الرحيم
shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para
sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
tentang kiat istiqamah di jalan Allah, semoga Allah menjadikan penyusunan
risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
agar jiwa semakin kuat dan mulia hendaknya ia terjun di medan dakwah yang
merupakan tugas para rasul. Allah bersama para da’i, Dia meneguhkan dan
mengarahkan langkah mereka. Seorang da’i seperti dokter yang memerangi penyakit
dengan pengalaman dan ilmunya, sehingga dia lebih jauh daripada yang lain dari jatuh
ke dalam penyakit itu.
istiqamah lainnya
para ulama, orang-orang saleh, dan para da’i. Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,
مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ
مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ
الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى
يَدَيْهِ»
menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Ada pula yang
menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Sungguh bahagia
orang yang Allah jadikan kunci kebaikan pada kedua tangannya, dan sungguh rugi
orang yang Allah jadikan kunci keburukan pada kedua tangannya.” (Hr. Ibnu
Majah, dihasankan oleh Al Albani)
fitnah, namun Allah teguhkan kaum muslimin melalui beberapa orang.
berkata, “Allah memuliakan agama ini melalui Abu Bakar Ash Shiddiq pada hari
terjadinya kemurtadan, dan melalui Imam Ahmad pada hari mihnah (terjadinya
cobaan).”
“Saat kami berada dalam kekhawatiran, bersangka buruk terhadap diri kami, dan
bumi yang kami datangi terasa sempit, maka kami menjumpai beliau (Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah) dan menyimak ucapannya, lalu semua kerisauan itu hilang,
dan dada kami berubah menjadi lapang, kuat, yakin, dan tenang. Maka Mahasuci
Allah yang telah menghadirkan surga-Nya kepada hamba-hamba-Nya sebelum berjumpa
dengan-Nya, membukakan untuk mereka pintu-pintunya di tempat beramal ini. Dia
juga memberikan kepada mereka rasa nyaman surga itu, anginnya, dan kebaikannya,
yang membuat mereka mencurahkan kemampuannya untuk mengejar surga dan
berlomba-lomba kepadanya.” (Al Wabilush Shayyib hal. 97)
dan bahwa kemenangan itu untuk Islam
butuh keteguhan yang kuat lagi agar kaki ini tidak tergelincir setelah
kokohnya. Allah Ta’ala berfirman,
قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146)
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا
فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
(147) فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ
يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148)
mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi
lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan
tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang
sabar.–Tidak ada doa mereka selain ucapan, “Ya Tuhan kami, ampunilah
dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami,
tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.”–
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik
di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Qs. Ali
Imran: 146-148)
ketika hendak meneguhkan hati para sahabat yang ditindas menyampaikan kepada
mereka bahwa masa depan milik Islam. Disebutkan dalam hadits Khabbab bin Art,
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ
إِلَّا اللَّهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ
sehingga orang yang berkendaraan melakukan perjalanan dari Shan’a ke Hadhramaut
tidak takut selain kepada Allah, atau khawatir srigala terhadap kambingnya.”
(Hr. Bukhari)
tidak tertipu olehnya
الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ
kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri.” (Qs. Ali
Imran: 196)
peneguhan untuk mereka. Dan dalam firman Allah Azza wa Jalla,
الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ
النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَال
(bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu
yang tidak ada harganya; sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia
tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Qs. Ar
Ra’d: 17)
terhadap kebatilan serta menyerah kepadanya.
membantu untuk tetap istiqamah
sabar. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam menyatakan, bahwa tidak ada pemberian yang diberikan kepada
seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. Dan kesabaran yang
paling kuat adalah pada benturan pertama.
“Aku melihat ada orang tua yang usianya mendekati delapan puluh tahun, dimana
sebelumnya ia biasa menjaga shalat berjamaah, namun kemudian cucunya meninggal
dunia, tetapi ia malah berkata, “Tidak patut bagi seseorang berdoa lagi, karena
Dia tidak akan mengabulkan.” Na’udzubillah min dzalik.
perang Uhud, Allah memberikan pengajaran kepada mereka dengan firman-Nya,
مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ
أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (165)
(pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat
kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, “Darimana
datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu
sendiri,” sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Ali
Imran: 165)
mereka, berselisihnya mereka, serta mendurhakai perintah Rasul shallallahu
‘alaihi wa sallam setelah mereka melihat harta di hadapan mereka.
