الله الرحمن الرحيم
Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah,
keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
kiamat, amma ba’du:
pembahasan tentang kiat istiqamah di jalan Allah, semoga Allah menjadikan
penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
kenikmatan surga, azab neraka, dan mengingat kematian
kenikmatan, hiburan bagi orang-orang yang bersedih, tempat pijakan akhir
perjalanan kaum mukmin. Di samping itu, jiwa biasanya tidak mau berkorban dan
beramal serta istiqamah di atasnya kecuali dengan balasan yang menghilangkan
semua kelelahan, sehingga semua rintangan itu terasa mudah.
yang Allah siapkan akan terasa ringan memikul beratnya beban, ia tahu bahwa
jika ia tidak istiqamah maka dirinya akan kehilangan surga yang luasnya seluas
langit dan bumi, di samping itu jiwa manusia butuh sesuatu yang mengangkat
dirinya dari tanah ke alam yang berada di atas yang lebih baik dan lebih utama.
shallallahu alaihi wa sallam, Beliau mengingatkan surga untuk meneguhkan hati
para sahabatnya. Disebutkan dalam hadits hasan shahih, bahwa Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam pernah melewati Yasir, Ammar, dan Ummu Ammar (Sumayyah)
yang disiksa di jalan Allah, maka Beliau bersabda,
آلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ
Bersabarlah wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepadamu
adalah surga.” (Hr. Hakim, lihat takhrij Fiqhus Sirah oleh Syaikh Al
Albani)
kepada kaum Anshar,
سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الحَوْضِ»
keadaan mengutamakan diri sendiri, maka bersabarlah sampai kalian menemuiku di
haudh (telaga).” (Hr. Bukhari dan Muslim)
nanti di kubur, di padang mahsyar, saat dihisab, saat amal ditimbang, saat
melintasi shirath, dan peristiwa-peristiwa di akhirat membantu seseorang untuk
istiqamah di atas agama Allah.
kematian yang bisa saja menjemputnya tiba-tiba. Hal ini juga dapat membantunya
untuk istiqamah. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,
ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ»
dunia (maut).” (Hr. Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah, dinyatakan hasan shahih
oleh Al Albani)
Istiqamah dan Sabar
Di
saat terdapat fitnah
berupa harta, kedudukan, istri, anak, dsb.
Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ
(75) فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ
(76) فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا
اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (77)
berikrar kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian
karunia-Nya kepada Kami, pastilah Kami akan bersedekah dan pastilah Kami
termasuk orang-orang yang saleh.–Maka setelah Allah memberikan kepada mereka
sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling.
Mereka memang orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).–Maka Allah
menimbulkan kemunafikan kepada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui
Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka
ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.”
(Qs. At Taubah: 75-77)
Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا
تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ
أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap
keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena)
mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang
hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya
dan keadaannya itu melewati batas.” (Qs. Al Kahf: 28)
atas, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ
عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»
tengah-tengah kambing tidaklah lebih berbahaya daripada rakusnya seseorang
terhadap harta dan kedudukan yang membahayakan agamanya.” (Hr. Tirmidzi dan
Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap
mereka.” (Qs. At Taghabun: 14)
bahwa kadang-kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya
untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.
wa sallam bersabda,
مَحْزَنَةٌ
pengecut, bakhil, dan membuatnya sedih.” (Hr. Abu Ya’la, dishahihkan oleh Al
Albani dalam Shahihul Jami no. 7160)
termasuk pula fitnah penindasan dan kezaliman, lihat misalnya di surat Al Buruj
ayat 4-9 tentang As-habul Ukhdud.
dengan sanadnya yang sampai kepada Khabbab radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kami
pernah mengeluh kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat Beliau
berbantalkan kain selimut di bawah naungan Ka’bah, “Tidakkah engkau memohon
pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami? Maka
Beliau bersabda,
يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ، فَيُجْعَلُ فِيهَا، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ
فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الحَدِيدِ،
مَا دُونَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، فَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ
ditangkap lalu dibuat galian untuknya, kemudian ia dimasukkan ke dalamnya, lalu
disiapkan geregaji dan diletakkan di kepalanya, kemudian ia dibelah menjadi dua
bagian. Ada pula yang disisir dengan sisir besi antara tulang dan dagingnya,
namun hal itu tidak memalingkannya dari agamanya.” (Hr. Bukhari)
yang merupakan fitnah dunia yang sangat besar. Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda tentangnya,
فِي الْأَرْضِ، مُنْذُ ذَرَأَ اللَّهُ ذُرِّيَّةَ آدَمَ، أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ
sejak Allah ciptakan keturunan Adam yang lebih besar daripada fitnah Dajjal.”
(Hr. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Hakim, dan Adh Dhiya, Shahihul Jami no.
