![]() |
| Kokoh di tepi Sungai Mempawah. Dibangun di masa kekuasaan kesultanan Mempawah, Masjid Jamiatul Khair masih kokoh berdiri hingga hari ini menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di Kabupaten Mempawah. |
Jamiatul Khair merupakan salah satu masjid tua di Kalimantan Barat,
masjid Jamiatul Khoir merupakan masjid kerajaan dari Kesultanan Mempawah di
Kabupaten Pontianak provinsi Kalimantan Barat. Pertama kali dibangun pada tahun
1906 oleh Panebahan Mempawah Mohammad
Atufik Akamaddin. Lokasi Masjid Jamiatul Khair tak jauh dari Keraton Amantubillah
kesultanan Mempawah. Bersama dengan Keraton Amantubillah, Masjid Jamiatul Khair
menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Mempawah.
Khair berdiri di tepian
sungai Mempawah. Ditempatkan
di pinggir sungai supaya memudahkan masyarakat menuju masjid, karena
pada saat itu sungai
dijadikan jalur transportasi utama untuk aktivitas masyarakat. Belum ada
pembangunan jalan raya dan lainnya. Lokasi masjid ini juga tidak jauh dari
Istana Amantubillah yang merupakan Istana Kerajaan Mempawah.
Propinsi Kalimantan Barat
Mempawah merupakan salah satu kabupaten di propinsi Kalimantan Barat dengan julukan
Bumi Galahherang. Sampai
tahun 2014 kabupaten ini masih bernama Kabupaten Pontianak, kemudian diganti
dengan nama Kabupaten Mempawah untuk membedakannya dengan Kota Pontianak, dan
dari sisi sejarah, Nama mempawah merupakan kerajaan yang pernah berkuasa di
daerah ini. Perubahan nama tersebut juga seiring dengan pemekaran kabupaten
tersebut dengan disyahkannya Kabupaten Landak dan menyusul kemudian Kabupaten
Kubu Raya sebagai Daerah Otonom Baru.
Mempawah memiliki luas 254,40 km, dengan ibukota pemerintahannya berada di kota
Kecamatan Mempawah. Kota ini terletak di jalur perdagangan antara Pontianak,
Singkawang dan Sambas. Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang di
sebelah Utara, Kabupaten Ketapang di bagian Selatan dan Laut Natuna di bagian
Barat dan dengan Kabupaten Landak di bagian Timur.
![]() |
| Masjid Jamiatul Khair tampak depan |
Mempawah pernah berdiri kerajaan pada abad 17 dan rajanya yang terkenal adalah Opu Daeng Menambon. Peninggalan sejarah kerajaan Mempawah
masih dapat kita saksikan sampai saat ini. Makam Opu Daeng Menambon terletak sekitar
5 km dari Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir. Beliau adalah raja Mempawah
yang pertama dengan gelar Pangeran Mas Surya Negara
yang wafat pada 26 Syafar 1175 Hijriah. Letak makamnya di atas bukit dan untuk
menuju ke atas dengan melewati anak tangga yang ada. Makam ini sering
dikunjungi masyarakat setempat pada hari Kamis dan Minggu.
Panembahan Menpawah Mohammad Atufik Akamaddin.
Masjid ini terletak tak jauh dari Keraton Amantubillah di tepian Sungai Mempawah. Masjid Jamiatul Khair sudah tiga kali
mengalami perpindahan tempat. Yakni di Kampung Brunai, Kampung Siantan dan
Kampung Pedalaman yang terletak di pinggir Sungai Mempawah. Masjid yang sekarang ini merupakan bangunan yang kedua,
karena masjid pertama pernah
terbakar
memudahkan masyarakat menuju masjid. Karena pada saat itu sungai dijadikan jalur
transportasi utama untuk aktivitas masyarakat. Belum ada pembangunan jalan raya
dan lainnya. Sejak
dulu hingga saat ini tidak terlalu banyak perubahan fisik bangunan masjid.
Bahkan dulunya, masjid memiliki pekarangan yang cukup luas dan sekelilingnya ditumbuhi pepohonan.
Tetapi sekarang tanahnya sudah dikavling dan berikan kepada kerabat keraton
untuk membangun rumah.
