puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah,
keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Umdatul Ahkam karya Imam Abdul Ghani Al Maqdisi (541 H – 600 H) rahimahullah.
Semoga
Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan kitab ini ikhlas karena-Nya dan
bermanfaat, Allahumma aamin.
perak atau sebaliknya)
رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -: ((الذَّهَبُ بِالْوَرِقِ رِبًا , إلاَّ هَاءَ
وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِباً , إلاَّ هَاءَ وَهَاءَ. وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ
رِباً , إلاَّ هَاءَ وَهَاءَ)) .
Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda, “Emas ditukar dengan perak itu jatuh ke dalam riba
kecuali serah terima langsung, gandum dengan gandum juga jatuh ke dalam riba
kecuali serah terima langsung, demikian pula makanan pokok sya’ir dengan sya’ir
jatuh ke dalam riba kecuali serah terima langsung.”
اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ((لا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إلاَّ
مِثْلاً بِمِثْلٍ. وَلا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ. وَلا تَبِيعُوا الْوَرِقَ
بِالْوَرِقِ إلاَّ مِثْلاًّ بِمِثْلٍ. وَلا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ. وَلا
تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِباً بِنَاجِزٍ)). وَفِي لَفْظٍ ((إلاَّ يَداً بِيَدٍ)) . وَفِي
لَفْظٍ ((إلاَّ وَزْناً بِوَزْنٍ , مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ)) .
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah menjual emas
dengan emas kecuali seimbang, dan jangan kalian lebihkan sebagiannya di atas
yang lain. Janganlah menjual perak dengan perak kecuali seimbang, dan jangan
kalian lebihkan sebagiannya di atas yang lain, dan janganlah menjual barang yang
hadir dengan barang yang ditangguhkan.” Dalam sebuah lafaz disebutkan, “Kecuali
langsung serah terima.” Dalam lafaz lain disebutkan, “Kecuali harus seimbang
dan sama.”
بِلالٌ إلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِتَمْرٍ بَرْنِيِّ فَقَالَ لَهُ
النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم -: مِنْ أَيْنَ لَكَ هَذَا؟ قَالَ بِلالٌ: كَانَ عِنْدَنَا
تَمْرٌ رَدِيءٌ , فَبِعْتُ مِنْهُ صَاعَيْنِ بِصَاعٍ لِيَطْعَمَ النَّبِيُّ – صلى الله
عليه وسلم -. فَقَالَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – عِنْدَ ذَلِكَ: أَوَّهْ ,
أَوَّهْ , عَيْنُ الرِّبَا , عَيْنُ الرِّبَا , لا تَفْعَلْ. وَلَكِنْ إذَا أَرَدْتَ
أَنْ تَشْتَرِيَ فَبِعْ التَّمْرَ بِبَيْعٍ آخَرَ. ثُمَّ اشْتَرِ بِهِ)) .
berkata, “Bilal pernah datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
dengan membawa kurma Barni (jenis yang bagus), lalu Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bertanya kepadanya, “Dari mana engkau dapatkan kurma ini?” Bilal
menjawab, “Kami punya kurma yang jelek, lalu aku jual dua sha’ kurma kurang yang
jelek itu dengan satu sha’ kurma yang bagus agar dimakan Nabi shallallahu
alaihi wa sallam, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aduh. Aduh!
Inilah riba yang sesungguhnya. Inilah riba yang sesungguhnya. Jika engkau
hendak membeli kurma yang bagus, maka juallah kurma sebelumnya dengan bayaran
lain (selain kurma), lalu engkau beli kurma (yang bagus) itu dengannya (selain
kurma).”
وَزَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ , عَنْ الصَّرْفِ؟ فَكُلُّ وَاحِدٍ يَقُولُ: هَذَا خَيْرٌ مِنِّي.
وَكِلاهُمَا يَقُولُ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ بَيْعِ الذَّهَبِ
بِالْوَرِقِ دَيْناً)) .
kepada Al Barra bin Azib dan Zaid bin Arqam tentang sharf (penukaran emas
dengan perak atau sebaliknya), maka masing-masing mereka menyatakan, “Dia lebih
baik dariku,” (menyuruh yang lain menjawab) dan kedua-duanya mengatakan, “Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam melarang menjual emas dengan perak dengan cara
utang.”
اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ الْفِضَّةِ بِالْفِضَّةِ , وَالذَّهَبِ بِالذَّهَبِ
, إلاَّ سَوَاءً بِسَوَاءٍ , وَأَمَرَنَا: أَنْ نَشْتَرِيَ الْفِضَّةَ بِالذَّهَبِ
, كَيْفَ شِئْنَا. وَنَشْتَرِيَ الذَّهَبَ بِالْفِضَّةِ كَيْفَ شِئْنَا. قَالَ: فَسَأَلَهُ
رَجُلٌ فَقَالَ: يَدًا بِيَدٍ؟ فَقَالَ: هَكَذَا سَمِعْتُ)) .
shallallahu alaihi wa sallam melarang menjual perak dengan perak dan emas
dengan emas kecuali sama. Beliau memerintahkan kami membeli perak dengan emas
sesuai yang kami inginkan atau emas dengan perak sesuai yang kami inginkan,” lalu
ada seorang yang bertanya, “Apakah secara langsung (serah-terima)?” Ia Menjawab,
“(Ya) Demikianlah yang aku dengar.”
الله عليه وسلم – اشْتَرَى مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَاماً , وَرَهَنَهُ دِرْعاً مِنْ حَدِيدٍ))
.
shallallahu alaihi wa sallam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dan
menggadaikan kepadanya baju besinya.
– صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ((مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ. فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ
عَلَى مَلِيءٍ فَلْيَتْبَعْ)) .
