas batas yang berpotensi mendukung aksi adaptasi,โ€ urainya.

Tiga mahasiswi anggota tim The Women of Indonesiaโ€™s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Wissemu) saat di puncak Cartenz Pyramid, Pegunungan Jayawijaya (Indonesia) berketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut, beberapa waktu lalu. Foto: Tim Wissemu Unpar

ย Dalam diskusi, hadir juga Farida Lasida dari Mapala Universitas Indonesia, yang lebih banyak memberikan kesaksian ketika melihat kondisi lapisan gletser. Farida yang sudah menginjakkan kaki di pegunungan Elbrus [Rusia] dan Kilimanjaro [Tanzania] itu, juga menyebut penumpukan sampah di lokasi Lembah Kuning.

โ€œTahun 2018 saat mendaki, sampahnya banyak sekali, mulai tenda, ember, kompor minyak tanah, hingga styrofoam yang ditinggalkan begitu saja. Untungnya saya sudah dapat update bahwa teman-teman pemandu telah melakukan pembersihan menggunakan helikopter. Sampahnya diangkut menggunakan jaring,โ€ ujarnya.

Farida juga melihat bagaimana pengaruh kegiatan pertambangan, karena gletser Papua masuk dalam kawasan Taman Nasional Lorentz, sementara area pertambangan makin meluas ke arah taman nasional.

โ€œIni di luar pengetahuan saya, yang sedikit sekali bagaimana dari sisi regulasinya,โ€ terangnya.

Donaldi Permana, peneliti dari BMKG yang ikut ekspedisi tahun 2010, memberikan tanggapan. Menurutnya, pemanasan global sudah terjadi. Berdasarkan perhitungan, paling lama dalam 10 tahun ke depan atau bahkan bisa lebih cepat, gletser Papua akan hilang. Apalagi jika sering terjadi El Nino, lapisan esnya akan lebih cepat habis.

โ€œSulit untuk menyelamatkan atau mempertahankannya, minimal kita terus memantau. Gletser ini satu-satunya di Indonesia,โ€ tutup Donaldi.

Sumber: Mongabay/Christopel Paino

Tags: ExploreIndahJalan-JalanJelajahTempatTravelTravelingwisataWisatawan
ShareTweetPin
Jelajah

Jelajah

Related Posts

Makan Siang di Meeting Point (Rebranding Umanusa Resto) Bandung
Explore

Makan Siang di Meeting Point (Rebranding Umanusa Resto) Bandung

20.01.2026
Keuntungan Menginap di Dormitory Room dan Tips Nyaman Menikmatinya
Explore

Keuntungan Menginap di Dormitory Room dan Tips Nyaman Menikmatinya

17.01.2026
Kiat Hijrah dalam Konteks Berwisata
Explore

Kiat Hijrah dalam Konteks Berwisata

16.01.2026
Roti Tawar Bobo Pontianak Tanpa Pengawet
Explore

Roti Tawar Bobo Pontianak Tanpa Pengawet

15.01.2026
Coto Makassar Kapuas Indah Pontianak
Explore

Coto Makassar Kapuas Indah Pontianak

09.01.2026
Martabak Pak Salim, Martabak Legendaris di Jalan Burangrang Bandung
Explore

Martabak Pak Salim, Martabak Legendaris di Jalan Burangrang Bandung

04.01.2026
Next Post

Mendalami Konflik Manusia dengan Harimau Sumatera

Ancaman bagi Penyembah Berhala Demokrasi

Iklan

Recommended Stories

Ya Abi, Jangan Telantarkan Aku

Santai di Pantai Samila

23.07.2015

Akibat Geger Jumat Kiamat, Cina Penjarakan Seribu Orang

21.12.2012

MANADO

25.11.2011

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE ยป

Terkini

Bagaimana Nasihat Guru Mengubah Jalan Hidup Imam Hanafi

Bagaimana Nasihat Guru Mengubah Jalan Hidup Imam Hanafi

21.01.2026
Xiaomi Resmi Luncurkan Kids Watch Dengan pelacakan lokasi canggih

Xiaomi Resmi Luncurkan Kids Watch Dengan pelacakan lokasi canggih

21.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?