![]() |
| Interior Masjid Jamiatul Khair |
Amantubillah Mempawah. Setiap pengujung yang datang ke Istana Amantubillah
Mempawah, pasti menyempatkan berkunjung dan beribadah di masjid tersebut. Serta menikmati pemandangan indah
Sungai Mempawah. Keraton
Amantubillah didirikan oleh Raja Adidaya pada tahun
1961 dan beliau rnerupakan raja pertama dari Kerajaan Mempawah. Salah satu
peninggalannya adalah Keraton Amantubillah yang terletak di kelurahan
pedalaman, Kecamatan Mempawah Hilir. Keraton ini dibangun kembali oleh
Panembahan Mohd. Atufik Akamaddin pada 1922 karena bangunan lama habis
terbakar. Keunikan dalam keraton ini adalah terdapatnya Sigondah yang memiliki
banyak cerita keanehannya.
berkaitan dengan Kerajaan Mempawah, Syayid Al Habib Husein Al Qadry
bergelar Tuanku Besar di kerajaan itu. Beliau wafat Rabu, 3 Djulhijjah 1184 Hijriah
dan dimakamkan di Desa Sejeki, Kecamatan Mempawah Hilir. Pada masa Kerajaan
Mempawah beliau adalah seorang tokoh dalam menyebarkan agama Islam di bumi
Galahherang ini. Beliau juga tabib istana yang memiliki kesaktian mandraguna
sehingga banyak dibutuhkan masyarakat. Hingga kini makamnya banyak dikunjungi
masyarakat terutama pada hari besar Islam dan hari libur.
Jamiatul Khair merupakan salah satu masjid tertua di Mempawah. Masjid tersebut
selalu ramai dipenuhi jemaah baik untuk salat Jumat, Idulfitri maupun Iduladha.
Masjid tersebut memiliki panjang kurang lebih 40 meter dan lebar 30 meter.
Fondasi bangunan masjid menggunakan tongkat dari jenis belian. Dulunya bagian bawah atau kolong masjid
belum diberi dinding. Sekarang sudah disemen agar kolong tak terlihat.
Sedangkan bagian lantai masjid masih menggunakan papan belian. Secara
keseluruhan, masjid mampu menampung kurang lebih 800 orang jemaah.
![]() |
| Masjid Jamiatul Khair dari jembatan gantung sungai Mempawah |
masjid dilakukan perbaikan. Seperti atap masjid yang dulunya menggunakan atap
sirap dari belian, kini telah menggunakan atap seng, tapi bentuk aslinya masih
tetap dipertahankan. Bangunan masjid memiliki dua kubah, dengan atap paling
atas berbentuk limas. Dimana di atas kubah terdapat tempayan kendi, yang masih
dipertahankan. Bangunan masjid yang berwarna hijau tersebut, di setiap dinding
memiliki satu pintu dan empat jendela yang berfungsi mengatur sirkulasi udara.
pula pada bagian ruangan lainnya yang tetap dipertahankan untuk menjaga
keasliannya. Misalnya tiang atau pilar bangunan berjumlah empat buah termasuk
motif dan bentuk daun pintu serta jendela masjid. Dinding bangunan juga masih menggunakan papan belian.
Sedangkan atap masjid juga masih dipertahankan menggunakan atap sirap. Namun,
bagian luarnya dilapisi dengan atap seng. Juga ditambahkan dek pada bagian tengah masjid.
Agar, pantulan panas matahari tidak masuk ke dalam ruangan.
dalam masjid masih asli. Hanya atap
dan tiang bawah masjid
sudah dilakukan perbaikan. Dipertahankan
tempayan kendi di atas kubah masjid karena ada amanah dari Panembahan Mohammad
Taufik Akamadin, yang meminta tempayan kendi di atas kubah tetap dipertahankan. Bentuk bangunan juga tidak pernah di
ubah sesuai dengan amanah dari Panembahan Mohammad Taufik Akamadin.***
Juga
Sultan Kasimudin Bulungan – Kalimantan Utara
Raya Darussalam Samarinda – Kalimantan Timur
Shirothal Mustaqim, Samarinda – Kalimantan Timur
Islamic Center Samarinda – Kalimantan Timur
Agung Al-Karomah Martapura – Kalimantan Selatan
Sultan Suriansyah Banjarmasin – Kalimantan Selatan
Kyai Gede Kotawaringin – Kalimantan Tengah
Jami Sultan Syarif Abdurrahman – Kalimantan Barat
Jami’ Kraton Landak – Kalimantan Barat










































