Kata Ayah:
Berinvestasilah Pada Aset Terbaik
Dibandingkan dengan dulu kupikir saat ini kita lebih banyak diarahkan ke arah investasi (apapun bentuknya ya) ketimbang manajerial keuangan. Hampir setiap hari tab explore IG-ku menampilkan konten yang intinya; ketimbang jajan bobba atau kopi indie lebih baik berinvestasi ✨👌🏻. Semakin banyak investasi semakin banyak aset yang dimiliki, kurang lebih begitulah narasinya.
Berbanding terbalik denganku, orang tuaku lebih banyak mengajari tentang manajerial ketimbang investasi. Simple aja siya karena saat itu berinvestasi nggak semudah saat ini, kalau pun ada belum bisa menjangkau para #sobataverage 😁.
Untuk aset ayah sering bilang bahwa aset terbaik adalah manusia itu sendiri, maka berinvestasilah pada pendidikan, buku-buku, seminar dan (saat ini) kuota. OK sip ✔️. Sedang untuk aset fisik ayah lebih menyarankan tanah dan properti karena nilainya terus bertambah, nggak menyarankan aset liquid macem emas karena tahu aku sering lupa menyimpan barang 😅. Oh ya, jangan pernah menganggap kendaraan dan gadget sebagai aset karena nilainya akan berkurang.
Tapi pernah niya aku ditanya “Kalau sudah besar mbak ingin punya aset apa?” Hohoho tentcunya kujawab dengan “ingin punya villa” 🤣. Saat itu aku baru selesai belajar IPS mengenai 3 jenis kebutuhan hidup, yakni kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Nah, yang kutahu villa termasuk kebutuhan tersier, kupikir kalau kebutuhan hidupku suda mencapai kebutuhan tersier artinya kebutuhan primer dan sekunderku suda terpenuhi hahaha 🤣🤣🤣.
Kata ayah:
Kewajiban & Hak
Dahulukan membayar kewajiban baru kemudian mengambil hak, jangan kebalik ya. Salah satu hal yang diajarkan di sekolah diimplementasikan dengan baik di rumah adalah urusan tentang kewajiban dan hak, disimulasikan dengan sederhana melalui arisan keluarga.
Setiap harinya (senin sampai sabtu) kita menyisihkan Rp 100 per orang untuk arisan, untukku dan Widy sejujurnya urusan arisan ini agak mengganggu flow jajan sehari-hari makanya kadang suka nggak rela 😁 Menariknya, saat menang arisan kita senang nggak ada duwa. Arisan keluarga ini hanya berlangsung 2 putaran ya karena aku marah-marah mulu karena selalu menang di akhir. Takut pada nggak bayar guise… maklum masih amatir hehe 😅.
Tapi gegara arisan ini aku jadi lebih concern dengan urusan kewajiban dan hak, jadi setiap kali mendapatkan uang saku aku akan lebih dulu menyelesaikan kewajibanku macem bayar kas kelas dan membeli keperluan sekolah, kemudian budgeting, baru sisanya dipake jajan-jajan nggak jelas ❤️.
Kata ayah:
Cash Semampunya, Cicil Seperlunya
Ada 2 hal yang boleh dicicil, yang pertama adalah properti dan yang kedua adalah kendaraan. Oh ya, jangan pernah membeli barang yang mampu dibayar secara cash dengan cara dicicil, karena jatuhnya jadi lebih mahal, hal ini berlaku untuk semua hal kecuali properti dan kendaraan, terutama gadget dan fashion. Kalau nggak sanggup membelinya secara cash berarti aku mesti menabung, kalau nggak sanggup menabung berarti bukan untukku.
Yha! Intinya mah, aku disuruh rajin menabung 😌.
Kata Ayah:
Hidup Itu Mesti Seimbang
Sudah bisa ditebak ya zodiaknya adalah Libra ⚖️ 😆.
Kalau hari ini kita berbelanja di mall, bisa jadi hari yang akan datang kita berbelanja di pasar. Kalau hari ini kita makan di resto, bisa jadi hari yang akan datang kita makan di warung makan. kalau hari ini kita jalan-jalan ke luar kota, bisa jadi hari yang akan datang kita jalan kaki keliling kompleks. Yha~ hidup itu mesti seimbang. Sesuai budget ✨👌🏻.
Kata Mbak:
Uang Bukan Segalanya, Tapi Segalanya Akan Lebih Mudah Kalau Ada Uang, Itu Memang Benar. Tapi Aku Juga Nggak Akan Mati Hanya Karena Nggak Punya Uang
Mesti diakui bahwa financial wisdom yang kudapat semasa hidup ini memiliki peranan yang penting dalam (hidupku), aku bahkan memiliki tujuan finansialku sejak SMA. Yap. Apalagi kalau bukan financial stability 😎. Bayangan (atau angan-angan) mengenai financial stability membuatku memilih jurusan kuliah yang mengarahkanku pada profesi non-PNS atas dasar biar-cepet-balik-modal 😁.
