![]() |
| Disambut lembayung fajar saat tiba di Sumatera |
Dengan menyewa angkot setelah dua kali bernegosiasi, kami menuju Bandar Lampung. Menurut saya, tak ada yang nampak berbeda dari tanah Lampung ini dengan tanah Jawa. Banyak bangunan, jalan raya, debu, orang-orang yang bahasanya saya kenali (*bahasa jawa dan nasional), becak, dan tukang bakso! Mungkin yang saya lihat agak berbeda adalah angkot yang kami sewa, meski fisiknya tidak dimodif seperti yang ada di Padang, atau kota lain di Sumatera, angkot kami ini punya soundsystem yang mantep. Lumayan untuk mengisi kebosanan kami di jalan, karena angkot ini jalannya sangat lambat sampai kami jadi akrab meski ada beberapa diantara kami yang belum kenal. Saya pun jadi ikutan akrab sama Bang Doli, pak Supir *karena duduk di sebelahnya, hehe.
Perjalanan ke kota Bandar Lampung ditempuh hampir dua jam, kami mampir sarapan nasi uduk di pasar. Sudah jauh sampe Sumatera, sarapan yang sama seperti di rumah. Mungkin saya harus ke Palembang, propinsi yang berada di atas Lampung supaya tau rasanya berada di tanah Sumatera kali ya. Hehe.. Karena petualanganku di pulau Sumatera takkan berhenti hanya di Lampung saja!








































