saya nulisnya. Hari minggu yang cerah di Kota Samarinda. Seperti biasa cuma
bermalas-malasan di kantor. Namun tiba-tiba saya ingat perjalanan saya dengan
saudara saya Roni (kita) ke Pantai Pecaron pas lebaran kemarin.
dimana sih?
kecamatan Ayah Kebumen
kampung?
kemarin
Pecaron setelah pulang dari Pantai Menganti (tetanggaan nih pantai kan).
Pantai Pecaron atau nama terkenalnya Pantai Pecaron INDAH! Tapi jujur sih lebih
suka nama Pecaron saja daripada ada nama INDAH di belakangnya. Kesannya jadi
tidak alami dan terlalu pasaran. Pintu masuk Pantai Pecaron
dari jalan raya Ayah – Karangbolong berada di kiri jalan jika kamu berkendara dari arah Pantai Karangbolong dan kanan jalan jika kamu dari arah Pantai Ayah atau Pantai Menganti.
Ada satu jalan masuk sejenis gang di tepi kelokan tajam dan naik. Jika saya gak salah di sebelahnya terdapat warung/toko yang
juga tempat untuk tempat Foto Copy. Tidak usah bingung, diatas gang tersebut ada petunjuknya yakni ada spaduknya ‘gede’ bertuliskan
”Welcome to Pantai Pecaron INDAH”. Tapi waktu itu saya juga bingung
bertanya dengan si empunya toko yg sudah tua.
Pecaron berapa jauh dari sini?
mas.
parkirnya?
sampai pantai.
welcome.
gang menurun tersebut. Dan saat itu tahun 2013 jalannya jelek banget broh (ga tau sekarang). Jadi
jalannya itu sisa aspal yang sudah pecah dan mengelupas terutama di rute-rute awal. Di beberapa titik
malah batuan + turunan. Meski sempat slip roda motor saya akhirnya saya
memutuskan untuk turun dan jalan kaki menuruni jalan. Setelah jalan datar kita
melanjutkan perjalanan membelah perkampungan Desa Srati. Karena habis hujan
juga, jalanan jadi becek dan ‘grunjal-grunjul’. Tapi sepanjang jalan itu
ditemani aroma gula jawa yang semerbak wangi.
perkampungan dan semakin ke selatan, jalan makin mulus namun sempit. Dan kita
temukan pos pemungutan tiket. Tapi kemana orangnya?? Karean tidak ada penjaganya, kita bablas saja makin ke selatan. Pemandangan berubah
dari perkampungan menjadi perkebunan dan bukit tinggi menjulang dengan sungai yg ciamik di tengah
lembah (Jadi jalannya itu di antara dua perbukitan). Di beberapa titik jalan tertutup
longsoran, maklum habis hujan. Pemandangan yang amat menakjubkan menurut saya.
Bukit itu tinggi menjulang. Perbedaan yang kontras dengan dalamnya lembah di bawahnya. Jadi kemiringan lereng bukit tersebut memang sangat terjal. Setelah
menembus lahan yg juga dipenuhi ilalang akhirnya kita melihat laut dan suara debur ombak.
terputus dan menyambung ke jalan pasir basah setelah diguyur hujan. Terdapat
bangunan disana yang kosong dan sepi. Bangunannya mirip pelalangan ikan yang mangkrak. Puluhan pohon kelapa dengan
peralatan mengambil nira bergelantungan menjadi pemandangan pertama yang dilihat dan sekaligus paling diingat. Kemudian
kita memarkirkan sepeda motor di dekat bangunan tadi. Sempat bingung dan takut dengan keamanannya tetapi syukurlah ada petani nira sedang
beraktivitas. Setelah memarkirkan sepeda motor kita kemudian bergegas ke area Pantai.
sangat jelas terlihat dengan banyaknya sampah organik maupun non organik yg terbawa sungai ke pantai ini.
Di ujung muara, bangunan tanggul sungai terlihat rusak dan pecah terkena abrasi serta air pasang. Pantai Pecaron memiliki pasir hitam yang bercampur dengan bebatuan. Ditepi pantai yang lebih menjorok ke laut terdapat gugusan kecil karang.
pantai Pecaron dan Tanjung Karangbata dikejauhan, kita
bergegas pulang. Saat kita pulang, barulah pos tiket terlihat ada penjaganya. Mungkin beliau baru datang karena sebelumya tidak ada sepeda motor di dekat pos. Perjalanann dilanjutkan pulang ke kecamatan Alian. Perajalanan yang seru
dan menakjubkan. Meskipun jalannya jelek, tapi keindahan Pantai Pecaron mampu
membuat saya ketagihan untuk berkunjung kesana 😀






