2970)
sallam pernah bersabda tentang keadaan hati ketika menghadapi fitnah,
الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا،
نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ
بَيْضَاءُ ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا
تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا
كَالْكُوزِ، مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا
مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ»
tikar yang menempel di rusuk sehelai demi sehelai. Hati siapa saja yang
menerimanya, maka akan ditempeli titik hitam, sedangkan hati yang
mengingkarinya, maka akan ditempeli titik putih sehingga keadaan hatinya
terbagi dua; dalam keadaan putih seperti batu yang licin yang tidak dibahayakan
oleh fitnah selama masih ada langit dan bumi, sedangkan hati yang satu lagi
hitam legam seperti cangkir cubung yang miring yang tidak mengenal lagi yang
ma’ruf serta tidak mengingkari yang munkar, kecuali hanya menurutkan hawa
nafsunya.” (Hr. Muslim)
Di
saat jihad
berfirman,
إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا
kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu.”
(Qs. Al Anfaal: 45)
besar adalah pergi meninggalkan pertempuran.
wa sallam sempat membawa tanah di punggungnya dalam perang Khandaq sambil
melantunkan kalimat ini bersama kaum mukmin,
لاَقَيْنَا
bertemu musuh.” (Hr. Bukhari)
Teguh
di atas manhaj
berfirman,
صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ
مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di
antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang
menunggu-nunggu sedang mereka tidak merubah (janjinya),”
(Qs. Al Ahzaab: 23)
Teguh
saat akan meninggal dunia
dihalangi dari keteguhan saat akan meninggal dunia, sehingga mereka tidak
sanggup mengucapkan dua kalimat syahadat saat sekarat, padahal yang demikian
merupakan tanda su’ul khatimah.
mengucapkan Laailaahaillallah, namun ia malah menggelengkan kepalanya
tanda menolaknya, ada juga yang saat disuruh mengucapkan kalimat tauhid, ia
malah mengucapkan kata-kata yang biasa diucapkannya terkait dunia, dan ada pula
yang malah menyebutkan berbagai permainan yang biasa dimainkannya, dan ada yang
malah menyanyikan lagu yang biasa dia nyanyikan wal iyadz billah. Bahkan tanda-tanda su’ul khatimah itu
terkadang tampak dalam diri mereka, seperti hitamnya wajah atau terciumnya bau
busuk, wa laa haula walaa quwwata illa billah.
maka Allah memberi mereka taufik dengan keteguhan di saat akan meninggal dunia,
sehingga sanggup mengucapkan kalimat syahadat. Terkadang tampak dari mereka
wajah yang berseri, aroma yang harum, atau kebahagiaan saat hendak keluar
ruhnya.
diberi taufik oleh Allah untuk tetap istiqamah di saat akan meninggal dunia.
Dialah Imam Abu Zur’ah Ar Razi, salah seorang ulama Ahli Hadits.
sekretaris Abu Zur’ah berkata, “Kami menghadiri Abu Zur’ah di Masyahran sebuah
kampung di Ray saat ia akan meninggal dunia. Ketika itu di hadapannya ada Abu
Hatim, Ibnu Warrah, Mundzir bin Syadzan, dan lainnya. Ketika itu mereka
menyebut hadits tentang talqin “Ajarilah orang akan meninggal di antara kalian
dengan Laailaahaillah” mereka malu mentalqin Abu Zur’ah, lalu mereka berkata,
“Ayo kita sebut haditsnya!” Ibnu Warrah berkata, “Telah menceritakan kepada
kami Abu Ashim, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja’far, dari
Shalih. Saat itu Ibnu Abi hendak melanjutkan namun tidak ia lanjutkan, maka Abu
Hatim berkata, “Telah menceritakan kepada kami Bundar, telah menceritakan
kepada kami Abu Ashim, dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih, namun ia juga
tidak melanjutkan. Yang lain pun diam, maka Abu Zur’ah saat akan meninggal
dunia dengan mata terbuka berkata, “Telah menceritakan kepada kami Bundar,
telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, telah menceritakan kepada kami Abdul
Hamid, dari Shalih bin Abi Gharib, dari Katsir bin Murrah, dari Mu’adz bin
Jabal ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»
Laailaahaillallah, maka ia akan masuk surga.”
A’lamin Nubala 13/76-85)
shahbihi wa sallam.
Maraji: Wasa’iluts Tsabat ala
Dinillah (Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid), Maktabah Syamilah
versi 3.35, dll.






































![[Lirik+Terjemahan] Yanagi Nagi – Kazakiri (Angin)](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2026/01/YanagiNagi-KazakiriLyricsTranslation.jpg?fit=400%2C396&ssl=1)
