الله الرحمن الرحيم
Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada
Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya
hingga hari kiamat, amma ba’du:
tentang bagaimana menerjemahkan bahasa Arab dengan baik, semoga Allah
menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma
amin.
diartikan dengan menerangkan kata atau kalimat berbahasa asing
ke dalam bahasa yang biasa digunakan. Bisa juga diartikan dengan mengalih-bahasankan dari suatu bahasa ke bahasa yang lain.
dalam tiga macam:
Disebut juga siyaghat bi alfazhin ukhra
(mengungkapkan sebuah kata atau kalimat dengan kata-kata berbeda dalam
bahasa yang sama). Contoh: kata ‘ لَزِمَ ‘ diartikan dengan ‘
ثَبَتَ وَدَامَ ‘ (artinya: tetap).
berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia:
أَحْمَدُ الرِّسَالَةَ
Ahmad menulis surat.
menerjemahkan kata ‘kepala’, ‘mata’ atau ‘pedang’ dengan menyuguhkan gambar-gambar
kepala, mata, atau pedang.
Bahasa
prakteknya, penerjemahan antar bahasa, seperti dari bahasa Arab ke dalam bahasa
Indonesia terbagi ke dalam beberapa macam:
kata-perkata. Terjemah ini biasa digunakan untuk pemula yang baru belajar
bahasa Arab agar ia dapat mengetahui arti sebuah kata dan menambah
perbendaharaan kata.
perlu diketahui, bahwa susunan bahasa Arab dengan bahasa Indonesia berbeda,
sehingga jika disusun menjadi sebuah kalimat menjadi tidak enak dibaca dan
didengar.
urutan kata dalam sebuah kalimat berbahasa Indonesia terdiri dari Subjek +
Predikat + Objek, akan tetapi susunan kalimat berbahasa Arab biasanya terdiri
(diawali) dari Fi’il (Predikat) + Subjek (Fa’il) + Maf’ul bih (Objek), yakni
kata kerja lebih didahulukan daripada fa’il (pelaku).
perhatian dalam terjemah ini adalah maksud atau makna (inti) dari suatu
kalimat.
adalah, bahwa kalimat terjemahannya tidak tampak seperti dari bahasa lain, enak
dibaca dan didengar, menarik pembaca, mengandung sastra, dsb.
الشُّرْفَةَ جِيْئَةً وَذُهُوْبًا, وَالرّسَالَةُ فِي يَمِيْنِي وَقَدْ هَاجَتْ
فِي تَفْسِي عَاطّفَةُ الذِّكْرَى لِأَيَّامِ رِقَاقٍ, قَضَيْتُهَا نَاعِمَ الْبَال
خَلِيَّ الْفُؤَادِ وَرَأَيْتُ إِلَى الرِّسَالَةَ فَوَقَعَتْ عَيْنِيْ عَلَى قَوْلِ
الصَّدِيْقِ “إِنَّنَا مُقْبِلُوْنَ عَلَى أَيَّامِ طُمَأْنيْنَة وَأَمَانٍ
berjalan mondar-mandir di beranda. Surat itu kugenggam dalam tanganku,
sementara dalam hatiku bergejolak emosi kenangan hari-hari indah yang
kulewatkan dengan hati riang dan tanpa beban. Kupandangi surat itu, dan
terbacalah kata-kata sang kawan, “Kami sedang menyongsong hari ketenangan dan
kedamaian.”
dengan adanya perubahan atau penyesuaian, dimana terkadang maksudnya agar lebih
mudah dipahami, atau hendak mengambil point pentingnya saja, atau karena hal
lain.
Maksudnya terjemah yang juga merupakan tafsir dan penjelas terhadap kalimat asing tersebut.
Dalam terjemah ini tidak diperhatikan kata-perkata, bahkan perhatiannya lebih
tertuju kepada memperjelas maksud teks, sehingga tidak meninggalkan pertanyaan ‘apa maksudnya?’ di
kalangan pembaca.
diperhatikan dalam menerjemah
perlu diperhatikan oleh para penerjemah, yaitu:
mampu mengungkapkan makna yang sebenarnya dari teks asli (mengungkapkan maksud
penulis).
terjemahan harus tetap menjaga keaslian gaya bahasa teks aslinya (memperhatikan
kelembutan atau ketegasan, sastra, ciri khas penulis dalam mengungkapkan, dsb.).
