al A’laa ayat pertama, yaitu :
ataupun shalat sunnah. Ketahuilah bahwa ada shalat yang Rasulullah biasa membaca surat
al A’laa, meskipun tidak selalu, diantaranya :
surat al A’la dalam shalat ini :
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ
رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ
membaca di dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at dengan: Sabbihisma
Rabbikal a’la dan al hal ataaka haditsul ghasyiyah. (H.R Imam Muslim).
membaca surat al A’laa pada rakaat pertama, surat al Kafirun pada rakaat kedua,
surat al Ikhlas pada rakaat ketiga, sebagaimana hadits berikut ini :
الله عليه وسلم يوتر بسبح اسم ربك الأعلى وقل يا أيها الكافرون وقل هو الله أحد
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat witir dengan membaca
(Sabbihisma rabbikal a’laa),dan (Qul yaa ayyuhal kafirun), dan (Qul huwallahu
ahad).” (HR. an Nasai’i dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)
dimaksud bukanlah sesuatu yang sifatnya wajib.
ayat pertama surat al A’laa ini ada beberapa penjelasan dari para ulama
sebagai berikut :
:
Syaikh as Sa’di berkata : Allah Ta’ala memerintahkan para hamba untuk
memaha-sucikan-Nya (dengan melakukan hal hal) yang mencakup dzikir, ibadah,
tunduk dan patuh terhadap keagungan Allah serta merendah karena keagungan-Nya.
yakni dengan menyebut nama-Nya yang baik lagi tinggi diatas setiap nama dengan
maknanya yang agung. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).
: Syaikh Utsaimin berkata :
sucikanlah Allah Ta’ala dari segala sesuatu yang tidak layak bagi kemuliaan dan
keagungan-Nya. Sebab kata at tashbih maknanya me-mahasucikan Allah. Apabila
engkau mengucapkan “subhanallah” maknanya berarti aku me-mahasucikan Allah dari
segala keburukan, aib dan kekurangan.
Pengatur segala urusan. Siapa saja yang mengakui hal ini, maka tidak boleh
menyembah selain Allah, sebagaimana yang diisyaratkan dalam beberapa ayat,
diantaranya :
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S al
Baqarah 21).
Dia.
Mahatinggi diambil dari kata al ‘uluww (tinggi). Kemahatinggian Allah Ta’ala
ada dua jenis :
sifat yang maha sempurna hanyalah milik Allah Ta’ala. Allah Ta’ala
berfirman :
(Q.S an Nahal 60).
Allah Ta’ala berada diatas seluruh hamba-Nya dan bersemayam di atas ‘Arsy.
Seorang insan apabila berseru : Yaa Allah !. Ke arah manakah ia akan menghadap
?. Tentu ia akan menengadahkan wajahnya ke langit, yakni ke atas.Jadi, Allah
Ta’ala berada diatas segala sesuatu, bersemayam di atas ‘Arsy.
Allah Ta’ala : Sabbihihisma rabbikal A’laa, maka camkanlah dalam hatimu
bahwa Allah maha tinggi Sifat-Nya dan maha tinggi Dzat-Nya. (Tasir Juz ‘Amma).
Wallahu A’lam. (1.344)







