Wasiat orang yang saleh
membersihkan dirinya atau mengangkat derajatnya termasuk hal yang membantu
seseorang tetap istiqamah adalah Allah mengadakan untuknya seorang laki-laki
saleh yang menasihatinya dan menguatkannya, sehingga Allah memberikan manfaat
dengan nasihat itu dan mengarahkan langkahnya. Nasihat itu biasanya mengandung
mengingatkannya kepada Allah, mengingatkan terhadap hari pertemuan dengan-Nya,
mengingatkan surga dan neraka-Nya.
dalam keadaan terbelenggu, dimana sebelumnya ia telah diancam dengan ancaman
yang keras, sehingga seorang pelayan berkata kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu
Abdillah, terasa berat bagiku ketika Al Ma’mum telah menghunus pedangnya yang
sebelumnya tidak ia hunus, bahkan ia bersumpah dengan kerabatnya yang bersambung
kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahwa jika engkau tidak
memenuhi permintaannya mengatakan Al Qur’an makhluk, maka dia akan membunuhmu
dengan pedang itu.” (Al Bidayah wan Nihayah 1/332).
berpandangan tajam tentu segera mengambil kesempatan menemui imam mereka untuk
menguatkannya. Dalam As Siyar karya Imam Adz Dzahabi (11/238)
disebutkan, dari Abu Ja’far Al Anbari ia berkata, “Aku diberitahukan saat Imam
Ahmad dibawa menghadap Al Ma’mun, maka aku menyeberangi sungai Eufrat, ternyata
beliau dalam keadaan duduk di sebuah tempat penginapan, lalu aku memberinya
salam, ia berkata, “Wahai Abu Ja’far, engkau tampak kelelahan?” Aku menjawab,
“Wahai imam, engkau sekarang adalah pemimpin. Orang-orang ikut kepadamu. Demi
Allah, jika engkau memenuhi permintaannya mengatakan Al Qur’an adalah makhluk,
maka orang-orang akan menyatakan demikian. Namun jika engkau tidak memenuhi
permintaannya, maka orang-orang tidak akan menyatakan demikian. Meskipun
begitu, jika orang itu tidak membunuhmu, maka engkau akan mati, dan itu adalah
hal yang pasti. Maka bertakwalah kepada Allah dan jangan penuhi permintaannya.”
Imam Ahmad pun menangis dan berkata, “Masya Allah.” Lalu berkata, “Wahai Abu
Ja’far, ulangi lagi kata-kata itu.” Aku pun mengulangi lagi, dan ia hanya
berkata, “Masya Allah.”
disebutkan, “Seorang Arab badui berkata kepada Imam Ahmad, “Wahai fulan, engkau
adalah delegasi manusia, maka jangan mengecewakan mereka. Hari ini engkau
adalah imam, maka hindarilah memenuhi permintaan mereka sehingga engkau
menanggung dosa mereka pada hari Kiamat. Jika engkau cinta kepada Allah, maka
bersabarlah di atas keadaanmu ini, karena tidak ada penghalang antara dirimu
dengan surga selain terbunuh.”
yang menguatkan pendirianku sehingga aku tidak memenuhi permintaan mereka.” (Al
Bidayah wan Nihayah 1/332).
pemuda yang ikut merasakan cobaan seperti yang dialaminya, yaitu Muhammad bin
Nuh, “Aku tidak pernah melihat seorang yang usianya muda dan muda pula ilmunya
namun lebih sabar memegang perintah Allah seperti halnya Muhammad bin Nuh. Aku
berharap Allah menutup kehidupannya dengan kebaikan. Suatu hari ia berkata
kepadaku, “Wahai Abu Abdillah, bertakwalah kepada Allah! bertakwalah kepada
Allah! Sesungguhnya engkat tidak seperti diriku. Engkau adalah orang yang
diikuti. Manusia melihat dirimu karena keadaanmu, maka bertakwalah kepada Allah
dan tetaplah di atas perintah Allah.” Ia kemudian meninggal dunia, aku pun
menyalatkannya dan menguburkannya.” (Siyar A’lamin Nubala 11/242).
wasiat itu sebelum engkau berangkat safar! Carilah wasiat itu di saat engkau
mendapat cobaan. Carilah wasiat itu di saat engkau mendapat jabatan atau
mendapatkan harta dan kekayaan.
a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa
sallam.
bin Musa
Maraji: Wasa’iluts Tsabat ala
Dinillah
(Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid), Maktabah Syamilah versi 3.35,
dll.





































