malam adalah pertanda yang sangat jelas
bahwa umur kita telah berkurang satu hari. Hal itu berjalan terus selama kita ada di dunia. Tak ada
manusia yang bisa menghambat. Dengan demikian
semakin dekat waktunya kita untuk
diwafatkan Allah Ta’ala. Sementara itu persiapan kita berupa amal shalih masih
perlu dipertanyakan.
adalah sebagai suatu nikmat. Ketika umur mereka berkurang satu tahun lalu disambut dengan gembira. Berbagai ucapan
selamat diterima, salam salaman bahkan ada pula yang sampai cium pipi kiri
kanan meskipun bukan mahram.
acara pesta, tiup lilin, makan minum berlebihan, juga ada musik serta nyanyian,
tarian, sorak sorai, tepuk tangan dan
yang lainnya. Kegiatan ini umumnya diberi judul merayakan ulang tahun.
umurnya berkurang sedangkan amalnya tidak bertambah. Abdullah bin Mas’ud berkata : Tidaklah aku
menyesal atas sesuatu seperti penyesalanku terhadap matahari yang tenggelam
pada hari ini. USIAKU BERKURANG TETAPI AMALKU TIDAK BERTAMBAH. (Aina Nahnu min
Haa’ula’).
yang sangat berharga. Jagalah waktumu yang mulia. Ketahuilah bahwa masa hidupmu
terbatas, nafasmu terbilang. Setiap nafas akan mengurangi bagian umurmu. Itu
sangat singkat dan tersisa hanya
sedikit. Setiap bagian umurmu adalah mutiara yang sangat mahal. Tidak ada
tandingan dan penggantinya.
kenikmatan yang abadi atau atau adzab yang pedih. Maka janganlah engkau sia
siakan mutiara umurmu yang berharga ini dalam perkara yang bukan ketaatan.
(Ghidzaa-ul Albaab).
anugerah umur dari Allah Ta’ala haruslah digunakan melakukan amal amal kebaikan
sebagai bekal di akhirat kelak. Sungguh umur yang diperoleh seorang hamba akan
dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
seorang hamba ketika hari Kiamat kelak hingga ia ditanya : (1) Tentang
umurnya untuk apa ia habiskan. (2) Tentang ilmunya untuk apa dia amalkan.
(3) Tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan. (4) Tentang
badannya untuk apa dia letihkan. (H.R Imam at Tirmidzi, dishahihkan oleh
Syaikh al Albani dalam Silsilah Hadits Shahih).
menyia nyiakan umur yang diberikan kepadanya dan sangatlah beruntung orang
orang melakukan amal kebaikan sehingga dia menjadi sebaik baik manusia.
hasuna ‘amaluhu, wa syarrunnaasi man thaala ‘umuruhu wa saa-a ‘amaluhu” Sebaik baik manusia adalah siapa yang panjang
umurnya dan baik amalnya, dan seburuk buruk manusia adalah siapa yang panjang
umurnya dan buruk amalnya. (H.R Imam Ahmad, at Tirmidzi dan al Hakim.
Dishahihkan oleh Syaikh al Albani)
Termasuk tanda berpalingnya Allah Ta’ala dari seorang hamba yaitu Dia akan
menjadi kesibukan hamba tersebut dalam perkara yang tidak bermanfaat, sebagai
bentuk penghinaan terhadapnya. (Jami’ul Ulum wal Hikam).
Imam Ibnul Qayyim tentang memanfaatkan waktu dan memanfaatkan sisa umur. Beliau
berkata : Seorang hamba sejak menginjakkan kakinya di dunia ini maka ia
ibaratnya orang yang sedang berjalan menuju Rabb-nya. Jarak perjalanannya
adalah umurnya.
menjalaninya hingga safarnya berakhir. Dan orang yang cerdas adalah yang selalu
bersemangat untuk menempuh jarak safar ini dalam perkara yang bisa mendekatkan
diri kepada Allah hingga sampai ke negeri asalnya. (Thariq al Hijratain).
menyibukkan diri dalam segenap kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, atau
segala sesuatu yang menunjang pendekatan diri kepada Allah Ta’ala berupa makan,
minum, menikah, tidur dan istirahat karena barangsiapa mengambil perkara
tersebut dengan niat agar kuat mengerjakan perkara yang Allah cintai dan
menjauhi perkara yang terlarang maka hal itu termasuk bentuk pemanfaatan waktu
yang baik. (Madarijus Saalikin).
tentang menggunakan waktu untuk di
dunia. Beliau berkata : Manusia ada dua golongan. (1) Orang berbekal selama d
dunia, dan (2) Orang yang selalu (mencari) dan merasakan kenikmatan dunia.
perkara tersebut. Aku melihat dirimu senang untuk hidup kekal di dunia. Lalu
dengan alasan apa engkau senang hidup kekal di dunia ?.
kepada-Nya, mendekatkan diri dengan amal amal shalih maka engkau menjadi orang
yang beruntung.
bermain main dan mengumpulkan (harta) dunia dan mengembangkannya ?. Lalu kemudian
memberi kesenangan untuk (diri), anak
anak dan istrimu ?. Maka alangkah buruknya tujuan hidup seperti itu.
(Shafwatush Shafwah).
shalih sebagai bekal untuk kembali ke negeri asal kita yaitu surga-Nya. Insya
Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.239).






