Quarter life crisis yang kualami membuatku mempertanyakan lagi apakah financial stability masih menjadi tujuanku? Aku mulai merasa bahwa financial stability is not sexy anymore, at least for me… Aku menginginkan sesuatu yang lain, yang mampu mengisi kekosongan di hati dan membuatku kembali hidup. Disini jelas ya financial stability tercoret dari list-ku 😔.
Yang kulakukan selanjutnya adalah resign dari pekerjaan dan menghabiskan uang tabungan, hanya menyisakan saldo untuk auto debit DPLK dan BPJS kelas 1 selama 1 tahun. Kupikir hiatusku hanya 1 tahun, nyatanya malah molor sampai 3 tahun, gimana coba? Haha 😅 Kadang aku menyesali kegoblokan ini, apalagi kalau lagi bokek 😆.
I don’t have any idea about lyfe, tapi selama 3 tahun hiatus belum pernah sehari pun aku kekurangan (kalau merujuk pada 3 kebutuhan dasar manusia yakni papan, sandang dan pangan). Mungkin ini hidayah, namun aku mulai menyadari bahwa rezeki nggak selalu berbentuk fisik (uang). Kesehatan, kebaikan dan kebahagian hanyalah sebagian rezeki yang sebelumnya lupa kusadari 😇.
Uang bukan segalanya, tapi segalanya akan lebih mudah kalau ada uang, itu memang benar. Tapi aku juga nggak akan mati hanya karena nggak punya uang.
Kata Mbak:
Well Prepared Lebih Okcey
Honestly, aku sih okcey-okcey aja dengan hal yang bersifat spontan (selama masih bisa tertangani), tapi kalau boleh memilih aku lebih suka kalau semuanya well prepared, karena kupikir hal-hal tertentu akan lebih mudah dikendalikan ketika sudah siap. Salah satunya adalah tabungan tugas, well… bukan hanya kuliah yang butuh biaya, tugas juga, mana nggak bisa ditunda 🥺.
Saat kuliah tingkat 2 akhir aku mulai mempersiapkan tabungan tugas. Berkaca dari pengalaman 2 tingkat awal biaya tugas adalah hal terduga yang seringnya bikin kelabakan. Kalau dihitung kasar, biaya kos dan biaya tugas per semesternya nggak jauh berbeda (tergantung project yang dikerjakan). Aku memutuskan untuk menabung karena sadar nggak begitu lihai mengelola selisih BDATM 😌.
Aku membagi tabungan tugasku menjadi 2 bagian yakni tabungan tugas semester dan tabungan TA. Tabungan tugas semester digunakan untuk membiayai semua tugas UTS dan UAS, aku menargetkan sekitar Rp 500.000 – Rp 1.000.000 per semesternya. Sedang tabungan TA (yang rencananya) digunakan untuk membiayai TA-ku, karena masih belum jelas mau ngambil project apa aku menargetkan sekitar Rp 3.500.000 – Rp 5.000.000.
Untuk mencapai target tabunganku aku menyisihkannya dari uang bulanan, petty cash, THR atau korupsi performance budget (macem pakaian, sepatu, tas atau sekedar makan diluar). Betul apa kata sampul buku cokelat zaman SD dulu; sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit. Yuyur, aku merasa aman saat target tabunganku tercapai, karenanya aku bisa lebih fokus mengerjakan tugas yang bikin stress.
Kata Widy & Icung:
Jangan Lupa Menikmati Hidup
No caption needed 😊.
Sekian financial wisdom from us, jangan merasa berkecil hati apalagi galau karena setiap orang (nantinya) akan menemukan financial wisdom-nya sendiri. Kalau ingin mempelajari lebih jauh tentang urusan finansial nggak usah pusing karena saat ini suda banyak akun finplan yang rajin share tips dan mengadakan webinar berkala. Bebas…
Tapi kalau boleh aku menyarankan, financial wisdom terbaik datang dari inner circle, mereka yang dekat dan faham kecenderungan dan kebiasaan finansial kita sehari-hari. Jadi bisa niya luangkan waktu untuk ngobrol dengan orang tua, kakak atau adik, kakek dan nenek (kalau masih ada), para uwak, paman dan bibi, serta kawan terchayang. Mungkin aja nanti ada insight yang nyangkut hehe
Jangan lupa, menabung pangkal kaya.
Lestari