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Penundaan pembayaran orang
yang mampu adalah kezaliman. Jika piutangmu dipindahkan kepada orang yang
mampu, maka terimalah.”
اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَوْ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم
– يَقُولُ -: ((مَنْ أَدْرَكَ مَالَهُ بِعَيْنِهِ عِنْدَ رَجُلٍ – أَوْ إنْسَانٍ –
قَدْ أَفْلَسَ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ مِنْ غَيْرِهِ)) .
shallallahu alaihi wa sallam bersabda, –atau Abu Hurairah berkata, “Aku
mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,- “Barang siapa yang
menemukan hartanya ada pada orang lain atau pada seseorang yang telah bangkrut,
maka dia lebih berhak daripada yang lain.”
– وَفِي لَفْظٍ: ((قَضَى النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – بِالشُّفْعَةِ فِي كُلِّ
مَا لَمْ يُقْسَمْ. فَإِذَا وَقَعَتِ الْحُدُودُ , وَصُرِّفَتِ الطُّرُقُ: فَلا شُفْعَةَ))
.
bin Abdullah radhiyallahu anhuma ia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam
menjadikan atau menetapkan syuf’ah (keberhakan sekutu daripada yang lain untuk
membeli) pada sesuatu yang belum dibagi. Jika sudah ditentukan batasnya dan diatur/dipisah
jalan-jalannya, maka tidak ada syuf’ah.”
أَصَابَ عُمَرُ أَرْضاً بِخَيْبَرَ. فَأَتَى النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – يَسْتَأْمِرُهُ
فِيهَا. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ , إنِّي أَصَبْتُ أَرْضاً بِخَيْبَرَ , لَمْ
أُصِبْ مَالاً قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْهُ , فَمَا تَأْمُرُنِي بِهِ؟ فَقَالَ:
إنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا , وَتَصَدَّقْتَ بِهَا. قَالَ: فَتَصَدَّقَ بِهَا. غَيْرَ
أَنَّهُ لا يُبَاعُ أَصْلُهَا , وَلا يُوهَبُ , وَلا يُورَثُ. قَالَ: فَتَصَدَّقَ عُمَرُ
فِي الْفُقَرَاءِ , وَفِي الْقُرْبَى , وَفِي الرِّقَابِ , وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ
, وَابْنِ السَّبِيلِ , وَالضَّيْفِ. لا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا: أَنْ يَأْكُلَ
مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ , أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقاً , غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ)) .
وَفِي لَفْظٍ: ((غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ)) .
berkata, “Umar mendapatkan tanah di Khaibar, lalu ia mendatangi Nabi
shallallahu alaihi wa sallam meminta pandangan Beliau terhadapnya, maka Umar
berkata, “Wahai Rasulullah, aku mendapatkan tanah di Khaibar yang sebelumnya tidak
pernah kudapatkan harta yang lebih berharga daripada itu, maka apa saran engkau
terhadapnya?” Beliau bersabda, “Jika engkau mau, engkau tahan asalnya (tanah
itu) dan engkau bersedekah dengannya,” maka Umar bersedekah dengannya, dan
tanah itu tidak dijual-belikan asalnya, tidak dihibahkan, dan tidak diwarisi,”
lalu Umar menyedekahkannya kepada kaum fakir, kerabat, untuk membantu
memerdekakan budak, fi sabilillah, ibnussabil (musafir yang kehabisan bekal),
dan tamu, dan tidak mengapa bagi pengurusnya untuk memakan daripadanya secara
wajar atau memberikan makanan kepada temannya namun dengan tidak menyimpan sebagai
miliknya.” Dalam sebuah lafaz disebutkan, “Tidak mengumpulkan harta (memperkaya
diri).”
فِي سَبِيلِ اللَّهِ , فَأَضَاعَهُ الَّذِي كَانَ عِنْدَهُ , فَأَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِيَهُ
, فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَبِيعُهُ بِرُخْصٍ. فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم
-؟ فَقَالَ: لا تَشْتَرِهِ. وَلا تَعُدْ فِي صَدَقَتِكَ , وَإِنْ أَعْطَاكَهُ بِدِرْهَمٍ.
فَإِنَّ الْعَائِدَ فِي هِبَتِهِ كَالْعَائِدِ فِي قَيْئِهِ)) .
menyedekahkan seekor kuda di jalan Allah kepada seorang pejuang, lalu orang itu
menyia-nyiakannya, maka aku ingin membelinya, dan aku mengira ia akan
menjualnya dengan harga yang murah, maka aku bertanya kepada Nabi shallallahu
alaihi wa sallam tentang hal itu, Beliau pun menjawab, “Jangan kamu beli, dan
jangan tarik lagi sedekahmu meskipun dia menghargainya hanya satu dirham,
karena orang yang menarik kembali sedekahnya seperti orang yang menelan kembali
muntahnya.”
– وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ، كَالْعَائِدِ فِيى قَيْئِهِ”.
وَفِي لَفْظٍ: “فَإِنَّ الَّذِى يَعُوْدُ فِي صَدَقَتِهِ كَالْكَلْبِ [يَقِئُ
ثُمَّ] يَعُوْدُ فِي قَيْئِهِ”.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang menarik kembali
hibah(pemberian)nya adalah seperti orang yang menelan kembali muntahnya.” Dalam
sebuah lafaz disebutkan, “Sesungguhnya orang yang menarik kembali sedekahnya
seperti anjing yang muntah lalu menelan kembali muntahnya.”
Nabiyyinaa Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa







































