الله الرحمن الرحيم
shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para
sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
pengantar ilmu Balaghah agar kita mengetahui tingginya sastra Al Qur’an, semoga
Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
suatu gagasan dengan berbagai macam redaksi.
Isti’arah, dan Kinayah.
adalah menyamakan sesuatu dengan yang lain karena adanya sifat yang sama antara
keduanya dengan menggunakan huruf atau kata tertentu. Sesuatu yang disamakan
disebut musyabbah, sedangkan yang lain yang disamakan dengannya disebut musyabbah
bih. Sifatnya disebut wajah syabah, sedangkan huruf atau kata yang
digunakan disebut adah seperti huruf kaf yang artinya seperti. Inilah
ruku-rukun tasybih. Contoh:
petunjuk.
‘nur’ (cahaya) disebut musyabbah bih, huruf ‘kaaf’ disebut adah
syabah, sedangkan kata ‘hidayah’ disebut wajah syabah.
tasybih yang susunannya memuat semua rukun tasybih. Contoh:
keindahannya.
yaitu tasybih yang dibuang adah tasybih. Contoh:
keindahannya.”
tasybih yang dibuang wajah syabah, seperti:
itu seperti bunga.”
tasybih yang dibuang adah syabah dan wajah syabah, contoh:
bukan sebenarnya karena ada hubungan dan qarinah (tanda) yang mencegah dari
arti yang asli. Contoh:
(kata-kata yang fasih).
الدُّرَر
” atau mutiara adalah majazi; bukan hakiki.
menjadikan jari-jari mereka ke dalam telinga.” (Qs. Al Baqarah: 19)
adalah ujung jari; bukan semua jarinya.
‘Aqli dan Majaz Mursal
Aqli adalah
penyandaran fi’il (k. kerja) kepada fa’il (pelaku) yang bukan sebenarnya,
tetapi dia bisa sebagai sebab, waktu, maf’ul, atau fa’il.
sebagai sebagai sebab,
apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, maka ayat-ayat itu menambah iman mereka,” (Qs. Al Anfaal: 2)
“ زَادَتْ
” kepada ayat adalah penyandaran bukan kepada fa’il yang sebenarnya,
karena yang menambahkan iman mereka adalah Allah Azza wa Jalla.
sebagai waktu,
شِيبًا
bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada
hari yang menjadikan anak-anak beruban.” (Qs. Al Muzzammil: 17)
sebagai fa’il,
الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا
apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang
yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup.” (Qs. Al Isra’: 45)
‘mastuuraa’ menggantikan fa’il ‘saatiraa’ (yang menutupi).
sebagai maf’ul,
janji Allah itu pasti akan ditepati.” (Qs. Maryam: 61)
‘ma’tiyya’ mengganti kata ‘aatin’ (datang).
Mursal adalah penggunaan kata yang bukan untuk makna sebenarnya karena adanya
hubungan antara makna hakiki dan makna majazi yang tidak serupa dan disertai
adanya qarinah yang tidak membolehkan memahami makna tersebut dengan makna
aslinya.
Majaz Mursal,
menurunkan untukmu rezeki dari langit. (Qs. Ghafir: 14)
ini diterangkan, bahwa yang diturunkan dari langit adalah rezeki, padahal yang
diturunkan adalah air, yang dengan air ini tumbuh-tumbuhan hidup dan menjadi
rezeki bagi kita, tetapi disebut langsung dengan rezeki. Inilah majaz mursal,
yakni penggunaan majaz pada kata.
majaz mursal terletak pada kata yang digunakan tidak secara hakiki, sedangkan
majaz aqli pada penyandaran yang bukan sebenarnya, wallahu a’lam.
(kesamaan). Contoh firman Allah Ta’ala,
mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang.” (Qs. Ibrahim: 1)
kegelapan karena adanya kesamaan tidak adanya petunjuk.
isti’arah yang dihilangkan musyabbah, namun disebutkan musyabbah bih. Contoh:
pertempuran itu.
singa.
isti’arah yang musyabbah bih dihilangkan, dan disebutkan musyabbahnya. Contoh:
mereka berdua.” (Qs. Al Israa’: 24)
biasa dipakai untuk burung, namun burung –sebagai musyabbah bih- tidak
disebutkan.
dan Taba’iyyah.
berupa isim yang bukan musytaq, seperti kata “
اَلظَّلاَمُ
” (kegelapan) untuk arti “ اَلضَّلاَلُ ” (kesesatan), dan kata
“ النُّور ” (cahaya) untuk arti “
اَلْهُدَى
” (petunjuk).
musytaq (hasil tasrif). Contoh:
berutang.
sempurna.
Murasysyahah dan Isti’arah Mujarradah.
isti’arah yang disebutkan di dalamnya kata yang sesuai musyabbah bih. Contoh
firman Allah Ta’ala,
dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka.” (Qs. Al Baqarah: 16)
sedangkan penyebutan untung dan perniagaan adalah murasysyahah.
isti’arah yang di dalamnya disebutkan kata yang sesuai musyabbah. Contoh firman
Allah Ta’ala,
kelaparan dan ketakutan.”
yang menimpa merata ketika lapar dan takut. Sedangkan kata ‘merasakan’ adalah mujarradah.
adalah lafaz yang maknanya tidak sesuai zhahirnya. Contoh:
النِّجَادِ
adalah
اْلقَامَةِ
kaitannya dinamakan talwih. Contoh:
الرَّمَادِ = كَرِيْمٌ
membakar, dan banyak membakar menunjukkan banyak masak, dan banyak masak
menunjukkan banyak tamunya, sehingga ia sering memberi (dermawan).
disebut Iema atau isyarah, tetapi jika tersembunyi disebut ramz.
berdasarkan siyaq atau konteks pembicaraan. Ini disebut ta’ridh (sindiran),
seperti perkataan seseorang kepada orang yang berbahaya,
النَّاسِ مَنْ يَنْفَعُهُمْ
Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
bin Musa
Maraji’:
Maktabah Syamilah versi 3.45, Qawa’idul
Lughatil Arabiyyah (Hifni Bek Dayyab, dkk.), Hidayatul
Insan bitafsiril Qur’an (Penulis),
https://www.alukah.net/sharia/0/103195/ , https://mawdoo3.com/الأساليب_البلاغية_في_اللغة_العربية#. , http://www.3refe.com/vb/showthread.php?t=225470 , http://kertugas.blogspot.com/2018/01/majaz-aqli-dalam-ilmu-balagah-kata.html, l.
Dll.




