Dimiliki Dalam Menerjemahkan
beberapa modal yang perlu dimiliki dalam menerjemahkan, di antaranya:
Menguasai bahasa asli (yang nantinya akan diterjemahkan).
Menguasai tata bahasa. Misalnya dalam bahasa Arab, tata bahasanya adalah Nahwu
dan Sharaf.
Lebih baik lagi menguasai ilmu sastra atau Balaghah.
bahasa yang hendak diterjemahkan kepadanya (bahasa target). Demikian pula menguasai tata bahasanya. Misalnya kita hendak menerjemahkan teks berbahasa Arab ke
bahasa Indonesia, maka kita harus menguasai tata bahasa Idonesia, seperti mengetahui
Ejaan Yang Disesuaikan (EYD) atau ejaan yang berlaku, penyusunan kalimat yang
benar, penggunaan tanda baca, dsb.
menggunakan kalimat yang memperjelas maksudnya. Hal itu, karena maksud dari
penerjemahan adalah menerangkan kata atau kalimat; jangan sampai membingungkan pembaca.
Melihat contoh-contoh hasil terjemah orang lain.
Menerjemahkan Yang Baik
dalam menerjemahkan yang baik:
teks atau buku yang hendak diterjemahkan agar mendapatkan gambaran umum atau
pesannya.
tarjamah harfiyyah atau kata-perkata, karena berbeda susunan bahasa lain dengan
susunan bahasa kita.
pagi-pagi sudah membawa persoalan.
السَّيْفُ الْعَذَلَ ’ artinya: Nasi sudah menjadi bubur.
Mengerti suasana hati penulisnya atau semangat bahasanya.
amanah ilmiyyah, yakni menerjemahkan apa adanya, tanpa memberikan
tambahan. Jika kita hendak memberikan catatan, maka kita harus menunjukkan
bahwa itu tambahan dari kita.
beberapa cabang atau disiplin ilmu, terutama jika buku yang hendak kita
terjemahkan berkenaan dengan suatu cabang atau disiplin ilmu, maka kita harus
memahami istilah-istilah yang digunakan dalam disiplin ilmu tersebut, agar kita
dapat menerjemahkan dan menerangkan istilah-istilah yang digunakan dalam buku
tersebut.
hasil terjemahan seakan-akan bukan dari bahasa asing, bahkan seakan-akan
tulisan itu dari bahasa kita, karena susunannya mengikuti bahasa kita.
Memilih kata-kata yang biasa digunakan dalam tulisan, bukan kata-kata dalam
percakapan sehari-hari yang tidak digunakan dalam bahasa tulisan.
Menggunakan bahasa yang halus, tidak menggunakan bahasa yang kasar.
Membaca kembali hasil terjemahan.
Penulisan Yang Benar Dalam Bahasa Indonesia
benar sesuai EYD (Ejaan yang disesuaikan):
jumat, khotbah, khusyuk, maaf, mubazir, nasihat, rezeki, uzur, Alquran, risiko,
kaus, saksama, dsb.
Kapital (Besar):
berkenaan dengan nama Tuhan dan kitab suci, misalnya: Allah Yang Mahakuasa, aku
hamba-Mu, dan agamaku Islam.
kehormatan, keturunan, keagamaan, dan pangkat yang diikuti nama orang atau
penggantinya, misalnya: Imam Abu Hanifah, Nabi Ibrahim, dan Sekretaris Jenderal
Deplu.
misalnya: Ahmad Nafi.
bangsa, dan bahasa, kecuali jika dipakai sebagai bentuk dasar kata keturunan,
misalnya: …memakai bahasa Arab sebagai…dan menjawakan.
hari, hari raya, dan nama peristiwa sejarah, misalnya: hari Jumat, Perang Uhud.
geografi, misalnya: Gunung Uhud, Danau Toba.
penulisan nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, misalnya:
“Perjalanan Menuju Mekah.”
hubungan kekerabatan yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan, misalnya: Para
bapak mengunjungi Bapak Abdulah.
pangkat, dan sapaan, misalnya: Dr., M.Sc., dan Sdr., Perserikatan
Bangsa-Bangsa, Anda.
dalam kalimat biasa digunakan untuk nama buku, majalah, dan surat kabar.
