beriman adalah melakukan muhasabah, introspeksi atau evaluasi diri tentang apa
yang telah dilakukannya. Sungguh Allah Ta’ala telah memerintahkan kita semua
dalam perkara ini sebagaimana firman-Nya :
اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ
ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh
Allah Mahateliti terhadap yang kamu kerjakan. (Q.S al Hasyr 18).
PANGKAL DALAM HAL MUHASABAH DIRI. Setiap haruslah selalu mengintrospeksi diri.
Jika melihat adanya kekeliruan segera menyelesaikannya (memperbaikinya, pen.)
dengan cara melepaskan diri dari kekeliruan itu. Bertaubat secara sungguh
sungguh dan berpaling dari hal hal yang mengantarakan kepada kekeliruan
tersebut.
SEKENANYA DALAM MENUNAIKAN PERINTAH PERINTAH ALLAH TA’ALA, maka dia akan
(bersegera) mengerahkan segala kemampuannya dengan memohon pertolongan pada
Rabb-nya untuk mengembangka dan menyempurnakannya. Serta membandingkan antara
karunia dan kebaikan Allah Ta’ala yang diberikan kepadanya dengan kemalasannya.
Karena hal itu mengharuskannya merasa malu (kepada Allah Ta’ala). Kitab Tafsir
Taisir Karimir Rahman.
mengingatkan kita tentang satu TANDA ORANG YANG PANDAI adalah orang yang
senantiasa melakukan muhasabah. Beliau bersabda : “Orang yang pandai
adalah orang yang menghisab (mengintrospeksi, mengevaluasi) dirinya
sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang
lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap
Allah Subhanahu wa Ta’ala”. (H.R Imam at Tirmidzi).
dalam berbagai bidang kehidupan yang serba modern, serba canggih dan serba
cepat, adu cepat bahkan rebutan dalam urusan dunia maka kebanyakan manusia
(seolah olah) tidak punya waktu lagi untuk melakukan muhasabah.
diperoleh orang orang yang senantiasa melakukan muhasabah terhadap dirinya.
Diantaranya adalah :
muhasabah terhadap apa yang telah diucapkan dan apa yang telah diperbuatnya
akan memiliki potensi yang kuat untuk selalu menjaga diri dari berbagai
keburukan. Ini akan meringankan bebannya menghadapi hisab di akhirat kelak.
at Tirmidzi dari Umar bin Khaththab, dia
berkata : Hisablah (amal perbuatan) diri kalian sebelum kalian dihisab !.
Timbanglah (amal pebuatan) diri kalian sebelum kalian ditimbang !. Perhitungan
kalian kelak (di akhirat) akan lebih ringan di karenakan telah kalian
perhitungkan diri kalian pada hari ini (di dunia).
menghadapi hari ditampakkannya perbuatan. Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Rabb kalian). Tiada
sesuatupun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah). Demikian nasehat Umar bin Khaththab.
kekurangan dirinya. Dan yang lebih buruk lagi adalah jika dia tidak pernah lupa
dengan aib orang lain. Sungguh ini adalah musibah besar. Diantara cara agar
terhindar dari musibah ini adalah dengan senantiasa melakukan introspeksi,
evaluasi diri atau muhasabah.
menundukkannya karena Allah termasuk sifat ash shiddiqin dan seorang yang
mendekat kepada Allah dengan cara seperti itu berlipat kali lebih baik dari
pada ia mendekat kepada Allah dengan amalannya (Ighatsul Lahfan).
akan muncul sifat malu kepada Allah atas keburukan yang pernah diucapkan dan
pernah diperbuatnya. Diantara manfaat lain adalah bahwa jika seseorang
membiasakan diri menjaga rasa malu kepada Allah Ta’ala maka rasa malu itu akan
menghalanginya untuk melakukan perbuatan buruk. Pada gilirannya rasa malu
itu akan menjadi kebiasaan, tabiat dan perangainya sehingga menjadikannya
juga malu kepada manusia dan akhirnya mencegah dirinya melakukan
perbuatan buruk terhadap sesama.
urusan akhirat.
dunia ini untuk persiapan akhiratnya. Ini adalah buah dari muasabah yang
senantiasa dilakukannya setiap saat. Berkata Ibnu Mas’ud : Barangsiapa yang
ingin akhirat maka ia akan disusahkan oleh dunia. Dan siapa yang ingin dunia
maka dia akan disusahkan oleh akhirat. Maka susahlah untuk sesuatu yang fana
(dunia) untuk mendapatkan yang baqa (akhirat).
senantiasa melakukan muhasabah, evaluasi ataupun introspeksi diri terhadap apa
yang dia dikatakan dan apa yang dia lakukan. Dengan demikian dia akan berusaha
memperbaiki apa yang kurang pada diri dan ibadahnya serta semakin mendorongnya
untuk melakukan kebaikan. Insya Allah
ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.766)





