Misalnya: surat kabar Solopos. Demikian pula digunakan untuk nama ilmiah
atau ungkapan asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya, misalnya: Oriza
Sativa, politik devide et impera, kudeta (dari coup d’etat).
yang benar:
ditandatangani, di masjid, dibesar-besarkan, lauk-pauk, ibu-bapak,
belasungkawa, olahraga, hamba-Nya, si kecil, se-Indonesia, adapun, per meter, kg, Rp, ABRI, MPR, Bappenas,
rudal, di bawah, di antara, kerja sama, berkembang biak, terima kasih, tanda
tangan, orang tua, bertanggung jawab, di kemudian hari, antarsekolah,
antarteman, kacamata, fotokopi, diperhatikan, pancausaha, minimarket,
tunanetra, waswas, ekstrakurikuler, dipertanggungjawabkan.
bilangan:
perempat, seperenam belas, dua pertiga, kedua, ke-2, 200 juta, 12.00, 12.345
orang.
digunakan di akhir kalimat, singkatan nama orang, singkatan gelar, dan
singkatan sapaan.
Nashir Al Aql, Bpk.
digunakan ketika kalimat yang satu masih terkait dengan kalimat selanjutnya,
dan pada contoh-contoh di bawah ini:
tetapi hari hujan.
sekali,” kata ibu,
1438 H
pandai sekali.
kata Bu Guru.
dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setera.
Contoh:
di kebun; ibu sibuk bekerja; adik menghapal hadits.
belum selesai juga.
dagangannya belum juga terjual.
biasa dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti rangkaian. Contoh:
STDI mempunyai dua jurusan: Ilmu Hadits dan Syariah.
biasa dipakai untuk menyambung unsur-unsur kata ulang. Misalnya: anak-anak,
berulang-ulang, dsb.
biasa dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan
di luar bangun utama kalimat.
–saya yakin- dapat dicapai setelah kita berusaha keras sambil berdoa dan
bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla.
digunakan di akhir kalimat tanya. Misalnya: Kapan dia berangkat?
biasa digunakan di akhir kalimat perintah atau larangan, atau pernyataan kaget.
Misalnya: Bacalah Al Quran! Jangan ghibahi fulan! Alangkah mulianya para
sahabat!
digunakan untuk menerangkan maksud suatu kata atau singkatan. Contoh: kitab ini
ditahqiq (diteliti) oleh Syaikh…
([…]), biasa digunakan untuk tambahan penjelasan dalam tanda kurung.
Contoh: Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di bab II [lihat
halaman 35-38]) perlu dibahas di sini.
biasa digunakan untuk mengapit pembicaraan, mengapit judul, karangan, atau bab
dalam sebuah kalimat. Contoh:
alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling baik di antara kalian adalah
orang yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.”
Tauhid” dalam buku Aqidatut Tauhid karya Dr. Shalih Al Fauzan.
tunggal (‘…’), biasa digunakan untuk mengapit makna, terjemahan,
atau penjelasan kata, atau ungkapan asing. Contoh: feed-back ‘balikan’.
biasa dipakai sebagai ganti kata tiap, per, atau sebagai tanda bagi dalam
pecahan dan rumus matematika.
dsb.
shahbihi wa sallam.
Natsir)
Maraji’: Buku Pintar Menerjemah Arab-Indonesi (Nur
Mufid dan Kaserun), https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_penulisan_tanda_baca , dll.







































![[Lirik+Terjemahan] AKB48 – Ruby](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2026/01/20130124_akb48_solong_typea.jpg?fit=400%2C351&ssl=1)
